Produk Perikanan Kaltim Tembus Pasar 12 Negara, Jepang hingga Amerika Serikat
- account_circle admin
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 10
- print Cetak

SAMARINDA – Nilai ekspor udang Kalimantan Timur mencapai Rp274,74 miliar sepanjang Januari hingga Juli 2026. Dari total volume ekspor sebesar 1.385,88 ton, udang windu menjadi salah satu komoditas unggulan yang menopang perdagangan hasil perikanan daerah ke pasar internasional.
Penelaah Teknis Kebijakan Bidang Perikanan, Budidaya, dan Penguatan Daya Saing Produk Perikanan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kalimantan Timur, Heliana, mengatakan sektor perikanan menunjukkan kinerja positif sepanjang 2026.
Berdasarkan data DKP, volume ekspor perikanan Kaltim pada triwulan pertama 2026 atau Januari hingga Maret mencapai 670,3 ton. Sementara pada September 2026, ekspor perikanan tercatat sebanyak 360,32 ton dengan nilai Rp65,39 miliar.
Heliana menjelaskan, udang windu menjadi salah satu penyumbang utama nilai ekspor perikanan Kaltim. Komoditas tersebut mencatatkan volume ekspor sebesar 769,9 ton dengan nilai mencapai Rp173,3 miliar.
“Berdasarkan data yang disampaikan, udang windu menyumbang sekitar 77 persen dari nilai ekspor yang dihitung dalam kategori tersebut,” ungkapnya saat menjadi pembicara terkait ketahanan sektor perikanan Kaltim di tengah El Nino, belum lama ini.
Menurut Heliana, produk perikanan asal Kaltim telah menjangkau sekitar 12 negara tujuan ekspor. Jepang, Amerika Serikat, Tiongkok, dan Malaysia menjadi pasar utama yang relatif stabil menyerap produk perikanan dari daerah tersebut.
Selain empat negara itu, produk perikanan Kaltim juga dipasarkan ke Taiwan, Singapura, Vietnam, Hong Kong, Inggris, Korea Selatan, dan Arab Saudi.
Aktivitas perdagangan internasional tersebut turut ditopang konektivitas logistik. Salah satunya melalui penerbangan kargo langsung dari Balikpapan menuju Wenzhou, Tiongkok, yang beroperasi dua kali setiap pekan.
Keberadaan jalur pengiriman tersebut menjadi salah satu akses distribusi produk perikanan Kaltim menuju pasar internasional.
Selain udang windu, Kaltim memiliki potensi pengembangan komoditas perikanan lainnya. Ikan kerapu yang banyak dibudidayakan di Kabupaten Berau menjadi salah satu komoditas yang berpeluang dikembangkan untuk memperkuat sektor perikanan daerah.
Di sisi lain, pemerintah juga mendorong pengembangan kawasan pesisir melalui program Kampung Nelayan yang menjadi bagian dari kebijakan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Di Kalimantan Timur, tiga lokasi disebut telah masuk dalam program tersebut. Ketiganya adalah Loa Kulu di Kabupaten Kutai Kartanegara, Sepatin di Kabupaten Paser, serta Maratua di Kabupaten Berau.
Heliana mengatakan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur terus berupaya memperkuat sektor kelautan dan perikanan melalui kerja sama dengan pelaku usaha, akademisi, kelompok pembudidaya ikan, dan nelayan tangkap.
Kolaborasi tersebut diarahkan untuk meningkatkan daya saing produk perikanan, memperkuat pembinaan pelaku usaha, sekaligus membuka ruang bagi aspirasi masyarakat yang menggantungkan penghidupan pada sektor kelautan.
Pemerintah daerah juga mendorong pengembangan ekonomi biru melalui pemanfaatan sumber daya kelautan dan perikanan sebagai salah satu sumber pertumbuhan ekonomi.
“Melalui kolaborasi dan sinergi yang dibangun bersama, kami berharap dapat menumbuhkan sistem ekonomi baru, yaitu ekonomi biru, yang memiliki potensi besar di Kalimantan Timur melalui pemanfaatan sumber daya kelautan dan perikanan,” tutupnya. (afn)
- Penulis: admin
