Berau Sempat Catat Suhu Tertinggi di Indonesia, Kemarau Diprediksi Bertahan hingga Akhir September
- account_circle admin
- calendar_month 39 menit yang lalu
- visibility 5
- print Cetak

BERAU — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat wilayah Kabupaten Berau masih mengalami cuaca panas, minim hujan, serta munculnya asap dan kabut yang mempengaruhi jarak pandang.
Kepala Stasiun BMKG Berau, Ade Heryadi, mengatakan berdasarkan hasil pengamatan terkini, keberadaan asap masih terpantau di sejumlah wilayah.
Dari pemantauan di kawasan Bandara Kalimarau, jarak pandang tercatat berkisar antara 2 hingga 4,5 kilometer. Kondisi udara juga disertai kabut, asap, serta fenomena haze atau udara kabur akibat partikel-partikel kering halus yang melayang di udara.
Kondisi tersebut terpantau sejak pagi hingga malam hari.
BMKG juga mencatat suhu udara di Berau mencapai 37,8 derajat Celsius. Angka itu bahkan sempat menjadi salah satu suhu tertinggi yang tercatat di Indonesia.
Sementara arah angin bergerak bervariasi dari timur laut hingga barat laut dengan kecepatan sekitar 0–11 kilometer per jam.
Ade mengatakan masyarakat yang berada di wilayah terdampak asap perlu meningkatkan kewaspadaan, salah satunya dengan menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan dan terus mengikuti perkembangan informasi cuaca dari BMKG.
Menurut dia, kondisi panas dan minimnya curah hujan di Berau dipengaruhi dinamika atmosfer serta sisa pengaruh El Nino yang masih terasa.
Meski demikian, BMKG belum mengategorikan kondisi tersebut sebagai kemarau panjang ataupun kekeringan ekstrem. Hal itu lantaran secara klimatologis wilayah Berau memiliki karakteristik iklim yang cenderung basah.
Kondisi kekeringan yang terjadi tahun ini juga disebut belum seberat kejadian pada 2019.
Suhu maksimum sejauh ini tercatat mencapai 37,8 derajat Celsius. Sementara peluang hujan ringan masih dapat muncul secara sporadis, terutama di wilayah pegunungan. Sebagian wilayah lainnya belum memperoleh curah hujan yang berarti.
Ade mengatakan upaya rekayasa cuaca yang dilakukan pemerintah turut memberikan pengaruh terhadap kondisi di lapangan, termasuk berkurangnya jumlah titik panas atau hotspot.
Namun efektivitas rekayasa cuaca sangat bergantung pada keberadaan awan yang memiliki potensi menghasilkan hujan. Ketika jumlah awan pembawa hujan masih terbatas, upaya tersebut belum dapat menghasilkan curah hujan sesuai yang diharapkan.
BMKG memperkirakan kondisi kemarau di Kabupaten Berau masih berlangsung hingga akhir September 2026.
Curah hujan yang lebih merata di berbagai wilayah Berau diperkirakan mulai terjadi setelah periode tersebut.
BMKG juga mengingatkan bahwa keberadaan asap dan kabut dapat semakin diperparah oleh aktivitas pembakaran hutan, lahan, maupun sampah.
Karena itu, masyarakat diminta menghindari pembakaran terbuka di tengah kondisi cuaca panas dan kering. Aktivitas tersebut dapat menambah emisi sekaligus memperburuk kualitas udara.
Masyarakat juga diminta terus mengikuti perkembangan informasi mengenai titik panas, prakiraan cuaca, hingga peringatan gelombang yang diperbarui secara berkala melalui kanal resmi BMKG Berau. (afn)
- Penulis: admin
