Tari di Tangan Anak Muda: Berau Menjaga Budaya Lewat Ruang Belajar dan Panggung Kecil Sekolah
- account_circle admin
- calendar_month Jumat, 14 Nov 2025
- visibility 80
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Tanjung Redeb – Di tengah dunia yang bergerak cepat mengikuti teknologi, ada pemandangan yang menenangkan ketika anak-anak sekolah berdiri di panggung pemerintah daerah, melenturkan tangan, memutar tubuh, dan menghafal gerakan tarian tradisi. Mereka membawakan Bajau Berau Dayak atau tarian Babada, bukan sekadar tampil, tetapi menghidupkan kembali identitas yang telah diwariskan turun-temurun di Bumi Batiwakkal.
Wakil Bupati Berau, Gamalis, menyaksikan langsung momen tersebut. Baginya, melihat anak sekolah menari dengan penuh percaya diri adalah bukti bahwa kebudayaan di Berau tidak sedang mundur—melainkan tumbuh bersama generasi baru.
“Harus kita apresiasi, anak-anak kita ini menari lincah, hafal setiap gerakan tariannya,” ujar Gamalis.
Ia memuji upaya sekolah dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata yang membuka ruang belajar budaya bagi pelajar. Di saat gawai dan internet begitu mendominasi keseharian, panggung seni menjadi benteng yang menjaga anak agar tetap dekat dengan rumah budaya mereka sendiri.
Gamalis mengingatkan, tantangan terbesar bukan hanya melatih gerakan, tetapi memastikan anak paham makna dari tarian yang mereka bawakan.
“Ini edukasi yang baik untuk menjaga warisan budaya. Anak-anak perlu dibekali pengetahuan sejarah, agar mereka tidak hanya menari, tetapi juga mengerti,” tegasnya.
Tradisi, Pendidikan, dan Pariwisata: Tiga Arah yang Bertemu di Berau
Upaya menjaga budaya tak berhenti di sekolah. Gamalis menilai, pelestarian seni tari sangat berkaitan dengan masa depan ekonomi Berau, yang kini perlahan memperkuat sektor pariwisata sebagai salah satu sumber pertumbuhan baru.
Wisatawan bukan hanya mencari pemandangan, tetapi pengalaman. Ketika sejarah tari, cerita leluhur, dan ekspresi budaya dapat ditampilkan di hadapan tamu yang datang, Berau tidak hanya memamerkan alam—tetapi juga ruh masyarakatnya.
“Kita harus percaya diri dengan kekayaan budaya kita,” pungkas Gamalis.
Tarian-tarian yang dibawakan pelajar hari ini bukan hanya hiburan. Mereka adalah arsip bergerak—cara generasi muda mengucapkan bahwa warisan tidak hilang, hanya berubah pembawa. (yf/adv)
- Penulis: admin


Saat ini belum ada komentar