Sri Juniarsih Dukung Perpustakaan Digital Jadi Ruang Belajar Generasi Muda
- account_circle admin
- calendar_month Senin, 18 Agt 2025
- visibility 132
- comment 0 komentar
- print Cetak

Sri Juniarsih Dukung Perpustakaan Digital Jadi Ruang Belajar Generasi Muda
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TANJUNG REDEB- Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kabupaten Berau tengah menempuh berbagai cara untuk meningkatkan minat baca masyarakat, khususnya generasi muda. Di tengah perubahan pola konsumsi informasi yang kian digital, institusi ini mulai mengoptimalkan layanan berbasis teknologi.
Kepala Dispusip Berau, Yudha Budi Santoso, menyebut bahwa rendahnya ketertarikan kalangan milenial dan Gen Z terhadap kunjungan ke perpustakaan konvensional mendorong pihaknya untuk berinovasi. Salah satunya dengan menghadirkan program literasi digital yang lebih interaktif dan sesuai karakteristik anak muda.
“Teknologi seharusnya bisa dimanfaatkan sebagai alat untuk menumbuhkan budaya membaca, bukan justru menjauhkannya. Kita perlu mengikuti perkembangan zaman,” ujar Yudha saat ditemui beberapa waktu lalu.
Menurutnya, generasi muda hari ini memiliki kecakapan teknologi yang tinggi, dan potensi itu harus diarahkan untuk memperkuat budaya literasi. Ia menekankan bahwa buku, baik dalam bentuk cetak maupun digital, tetap menjadi medium penting dalam proses transformasi sosial.
“Membaca adalah langkah awal menuju peradaban. Kalau kita ingin membuka cakrawala dunia, maka membaca adalah kunci utamanya,” kata Yudha.
Upaya tersebut juga diwujudkan melalui penyediaan fasilitas pendukung. Dispusip Berau kini membuka akses terhadap komputer umum, koleksi buku digital, hingga layanan perpustakaan keliling untuk menjangkau wilayah yang belum memiliki fasilitas tetap.
Titia Rani Tyas Dita, Pustakawan Ahli Muda Dispusip Berau, mengatakan bahwa semua layanan ini ditujukan agar masyarakat lebih mudah mengakses bahan bacaan, tanpa harus datang ke gedung perpustakaan secara fisik.
“Kami menyediakan berbagai fasilitas yang bisa diakses siapa saja. Dengan kartu anggota, masyarakat bahkan bisa meminjam buku untuk dibawa pulang,” jelasnya.
Meski begitu, ia menegaskan bahwa keanggotaan bukan syarat wajib untuk mengunjungi perpustakaan. Layanan seperti ruang baca hingga area rekreasi edukatif dibuka secara gratis bagi seluruh warga.
“Kami terbuka untuk semua kalangan, bahkan bagi yang belum memiliki kartu anggota pun tetap bisa menikmati fasilitas di sini,” tambah Titia.
Lebih jauh, Titia berharap transformasi layanan yang dilakukan mampu menjadikan perpustakaan sebagai ruang publik yang inklusif dan menyenangkan, bukan sekadar tempat membaca.
“Perpustakaan bisa menjadi tempat belajar yang menyenangkan. Kami ingin masyarakat merasa betah, bisa menikmati waktu luang sembari menambah wawasan,” ujarnya.
Langkah-langkah Dispusip Berau ini turut mendapat dukungan dari Bupati Berau, Sri Juniarsih, yang mengapresiasi pendekatan kreatif dan adaptif dalam menghadapi tantangan literasi di era digital.
“Transformasi layanan perpustakaan ini adalah langkah maju. Saya mendukung penuh inovasi Dispusip dalam menjadikan perpustakaan sebagai ruang belajar yang modern dan ramah bagi generasi muda,” kata Sri Juniarsih dalam pernyataan resminya.
Ia menilai bahwa literasi tidak hanya soal membaca, tetapi juga soal membangun pola pikir kritis dan kemampuan adaptasi. Karena itu, peran perpustakaan harus terus dikembangkan agar tetap relevan dengan zaman.
“Perpustakaan yang hidup adalah yang bisa menyesuaikan diri dengan kebutuhan masyarakat. Saya optimistis, dengan komitmen yang kuat, Berau bisa menjadi daerah yang unggul dalam literasi,” tutupnya.
Digitalisasi dan inovasi layanan ini diharapkan menjadi salah satu jalan keluar untuk memperkuat budaya baca, sekaligus menjadikan perpustakaan sebagai simpul literasi yang relevan di tengah era digital. (adv/yf)
- Penulis: admin


Saat ini belum ada komentar