Dari Tarian Adat hingga Produk Kreatif, Abutta Banua Jadi Panggung Rakyat Sambaliung
- account_circle admin
- calendar_month Kamis, 31 Jul 2025
- visibility 253
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TANJUNG REDEB- Suasana budaya kembali menyelimuti Sambaliung. Tepat di halaman Keraton Sambaliung, Kamis (31/7/2025), masyarakat menyaksikan pembukaan Abutta Banua 2025, sebuah festival tahunan yang kini telah menjadi bagian penting dari narasi kultural Bumi Batiwakkal.
Digelar selama sepekan, festival ini menandai dua momentum, Hari Jadi ke-23 Kelurahan Sambaliung dan ulang tahun ke-5 Pedagang Kaki Lima Basuli. Namun lebih dari sekadar perayaan seremonial, Abutta Banua menjadi ruang di mana identitas lokal dirawat, sekaligus menjadi arena bertemunya ekspresi budaya dan aktivitas ekonomi rakyat.
Pembukaan festival dimulai dengan penampilan ritual adat pernikahan khas Suku Banua, yang dikenal sebagai salah satu suku asli Kabupaten Berau. Upacara ini bukan sekadar pertunjukan, ia adalah cara komunitas memperkenalkan ulang siapa mereka di hadapan publik.
Dibalut dalam lantunan musik tradisional dan tarian khas daerah, suasana menjadi hidup. Publik yang hadir tak sekadar menjadi penonton, tetapi bagian dari pengalaman kultural itu sendiri.
Kemeriahan Abutta Banua tak hanya bersandar pada sisi estetik. Festival ini juga dirancang sebagai pasar kultural melibatkan UMKM, pedagang kaki lima, serta pelaku ekonomi kreatif lokal. Bazar dan pameran produk rumahan menjadi pelengkap suasana, menunjukkan bagaimana budaya bisa mendorong perputaran ekonomi masyarakat bawah.
Plt Asisten II Sekretariat Kabupaten Berau Bidang Pembangunan dan Perekonomian, Warji, yang hadir mewakili Bupati Sri Juniarsih Mas, menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menjaga identitas daerah.
“Festival ini bukan sekadar hiburan. Ia adalah bentuk kecintaan terhadap addat budayanta Suku Banua. Budaya bukan masa lalu, ia adalah modal masa depan,” ujar Warji dalam sambutannya.
Ia juga menyinggung peran strategis PKL Basuli yang selama lima tahun terakhir turut mendorong geliat ekonomi berbasis komunitas di Sambaliung.
Abutta Banua 2025 juga menjadi gerbang menuju perayaan Hari Jadi ke-72 Kabupaten Berau dan HUT ke-215 Kota Tanjung Redeb. Ini menempatkan Sambaliung sebagai titik penting dalam peta kebudayaan daerah, sekaligus simbol dari semangat desentralisasi pembangunan berbasis kelurahan.
Pemerintah Kabupaten Berau saat ini tengah menyiapkan dua program utama: pembangunan taman budaya dan revitalisasi situs sejarah seperti Keraton Sambaliung. Upaya ini tak hanya ditujukan untuk pelestarian, tetapi juga memperkuat Sambaliung sebagai destinasi wisata sejarah yang inklusif.
“Kami percaya bahwa budaya adalah fondasi kuat bagi kemajuan daerah,” kata Warji.
Di balik semaraknya pentas dan pasar, Abutta Banua juga membawa harapan lain. Melalui kegiatan seperti lomba tradisional, pertunjukan rakyat, dan forum warga, acara ini menjadi ruang temu antarwarga. Tidak hanya mempererat silaturahmi, tapi juga menjadi ajang refleksi terhadap pelayanan publik di tingkat kelurahan.
Dalam pesan tertulis yang dibacakan Warji, Bupati Sri Juniarsih menyinggung pentingnya inovasi dalam tata kelola lokal. Ia menyebut bahwa seluruh Rukun Tetangga (RT) di Sambaliung kini telah menerima dana operasional mandiri, membuka peluang baru bagi penguatan partisipasi warga.
“Ini adalah momentum bagi Kelurahan Sambaliung untuk menjadi pelopor pembangunan kota yang berorientasi pada kebahagiaan warganya,” tulisnya.
Abutta Banua tidak hanya memperingati usia, tetapi juga menunjukkan bagaimana tradisi bisa bertahan di tengah perubahan, dengan tetap berpijak pada nilai-nilai lokal. (adv/yf)
- Penulis: admin


Saat ini belum ada komentar