Puluhan Pasien Antre Cuci Darah, Mesin Hemodialisis Masih Tersimpan di Gudang
- account_circle admin
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 10
- print Cetak

TANJUNG REDEB – Keterbatasan ruang pelayanan menjadi kendala utama dalam pengembangan layanan hemodialisis (HD) atau cuci darah di RSUD dr. Abdul Rivai, Kabupaten Berau. Akibatnya, puluhan pasien masih harus mengantre untuk mendapatkan layanan meski sejumlah mesin cuci darah yang siap digunakan masih tersimpan di gudang.
Wakil Bupati Berau Gamalis mengatakan persoalan yang dihadapi rumah sakit saat ini bukan lagi terkait ketersediaan alat kesehatan maupun tenaga medis, melainkan kapasitas ruang pelayanan yang belum memadai untuk menampung tambahan unit hemodialisis.
Saat ini, RSUD dr. Abdul Rivai hanya mengoperasikan delapan mesin cuci darah. Padahal, rumah sakit masih memiliki beberapa mesin lain yang kondisinya baru dan siap digunakan. Namun, keterbatasan ruang membuat penambahan unit belum dapat dilakukan karena harus memenuhi standar pelayanan, termasuk pengaturan jarak antar tempat tidur pasien.

Menurut Gamalis, dukungan untuk meningkatkan kapasitas layanan sebenarnya telah tersedia. Selain memiliki tenaga kesehatan yang memadai, rumah sakit juga telah menjalin kerja sama operasional dan memperoleh dukungan tambahan peralatan. Namun seluruh rencana tersebut belum dapat direalisasikan karena belum tersedianya ruang pelayanan yang sesuai.
Sebagai solusi, Pemerintah Kabupaten Berau tengah menyiapkan pemanfaatan Gedung Walet yang berada di kawasan RSUD dr. Abdul Rivai. Gedung tersebut direncanakan menjadi lokasi relokasi sebagian layanan rumah sakit setelah sejumlah fasilitas pendukung selesai dipersiapkan.
Apabila rencana tersebut terealisasi, ruang yang saat ini digunakan untuk pelayanan lain dapat dialihfungsikan menjadi ruang hemodialisis baru. Langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan kapasitas layanan sekaligus mengurangi antrean pasien yang selama ini terjadi.
Data rumah sakit menunjukkan terdapat sekitar 50 pasien aktif yang rutin menjalani terapi cuci darah. Dengan kapasitas yang hanya tersedia pada delapan tempat tidur pelayanan, antrean pasien menjadi tantangan yang sulit dihindari.
Kondisi tersebut juga berdampak pada pasien gagal ginjal dari luar daerah yang sedang berada di Berau, baik untuk keperluan pekerjaan, kunjungan keluarga, maupun wisata. Keterbatasan slot pelayanan membuat rumah sakit tidak selalu mampu mengakomodasi kebutuhan pasien yang memerlukan terapi rutin selama berada di daerah tersebut.
Pemerintah daerah menilai penambahan ruang pelayanan menjadi langkah paling mendesak untuk memaksimalkan pemanfaatan alat kesehatan yang tersedia sekaligus meningkatkan kualitas layanan bagi pasien. Dengan tersedianya ruang baru, kapasitas pelayanan hemodialisis diharapkan dapat segera ditingkatkan guna memenuhi kebutuhan masyarakat yang terus bertambah. (adv/tnr)
- Penulis: admin

