Tekan Risiko Penyimpangan Seksual, Komisi I DPRD Berau Dorong Penguatan Peran Orang Tua dan Sekolah
- account_circle admin
- calendar_month Rabu, 26 Nov 2025
- visibility 97
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TANJUNG REDEB– Ketua Komisi I DPRD Kabupaten Berau, Elita Herlina, menyampaikan keprihatinannya terkait meningkatnya potensi penyimpangan seksual di kalangan anak muda. Ia menilai perkembangan teknologi, akses informasi tanpa filter, serta lemahnya pengawasan sosial dapat menjadi faktor pendorong munculnya perilaku menyimpang yang berisiko merusak masa depan generasi muda.
Elita menegaskan bahwa fenomena sosial yang melibatkan anak muda saat ini perlu mendapatkan perhatian lebih serius dari pemerintah, lembaga pendidikan, orang tua, hingga komunitas masyarakat.
“Anak muda Berau adalah generasi penerus pembangunan daerah. Kita semua wajib memastikan kondisi sosial mereka berada dalam keadaan baik. Potensi penyimpangan seksual bukan hanya masalah moral, tetapi juga berkaitan dengan kesehatan mental, masa depan pendidikan, dan kehidupan sosial mereka,” ujar Elita.
Ia menjelaskan bahwa salah satu kunci utama pencegahan adalah pembinaan karakter sejak dini melalui lingkungan keluarga dan sekolah. Menurutnya, orang tua memiliki peran penting dalam memberikan pemahaman dan pengawasan yang seimbang terhadap anak-anak di era digital.
“Pendidikan karakter tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah. Orang tua harus menjadi garda terdepan. Pola komunikasi yang terbuka dengan anak dan pendampingan dalam penggunaan gawai sangat penting untuk mencegah anak mengakses konten negatif,” tambahnya.
Selain itu, ia juga mendorong sekolah untuk memperkuat pendidikan moral dan kesehatan reproduksi yang disampaikan dengan pendekatan yang tepat, edukatif, dan ramah anak.
Elita juga menegaskan bahwa pihaknya siap mendorong kolaborasi antara dinas terkait, lembaga pendidikan, dan organisasi masyarakat untuk menyusun program perlindungan dan pembinaan anak muda.
“Kita perlu program yang konkret dan berkelanjutan. Dinas pendidikan, dinas sosial, hingga organisasi kepemudaan harus bekerja bersama dalam memastikan kondisi sosial anak muda kita tetap terkendali dan positif,” ucapnya.
Program tersebut, lanjut Elita, dapat berupa penyuluhan, kegiatan keagamaan, ruang kreativitas, hingga membuka konsultasi psikologi gratis bagi pelajar untuk mencegah mereka terjerumus pada perilaku yang merugikan diri sendiri.
Elita mengingatkan bahwa penyimpangan seksual pada anak dan remaja dapat memberikan dampak jangka panjang, mulai dari trauma, kecanduan, hingga menurunnya kualitas sumber daya manusia.
“Kalau kita tidak bergerak dari sekarang, generasi muda kita bisa menghadapi masalah sosial yang jauh lebih besar ke depannya. Komisi I DPRD Berau akan terus melakukan pengawasan dan bersinergi dengan pemerintah daerah dalam menyusun kebijakan yang melindungi anak muda,” tegasnya. (adv)
- Penulis: admin


Saat ini belum ada komentar