Koleksi Deposit Berau Diisi Buku Budaya dan Sejarah Lokal, Novel Dipinggirkan
- account_circle admin
- calendar_month 6 jam yang lalu
- visibility 23
- print Cetak

BERAU – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kabupaten Berau menempatkan buku-buku berkonten lokal sebagai prioritas utama dalam pengembangan koleksi deposit perpustakaan daerah. Fokusnya jelas: memperkaya khazanah literasi yang merekam budaya, sejarah, bahasa, dan kehidupan masyarakat Berau sendiri.
Kepala Bidang Pengolahan, Layanan dan Pelestarian Bahan Perpustakaan Dispusip Berau, Arliana, menjelaskan bahwa lembaganya membuka ruang fasilitasi bagi penulis yang ingin karyanya diterbitkan dan masuk ke perpustakaan. Namun, dari sekian banyak naskah yang diajukan, dukungan lebih diarahkan pada buku-buku yang mengangkat kekhasan lokal Berau.
Menurut Arliana, selama ini justru novel yang paling sering diajukan penulis untuk difasilitasi. Padahal, koleksi yang masih minim di rak perpustakaan adalah buku-buku yang mendokumentasikan kekayaan lokal daerah.
“Kalau novel kan sudah banyak. Yang kita kekurangan justru buku-buku konten lokal Berau, terutama tentang budaya dan sejarah Berau,” ujarnya pada Kamis (14/05/2026).
Sejumlah judul yang sudah berhasil diterbitkan dengan dukungan Dispusip antara lain 20 Karya terbaik tentang Berau, Antologi Pantun Barrau, Kamus Bahasa Barrau, Sanni Mamanda, Susuran Bua Kalumbun, Issi Ruma dan Issi Tana, Syair Badiwa, hingga kumpulan puisi karya Saprudin Ithur yang menggambarkan alam Kabupaten Berau dan Kumpulan Puisi Labuan Cermin Karya Yuli Eka Sari tentang budaya masyarakat dan wisata Berau.
Selain itu, Dispusip juga pernah membukukan karya peserta pelatihan menulis (Klub Penulis Cilik) dalam buku berjudul Makna diantara Sejumput Cerita Anak di Bumi Batiwakkal. Buku tersebut memuat pengalaman keseharian anak-anak di Kabupaten Berau, mulai dari kunjungan ke objek wisata lokal, cerita di sekolah, hingga aktivitas di Pasar Ramadan.
Arliana menilai bentuk cerita seperti itu efektif untuk memperkenalkan daerah kepada generasi muda. Tahun ini, Dispusip kembali mendorong penerbitan buku sejarah lokal berjudul Burakat Banua. Namun, keterbatasan anggaran membuat jumlah cetak masih jauh dari ideal.
“Kadang dalam satu tahun hanya dua buku, bahkan tahun ini baru satu judul dengan 80 eksemplar,” ungkapnya pada Kamis (14/05/2026).
Ia memaparkan, setiap judul yang dicetak umumnya diproduksi minimal 50 eksemplar. Buku-buku itu kemudian didistribusikan ke perpustakaan sekolah, perpustakaan kampung, perpustakaan khusus, hingga komunitas literasi di Berau.
Keterbatasan anggaran juga berimbas pada pencetakan Kamus Bahasa Barrau. Padahal, kata Arliana, Bahasa Barrau sudah masuk ke dalam materi muatan lokal di sekolah-sekolah.
“Mestinya kalau bahasa daerah sudah masuk pembelajaran, sarana pendukung seperti Kamus Bahasa Barrau juga diperbanyak sehingga bisa dibagikan ke seluruh Perpustakaan Sekolah yang ada di Kabupaten Berau,” ujarnya.
Terkait biaya, Arliana menyebut harga penerbitan satu buku berkisar Rp80 ribu per eksemplar. Karena itu, jumlah judul yang bisa diterbitkan setiap tahun sangat bergantung pada besaran anggaran yang diterima Dispusip Berau. (*/tnr)
- Penulis: admin
