Berau Hadapi Tekanan Perubahan Iklim, Perusahaan dan Masyarakat Diminta Turun Tangan
- account_circle admin
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 25
- print Cetak

BERAU – Ancaman perubahan iklim mulai ditempatkan sebagai persoalan nyata dalam arah pembangunan Kabupaten Berau. Pemerintah daerah mengingatkan bahwa cuaca ekstrem, banjir, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan hingga terganggunya keanekaragaman hayati tidak lagi cukup dijawab dengan kampanye seremonial.
Pesan itu disampaikan Bupati Berau Hj. Sri Juniarsih dalam puncak peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 di Ballroom Hotel Mercure, beberapa waktu lalu.
Mengusung tema “Saatnya Bekerja Untuk Iklim”, pemerintah daerah mendorong keterlibatan lebih luas, mulai dari masyarakat, sekolah, kampung hingga dunia usaha.
Dalam sambutannya, Sri Juniarsih mengingatkan bahwa menjaga lingkungan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah maupun kelompok pemerhati lingkungan. Perubahan perilaku masyarakat dinilai menjadi bagian penting menghadapi tekanan terhadap lingkungan.
“Menjaga lingkungan sama artinya menjaga kualitas hidup kita sendiri,” ujar Bupati.
Sejumlah langkah sederhana disebut dapat dimulai dari rumah, seperti mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memilah sampah, menanam pohon, menghemat energi dan air, menjaga sungai hingga tidak melakukan pembakaran lahan.
Namun tanggung jawab lingkungan tidak berhenti pada masyarakat.
Pemkab Berau juga mendorong dunia usaha mengambil peran lebih besar melalui penerapan kegiatan usaha yang ramah lingkungan dan pelaksanaan tanggung jawab sosial perusahaan.
Hal tersebut menjadi penting mengingat aktivitas ekonomi Berau berjalan berdampingan dengan kawasan yang memiliki nilai ekologis dan konservasi tinggi.
Pemerintah daerah menyatakan akan terus menjalankan sejumlah program, antara lain pengelolaan sampah, rehabilitasi lingkungan, perlindungan kawasan bernilai konservasi tinggi, pengurangan emisi, serta memperkuat edukasi dan kolaborasi dengan berbagai pihak.
Perhatian juga diberikan kepada petugas kebersihan dan pertamanan yang bekerja langsung menjaga kondisi lingkungan perkotaan.
“Di balik lingkungan Berau yang bersih, hijau, dan nyaman, ada kerja keras yang sering kali tak terlihat,” ucap Bupati.
Menurut pemerintah, penghargaan terhadap pihak-pihak yang terlibat dalam pengelolaan lingkungan tidak boleh berhenti sebagai bentuk apresiasi. Penghargaan tersebut diharapkan menjadi dorongan untuk meningkatkan kualitas pengelolaan lingkungan.
Sekolah penerima Adiwiyata diminta terus membangun kebiasaan menjaga lingkungan sejak dini. Kampung juga didorong memaksimalkan sarana pengelolaan sampah yang telah tersedia.
Sementara perusahaan diharapkan membuktikan bahwa pertumbuhan ekonomi tetap dapat berjalan tanpa mengabaikan perlindungan lingkungan.
Dalam kegiatan tersebut, pemerintah menyerahkan sejumlah penghargaan, bantuan dan apresiasi kepada sekolah, perusahaan, kampung, fasilitas kesehatan, lembaga, mitra pembangunan, petugas kebersihan serta petugas pertamanan yang dinilai berkontribusi terhadap pengelolaan lingkungan di Berau.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Berau, Zulkifli Azhari, menyebut kondisi lingkungan daerah menunjukkan perkembangan positif.
“Alhamdulillah, berkat kerja keras dan kolaborasi pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha, kualitas lingkungan hidup di Berau menunjukkan tren yang sangat positif,” ungkapnya.
Pemerintah daerah kini menghadapi tantangan menjaga tren tersebut di tengah pertumbuhan kawasan, aktivitas ekonomi dan tekanan perubahan iklim yang semakin nyata.
Peringatan Hari Lingkungan Hidup pun menjadi pengingat bahwa keberhasilan menjaga lingkungan Berau pada akhirnya tidak hanya diukur dari jumlah penghargaan atau seremoni, tetapi dari seberapa jauh kebijakan dan perilaku masyarakat mampu menekan kerusakan lingkungan dalam jangka panjang.(*afn)
- Penulis: admin
