Pemkab Berau Perkuat Fondasi Ekonomi Baru: Perkebunan dan Potensi Kampung Jadi Andalan Masa Depan Daerah
- account_circle admin
- calendar_month Sabtu, 6 Des 2025
- visibility 80
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TANJUNG REDEB – Pemerintah Kabupaten Berau mulai menata fondasi transisi ekonomi jangka panjang sebagai respons atas menurunnya kontribusi sektor pertambangan di masa depan. Dalam peta besar pembangunan itu, sektor perkebunan diproyeksikan menjadi salah satu pilar utama yang mampu menopang kestabilan ekonomi daerah sekaligus memperkuat ketahanan pendapatan masyarakat kampung.
Kepala Dinas Perkebunan (Disbun) Berau, Lita Handini, menegaskan bahwa perubahan arah kebijakan ini bukan sekadar wacana, melainkan langkah konkret yang telah bergerak beberapa tahun terakhir. Indikator pertumbuhan sektor perkebunan menunjukkan tren positif dan konsisten.
“Perkebunan sudah menunjukkan performa yang solid. Ini sinyal kuat bahwa sektor ini siap mengambil peran ketika produktivitas tambang mulai menurun,” ujarnya.
Berbagai komoditas unggulan seperti kelapa sawit, kakao, dan lada terus mengalami peningkatan produksi dan terbukti memberikan dampak langsung terhadap ekonomi masyarakat. Tak hanya itu, sektor perkebunan juga menjadi salah satu penyerap tenaga kerja terbesar, terutama di kampung-kampung yang menggantungkan hidup pada pertanian dan pengolahan hasil kebun.
“Perkebunan tidak hanya bicara soal produksi. Ia menciptakan aktivitas ekonomi baru, membuka lapangan kerja, memperkuat UMKM olahan, dan menjaga pendapatan masyarakat tetap berputar,” tambahnya.
Agar sektor ini benar-benar siap menjadi fondasi ekonomi baru, pemerintah daerah terus memperkuat berbagai aspek—mulai dari penyediaan bibit unggul, pendampingan teknis, modernisasi praktik budidaya, hingga mendorong kemitraan berkeadilan antara perusahaan dan petani lokal. Pemerintah juga mengintegrasikan pendekatan digital untuk memperbaiki rantai layanan, pemasaran, serta tata kelola perkebunan.
“Kemitraan harus berjalan seimbang. Petani harus memperoleh manfaat langsung dan dapat terlibat penuh dalam rantai produksi,” tegas Lita.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa ekspansi perkebunan harus tetap mengedepankan keberlanjutan lingkungan. Praktik usaha ramah lingkungan dinilai wajib diterapkan agar pertumbuhan sektor ini tidak merusak kawasan hutan, ekosistem kampung, atau ruang hidup satwa.
“Kita tidak mengejar angka produksi semata. Yang lebih penting adalah keberlanjutan—bagaimana usaha perkebunan bisa maju tanpa merusak lingkungan dan tetap memberi kesejahteraan bagi petani,” jelasnya.
Dengan arah pembangunan yang semakin terstruktur, Lita optimistis sektor perkebunan akan menjadi tulang punggung ekonomi baru Berau, memperkuat ketahanan daerah dalam menghadapi perubahan ekonomi global sekaligus membuka ruang investasi hijau berbasis potensi lokal.
“Jika dikelola dengan benar, perkebunan akan menjadi sektor yang stabil, inklusif, tahan guncangan, dan berorientasi masa depan. Inilah transisi ekonomi Berau yang sedang kita siapkan,” pungkasnya. (Adv/Akm)
- Penulis: admin


Saat ini belum ada komentar