Ikan Mati di Sungai Segah, Dinas Perikanan Berau Duga Air Terkontaminasi Amoniak
- account_circle admin
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 3
- print Cetak

TANJUNG REDEB – Dinas Perikanan Kabupaten Berau menduga pencemaran amoniak menjadi salah satu kemungkinan penyebab kematian ikan secara mendadak di Sungai Segah. Dugaan itu muncul setelah tim melakukan pemeriksaan awal dan mengambil sampel air di sejumlah titik.
Kepala Dinas Perikanan Berau Abdul Majid mengatakan pihaknya telah menerima laporan mengenai kematian ikan tersebut dan langsung menurunkan tim ke lapangan.
“Kita juga dapat laporan lebih cepat daripada DLHK. Dan tim sudah membawa alat untuk pengukuran kualitas air, tapi secara kimiawi belum ada,” tutur Kepala Dinas Perikanan Berau, Abdul Majid saat dikonfirmasi Selasa (8/9).
Menurut Majid, ikan yang ditemukan mati mayoritas merupakan ikan nila. Tim Dinas Perikanan tidak hanya mengambil sampel di lokasi kematian ikan, tetapi juga memeriksa sejumlah titik di sekitar usaha budidaya ikan keramba di kawasan Sungai Bujangga.
Pemeriksaan sementara menemukan kematian ikan terjadi di area yang berdekatan dengan saluran gorong-gorong. Sementara itu, pada titik di sisi kiri dan kanan lokasi tersebut tidak ditemukan kejadian serupa.
“Diantara kiri kanan itu kan ada pembudi daya ikan keramba, dan ada gorong-gorongnya. Otomatis kan itu kan kalau keluar masuk, entah itu limbah rumah tangga atau limbah lainnya, kita tidak tahu. Artinya asumsi saja, ya kan? Karena kita ambil sampling di kiri kanan itu tidak ada kematian, hanya di dekatnya yang pas keluar masuknya gorong-gorong itu,” bebernya.
Dinas Perikanan belum dapat memastikan sumber pencemaran karena pemeriksaan secara kimiawi masih diperlukan. Namun, kondisi air yang terlihat kotor membuat kemungkinan adanya kontaminasi limbah turut diperiksa.
Pada saat pemeriksaan awal, salinitas air juga disebut masih berada di angka nol. Kondisi itu menunjukkan kawasan tersebut belum terdampak intrusi air laut. Karena itu, salah satu kemungkinan yang muncul adalah kontaminasi amoniak dari limbah yang masuk ke sungai.
“Nanti kalau secara teknisnya bisa langsung ke bagian bidang budi daya. Itu berapa salinitasnya karena tim masih di lapangan,” pungkasnya. (afn)
- Penulis: admin
