Ikan Nila Mati Mendadak di Sungai Segah, Dinas Perikanan Ambil Sampel di Sejumlah Titik
- account_circle admin
- calendar_month 12 menit yang lalu
- visibility 4
- print Cetak

TANJUNG REDEB – Dinas Perikanan Kabupaten Berau menurunkan tim untuk menelusuri penyebab kematian ikan secara mendadak di Sungai Segah. Sampel air diambil dari sejumlah titik, termasuk kawasan budidaya keramba di sekitar Sungai Bujangga.
Kepala Dinas Perikanan Berau Abdul Majid mengatakan laporan mengenai kematian ikan diterima pihaknya lebih awal. Tim kemudian membawa peralatan untuk melakukan pemeriksaan awal terhadap kualitas air sungai.
“Kita juga dapat laporan lebih cepat daripada DLHK. Dan tim sudah membawa alat untuk pengukuran kualitas air, tapi secara kimiawi belum ada,” tutur Kepala Dinas Perikanan Berau, Abdul Majid saat dikonfirmasi Selasa (8/9).
Berdasarkan temuan sementara di lapangan, ikan yang mati didominasi jenis nila. Dinas Perikanan kemudian memperluas pengambilan sampel untuk membandingkan kondisi air pada sejumlah lokasi.
Salah satu lokasi yang menjadi perhatian berada di dekat gorong-gorong di kawasan Sungai Bujangga. Di sekitar kawasan tersebut terdapat pembudidaya ikan menggunakan keramba.
“Diantara kiri kanan itu kan ada pembudi daya ikan keramba, dan ada gorong-gorongnya. Otomatis kan itu kan kalau keluar masuk, entah itu limbah rumah tangga atau limbah lainnya, kita tidak tahu. Artinya asumsi saja, ya kan? Karena kita ambil sampling di kiri kanan itu tidak ada kematian, hanya di dekatnya yang pas keluar masuknya gorong-gorong itu,” bebernya.
Temuan itu membuat tim menelusuri kemungkinan adanya aliran limbah yang masuk melalui saluran tersebut. Meski demikian, Dinas Perikanan belum menyimpulkan penyebab kematian ikan karena pemeriksaan kimiawi terhadap kualitas air masih diperlukan.
Pemeriksaan awal juga menunjukkan salinitas air masih nol sehingga indikasi intrusi air laut belum ditemukan di lokasi tersebut. Kondisi air yang kotor kemudian memunculkan dugaan sementara adanya kontaminasi, termasuk kemungkinan limbah amoniak.
“Nanti kalau secara teknisnya bisa langsung ke bagian bidang budi daya. Itu berapa salinitasnya karena tim masih di lapangan,” pungkasnya. (Aafn)
- Penulis: admin
