Generasi Muda Enggan Bertani, Produksi Pangan Berau Belum Mandiri
- account_circle admin
- calendar_month 4 jam yang lalu
- visibility 24
- print Cetak

Generasi Muda Enggan Bertani, Produksi Pangan Berau Belum Mandiri
BERAU — Minimnya minat masyarakat untuk bertani menjadi salah satu persoalan yang memengaruhi sektor pertanian di Kabupaten Berau. Kondisi ini berdampak pada produksi pangan daerah yang belum mampu memenuhi kebutuhan secara mandiri.
Kepala Bidang Distribusi dan Cadangan Pangan Dinas Pangan Berau, Basri, mengatakan karakteristik petani di Berau berbeda dengan daerah lain seperti Pulau Jawa dan Sulawesi. Menurut dia, sebagian besar petani di Berau tidak berfokus pada satu sektor, melainkan memiliki beragam sumber penghasilan.
“Kalau di Jawa itu petani ya memang petani. Di Sulawesi juga begitu. Tapi kalau di Berau, masyarakatnya ini multidimensi. Dia bisa jadi petani, tapi juga beternak, berkebun, bahkan kerja di perusahaan,” kata Basri, Senin, 4 Mei 2026.
Ia menjelaskan kondisi tersebut membuat sektor pertanian kurang diminati sebagai pekerjaan utama. Banyak masyarakat, terutama usia produktif, memilih bekerja di perusahaan yang dinilai lebih menjanjikan dari sisi pendapatan.
“Kita akui angkatan kerja kita kalah bersaing dengan perusahaan. Mereka lebih tertarik kerja di perusahaan dibanding mengolah lahan,” ujarnya.
Menurut Basri, faktor penghasilan menjadi pertimbangan utama. Pendapatan petani dinilai tidak menentu karena bergantung pada musim, berbeda dengan sektor industri yang memberikan penghasilan tetap.
“Kalau di perusahaan kan setiap bulan jelas penghasilannya. Kalau petani ini berisiko, bisa gagal panen karena kekeringan atau kebanjiran,” katanya.
Ia juga menanggapi pandangan Wakil Ketua II DPRD Berau, Sumadi, yang mendorong langkah konkret untuk menarik minat generasi muda ke sektor pertanian.
“Ya harus begitu, tidak ada cara lain. Memang harus dipacu untuk mendorong petani muda,” ucapnya.
Basri menilai regenerasi petani menjadi kunci keberlanjutan sektor pangan di Berau. Namun, pendekatan yang dilakukan perlu disesuaikan dengan perkembangan zaman.
Menurut dia, petani perlu dibekali pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi.
“Petani itu harus ada kemajuan. Tidak hanya sekadar menanam, tapi juga ada sentuhan teknologi untuk meningkatkan hasil,” ujar Basri.
Ia menambahkan, dukungan berupa pelatihan, pendampingan, hingga insentif penting untuk menarik minat generasi muda.
“Kalau kita bisa dorong dengan teknologi dan sistem yang lebih baik, saya yakin anak muda bisa tertarik,” katanya. (tnr)
- Penulis: admin
