Asap Karhutla Menyelimuti Berau, Pemadam Sebut 90 Persen Titik Api Dipicu Ulah Manusia
- account_circle admin
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 12
- print Cetak

BERAU — Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla kembali menjadi persoalan di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Asap dari sejumlah titik kebakaran mulai menyelimuti langit wilayah tersebut.
Petugas pemadam kebakaran menduga sebagian besar kebakaran bukan disebabkan faktor alam. Aktivitas pembukaan lahan dengan cara membakar masih ditemukan di sejumlah lokasi dan berpotensi memicu munculnya titik api baru.
Kepala Seksi Pemadaman, H. Askar Husairi, mengatakan pembukaan lahan dengan cara membakar menjadi salah satu penyebab utama karhutla. Ia menyayangkan masih ada pihak yang mengambil jalan pintas tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat.
“90 persen ya,” ujar H. Askar Husairi saat dikonfirmasi mengenai keterlibatan oknum tak bertanggung jawab dalam pembukaan lahan yang memicu karhutla, Selasa (18/8).
Menurut Askar, apabila ditemukan pelaku yang sengaja membakar lahan, penegakan hukum perlu dilakukan. Hal tersebut berlaku baik bagi individu maupun pihak korporasi yang terbukti terlibat.
“Jika terdapat pelakunya dan sengaja atau disuruh, baik itu pribadi atau corporate, agar diproses sesuai hukum dan peraturan berlaku,” tegas Askar.
Penindakan hukum dinilai penting untuk memberikan efek jera sekaligus mencegah praktik pembukaan lahan dengan cara membakar terus berulang. Pemerintah dan aparat penegak hukum juga diharapkan dapat mengusut setiap dugaan kesengajaan yang menyebabkan munculnya titik api.
Namun, penanganan karhutla di Berau tidak hanya menghadapi persoalan perilaku masyarakat. Tim pemadam juga dihadapkan pada keterbatasan personel, fasilitas, serta anggaran operasional.
Askar mengatakan belum tersedia anggaran operasional khusus untuk penanganan karhutla. Kondisi tersebut membuat petugas harus menggunakan anggaran operasional pemadaman kebakaran permukiman untuk mendukung penanganan kebakaran lahan.
“Tim internal kami maksimal melakukan di area dekat pemukiman warga. Kendala kami, jumlah SDM kurang, anggaran khusus operasional karhutla seperti BBM, makanan dan minuman lapangan, hingga honorarium harian tidak ada. Kami pakai anggaran operasional pemadaman pemukiman, dan perbaikan unit atau sapras tidak ada,” ungkap Askar membeberkan kondisi riil di lapangan.
Keterbatasan tersebut menjadi tantangan tersendiri ketika petugas harus menjangkau lokasi kebakaran yang berada jauh dari permukiman. Kebutuhan bahan bakar, konsumsi personel, hingga pemeliharaan armada dan sarana prasarana menjadi bagian dari persoalan yang harus dihadapi.
Meski demikian, tim pemadam tetap memprioritaskan keselamatan masyarakat. Penanganan diarahkan terutama ke titik-titik karhutla yang berada berdekatan dengan kawasan permukiman.
Petugas juga terus melakukan pemantauan terhadap wilayah yang dinilai rawan kebakaran. Upaya tersebut dilakukan untuk mencegah api meluas dan mengurangi risiko asap berdampak langsung terhadap warga.(afn)
- Penulis: admin
