Kabut Asap Kembali Selimuti Berau, Bupati Sri Juniarsih Singgung Asap Kiriman Daerah Lain
- account_circle admin
- calendar_month 47 menit yang lalu
- visibility 6
- print Cetak

BERAU — Kabut asap kembali menyelimuti sejumlah wilayah Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Kondisi ini terjadi ketika Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG mencatat masih adanya titik panas di Berau serta ratusan hotspot yang tersebar di sejumlah kabupaten dan kota di Kalimantan Timur.
Berdasarkan infografis sebaran titik panas BMKG periode 5 Oktober 2026 pukul 01.00 hingga 24.00 WITA, terdapat 19 hotspot di Kabupaten Berau. Sebanyak 18 titik masuk kategori tingkat kepercayaan menengah dan satu titik berkategori tinggi.
Secara keseluruhan, BMKG mencatat 973 hotspot di Kalimantan Timur pada periode tersebut. Sebaran terbanyak berada di Kutai Kartanegara dengan 443 titik, disusul Paser 436 titik, Kutai Timur 42 titik, serta Berau dan Kutai Barat masing-masing 19 titik.
Dari total 973 hotspot itu, sebanyak 865 titik memiliki tingkat kepercayaan menengah, 42 titik berkategori tinggi, dan 66 titik berkategori rendah.
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II Kalimarau Berau, Ade Heryadi, mengatakan kabut asap yang menyelimuti Berau tidak semata-mata berasal dari wilayah setempat. Analisis BMKG terhadap sebaran hotspot dan pola angin menunjukkan asap yang berada di Berau diduga merupakan campuran antara asap lokal dan asap dari wilayah lain di Kalimantan.
Ade menjelaskan, pola angin sebelumnya bergerak dari arah selatan dan barat daya. Kondisi itu memungkinkan asap dari wilayah lain di Kalimantan Timur hingga Kalimantan Tengah terbawa menuju Berau. Kecepatan angin permukaan di Berau juga relatif lemah, sekitar 0 hingga 9 kilometer per jam, sehingga partikel asap dapat bertahan lebih lama di udara.
Citra sebaran asap BMKG pada Selasa, 6 Oktober 2026 pukul 13.00 WIB, juga menunjukkan asap masih terdeteksi di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara.
Kondisi tersebut membuat dugaan mengenai adanya kontribusi asap lintas wilayah semakin menjadi perhatian. Meski demikian, keberadaan hotspot tidak serta-merta dapat disimpulkan sebagai titik kebakaran. Ade sebelumnya menjelaskan hotspot merupakan indikator suhu permukaan bumi yang lebih tinggi dibandingkan area di sekitarnya yang terdeteksi melalui satelit penginderaan jauh.
BMKG juga masih memantau perkembangan cuaca, arah angin, sebaran titik panas, serta kondisi jarak pandang di Berau. Ade tercatat sebagai Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II Kalimarau berdasarkan data resmi BMKG.
Bupati Singgung Asap Kiriman
Bupati Berau Sri Juniarsih Mas sebelumnya juga menyoroti kembali munculnya kabut asap di Bumi Batiwakkal. Ia mengatakan kondisi yang terjadi tidak dapat hanya dilihat dari sumber asap di wilayah Berau, karena terdapat kemungkinan asap terbawa dari daerah lain mengikuti pergerakan angin.
Sri meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan, terutama ketika harus beraktivitas di luar rumah. Salah satu langkah yang disarankan adalah kembali menggunakan masker untuk mengurangi paparan kabut asap.
“Kesehatan kita adalah yang utama,” kata Sri Juniarsih.
Ia juga meminta orang tua membatasi aktivitas anak-anak di luar rumah selama kondisi udara belum membaik. Anak-anak, lanjut usia, serta masyarakat yang memiliki riwayat gangguan pernapasan menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih.
Sri meminta Dinas Kesehatan serta fasilitas pelayanan kesehatan di kecamatan bersiaga menghadapi kemungkinan meningkatnya keluhan infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA akibat paparan asap. Pemerintah Kabupaten Berau juga berkoordinasi dengan BMKG untuk memantau perkembangan kualitas udara dan jarak pandang.
Kabut asap sebelumnya juga sempat mempengaruhi jarak pandang di sekitar Bandara Kalimarau. Pada awal September, BMKG mencatat jarak pandang di kawasan tersebut berkisar 2 hingga 4,5 kilometer ketika asap dan haze teramati dari pagi hingga malam.
Sri berharap kondisi cuaca segera membaik sehingga kabut asap tidak terus mengganggu kesehatan maupun aktivitas masyarakat.
Sementara itu, data BMKG memperlihatkan persoalan titik panas di Kalimantan Timur belum sepenuhnya mereda. Dengan 973 hotspot hanya dalam pemantauan 5 Oktober, masyarakat diminta tidak melakukan pembakaran lahan maupun aktivitas lain yang berpotensi memicu kebakaran selama kondisi cuaca kering.(*afn/adv)
- Penulis: admin

