BKP 2025 Jadi Modal Intelektual Berau: Literasi Didorong sebagai Investasi Penggerak UMKM Kreatif, Budaya, Digitalisasi hingga Transportasi
- account_circle admin
- calendar_month Sabtu, 15 Nov 2025
- visibility 35
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TANJUNG REDEB — Di tengah gempuran teknologi yang menuntut serba cepat, ada ruang yang ingin tetap dipertahankan sebagai tempat belajar yang pelan, tenang, tetapi kaya makna: perpustakaan. Melalui Bulan Kunjung Perpustakaan (BKP) 2025, Dinas Perpustakaan dan Pengarsipan (Dispusip) Berau mencoba menghadirkan kembali ruang itu, bukan hanya sebagai tempat meminjam buku, tetapi sebagai ekosistem literasi yang hidup.
Dengan tema “Sinergi Membangun Budaya Baca dan Kecakapan Literasi untuk Berau Sejahtera”, kegiatan ini bukan ditujukan sekadar menjadi selebrasi tahunan, melainkan pemantik kesadaran bersama bahwa membaca bukan kebiasaan lama yang tertinggal — tetapi keterampilan masa depan.
Ketua Panitia BKP, Nurseha, menyebut bahwa literasi adalah fondasi dari sumber daya manusia yang unggul. Buku yang dibaca anak hari ini bisa menjadi gagasan baru besok, dan ide yang dipelajari warga bisa menjelma inovasi ekonomi suatu saat nanti.
“Kami ingin masyarakat semakin rajin membaca karena minat baca melahirkan kreativitas, keterampilan, dan kecakapan sosial,” ujarnya.
Literasi Bukan Program — Ia Ekosistem
Untuk itu, BKP 2025 dirancang bukan sebagai seremonial tiga bulan, tetapi rangkaian kegiatan yang saling menyambung. Ada bedah buku, talkshow, seminar, bazar karya literasi, hingga delapan jenis lomba yang mengajak pelajar dan masyarakat untuk menulis, membaca puisi, membuat komik digital, hingga pidato tiga bahasa.
Dispusip juga menggandeng ATPUSI, GPMB, serta Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) — menandakan bahwa peningkatan literasi tidak bisa berjalan sendirian. Ia perlu sekolah, komunitas, dan ruang daring yang ikut bergerak bersama.
Salah satu kegiatan paling menarik ialah literasi hijau, berupa penanaman pohon. Pesan yang ingin disampaikan sederhana tetapi kuat: literasi bukan hanya soal buku, tetapi kesadaran, tanggung jawab, dan hubungan manusia dengan lingkungannya.
Menjadikan Perpustakaan Rumah Kedua
Nurseha berharap BKP 2025 menjadi pintu masuk agar masyarakat tidak memandang perpustakaan sebagai tempat yang sunyi dan resmi, melainkan ruang tumbuh.
“Kami ingin perpustakaan menjadi tempat kembali belajar — yang bukan hanya dikunjungi, tetapi dimanfaatkan,” tuturnya.
Jika taman bacaan kembali ramai, jika anak-anak mengantri buku cerita, jika remaja menemukan ide baru dari esai yang ditulisnya, maka literasi tidak hanya hidup — ia berkembang.(akm/adv)
- Penulis: admin


Saat ini belum ada komentar