49 Knalpot Brong Disita, Era ETLE di Berau: Pelanggaran Langsung Terekam
- account_circle redaksi Beraunews
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 10
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
BERAU – Satuan Lalu Lintas Polres Berau melaporkan situasi lalu lintas selama Operasi Keselamatan Mahakam 2026 relatif terkendali. Dalam konferensi pers, Senin, 23 Februari 2026, jajaran Satlantas menyebut tidak terjadi lonjakan angka kecelakaan selama operasi yang berlangsung sejak pertengahan Januari hingga awal Februari tersebut.
Kepala Satlantas Polres Berau, Rhondy Hermawan, mengatakan upaya pencegahan dan penegakan hukum yang dilakukan selama operasi berjalan efektif. “Selama operasi, angka kecelakaan bisa ditekan. Tidak ada peningkatan signifikan,” ujarnya.
Operasi ini difokuskan pada peningkatan disiplin berlalu lintas sekaligus menciptakan kondisi aman menjelang Idulfitri. Meski angka kecelakaan stabil, jumlah pelanggaran yang ditindak justru meningkat. Rhondy menyebut kenaikan itu dipengaruhi optimalisasi penggunaan tilang elektronik melalui perangkat ETLE Mobile Handheld.
Dengan perangkat tersebut, petugas dapat merekam pelanggaran secara langsung dan memprosesnya menjadi tilang elektronik di lokasi. Di sisi lain, petugas tetap memberikan teguran simpatik untuk pelanggaran ringan, seperti tidak menggunakan helm atau tidak membawa kelengkapan administrasi kendaraan.
“Kami tetap mengedepankan pendekatan humanis. Namun, jika pelanggaran dilakukan berulang, tentu kami tindak tegas,” kata Rhondy.
Selama operasi, Satlantas juga memberi perhatian pada balap liar dan penggunaan knalpot tidak sesuai standar. Dari 50 kendaraan yang diamankan, 49 di antaranya terkait penggunaan knalpot brong. Kendaraan tersebut ditahan selama tiga bulan sebagai bentuk efek jera.
Penindakan itu, menurut Rhondy, telah dikoordinasikan dengan pengadilan dan kejaksaan. Ia juga menyebut dukungan masyarakat cukup membantu melalui laporan ke layanan darurat 110.
Untuk balap liar, aktivitas umumnya terjadi pada malam hingga dini hari, terutama di kawasan Tepian dan sekitar Masjid Agung. Namun, intensitasnya diklaim menurun berkat patroli rutin, khususnya selama Ramadan.
“Pelakunya mayoritas usia produktif, dari remaja hingga sekitar 30–40 tahun. Jika masih di bawah umur, kami panggil orang tuanya untuk pembinaan,” ujarnya.
Ke depan, Satlantas Polres Berau akan memperkuat kampanye keselamatan melalui gerakan helmisasi dengan slogan “Tiada Hari Tanpa Helm”. Selain itu, komitmen zero knalpot brong dan zero balap liar akan terus digaungkan.
Pengembangan ETLE statis masih dalam tahap koordinasi dengan Korlantas Polri dan pemerintah daerah, dengan target realisasi paling lambat tahun depan.
Rhondy mengimbau masyarakat untuk melengkapi administrasi kendaraan dan mematuhi aturan lalu lintas. “Keselamatan di jalan adalah kepentingan bersama,” katanya.(zenn)
- Penulis: redaksi Beraunews

Saat ini belum ada komentar