Pengelolaan Sampah Berau Ditingkatkan dengan SOP Baru
- account_circle admin
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 25
- print Cetak

BERAU – Upaya Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Berau dalam pengelolaan sampah semakin intensif. Salah satu inisiatif penting yang dijalankan adalah pengangkutan sampah dari Tempat Pembuangan Sementara (TPS) yang dilakukan dua kali sehari, sebagai langkah preventif terhadap penumpukan sampah.
Kepala Bidang Kebersihan DLHK Berau, Irwadi, mengungkapkan bahwa keputusan untuk meningkatkan frekuensi pengangkutan ini bertujuan untuk mencegah penumpukan yang berlebihan di armroll. Saat ini, TPS masih menjadi andalan masyarakat untuk membuang sampah, sehingga pengelolaan yang baik sangat diperlukan.
“Untuk mengantisipasi sampah membludak di TPS, SOP kami adalah melakukan pengangkutan rutin dua kali sehari. Saat ini TPS memang masih menjadi andalan karena kita belum memiliki fasilitas pengolahan sampah yang lebih besar seperti TPS 3R di kawasan pemukiman,” ujar Irwadi saat ditemui pada Rabu (6/5/2026).
Tak hanya meningkatkan frekuensi pengangkutan, DLHK Berau juga berencana menambah jumlah armroll di lokasi-lokasi strategis. Irwadi mengakui bahwa saat ini jumlah bak sampah yang tersedia belum mencukupi untuk menampung volume sampah warga yang terus meningkat.
Dalam memilih lokasi penempatan bak sampah baru, DLHK aktif berkoordinasi dengan pihak kelurahan, RT, dan bagian aset pertanahan. Hal ini diperlukan agar penempatan bak sampah tetap memperhatikan keindahan kota dan kenyamanan warga.
“Kami mencari lahan aset pemerintah yang bisa digunakan. Koordinasi dengan lurah dan RT sangat penting karena merekalah yang lebih tahu titik mana yang dibutuhkan dan disetujui warga. Masalahnya seringkali ada warga yang meminta bak sampah dipindah karena merasa terganggu,” jelasnya.
Irwadi menekankan bahwa solusi terhadap masalah sampah bukan hanya melalui penambahan fasilitas fisik. Kesadaran masyarakat dalam mengurangi produksi sampah dari rumah tangga juga menjadi kunci.
Ia mendorong sosialisasi tentang pemilahan sampah mandiri dan pembuatan kompos di lingkungan masing-masing. Keberadaan bak sampah di tingkat RT dinilai sangat membantu mengurangi beban TPS.
“Sangat penting bagi masyarakat untuk melakukan pengurangan dan pemilahan secara mandiri. Jika sampah organik diolah jadi kompos dan sampah layak jual masuk ke bank sampah, maka otomatis jumlah sampah yang dibuang ke TPS akan berkurang drastis,” imbuhnya.
Menanggapi keluhan tentang aroma tidak sedap dari bak sampah terbuka, Irwadi menjelaskan bahwa meski idealnya armroll dilengkapi penutup untuk menahan bau, kenyataan di lapangan berbeda.
Ia mencatat bahwa masyarakat seringkali enggan membuang sampah jika bak dalam keadaan tertutup, sehingga sampah justru dibuang sembarangan di sekitar bak.
“Kami punya bak yang ada penutupnya, seperti yang di dekat Polres. Tapi kendalanya, orang malas membuka tutupnya dan malah membuang sampah di luar. Itulah mengapa saat ini kami lebih banyak menyediakan yang terbuka, menyesuaikan dengan perilaku masyarakat kita, meskipun dari sisi teknis memang lebih baik yang tertutup,” pungkasnya. (akb)
- Penulis: admin
