Karhutla Tak Kunjung Usai, Swasta Ikut Kerahkan Puluhan Personel di Berau
- account_circle admin
- calendar_month 30 menit yang lalu
- visibility 7
- print Cetak

BERAU – Sejumlah perusahaan swasta bersama TNI, Polri dan tim pemadam kebakaran berjibaku menangani kebakaran hutan dan lahan atau karhutla yang muncul di sejumlah titik di Kabupaten Berau sepanjang akhir Agustus 2026.
PT Hutan Sanggam Berau (HSB) menjadi salah satu perusahaan yang terlibat dalam sejumlah operasi pemadaman bersama perusahaan lain, aparat keamanan hingga petugas pemadam. Puluhan personel, armada tangki air, pompa dan kendaraan pendukung dikerahkan untuk mencegah api meluas.
Direktur Operasional PT Hutan Sanggam Berau, Wawan, mengatakan penanganan karhutla membutuhkan respons cepat serta koordinasi antarpihak, terutama ketika titik panas terdeteksi di kawasan yang sulit dijangkau.
Menurut dia, keterlibatan perusahaan bukan hanya untuk melindungi areal kerja, tetapi juga membantu pengendalian kebakaran agar tidak berkembang dan berdampak terhadap kawasan maupun masyarakat di sekitarnya.
“Penanganan di lapangan dilakukan bersama-sama. Personel perusahaan, perusahaan sekitar, TNI, Polri dan unsur pemadam saling mendukung sesuai kemampuan dan peralatan yang tersedia,” kata Wawan.
Berdasarkan laporan kegiatan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan atau Dalkarhutla, salah satu operasi dilakukan pada 25 Agustus 2026 setelah tim patroli menemukan titik api dari hasil ground check terhadap satu hotspot.
Sebanyak 33 personel gabungan diterjunkan dalam operasi tersebut. Mereka berasal dari PT HSB, PT Inhutani I Labanan, PT Hamparan, PT Berau Coal, TNI, Polri serta Posko Terpadu Labanan.
Tim membawa dua unit water tank dengan kapasitas total sekitar 35 ribu liter, satu mobil pendukung mini tangki, tiga pompa jinjing, puluhan rol selang, nozzle, perangkat komunikasi radio, kendaraan double cabin hingga sepeda motor.
Api akhirnya berhasil dipadamkan pada pukul 18.25 Wita. Luasan areal yang terbakar diperkirakan sekitar 2,5 hektare dengan vegetasi berupa semak belukar serta lahan bekas tebasan.
Operasi berikutnya kembali dilakukan di kawasan Batu Rajang pada 27 Agustus 2026. Ground check dilakukan setelah ditemukan hotspot yang sebelumnya tercatat dalam sistem SiPongi.
Kali ini kekuatan personel yang diterjunkan lebih besar. Sebanyak 40 orang berasal dari PT HSB, PT Inhutani I, PT Berau Coal, PT HAA, Damkar Segah, PT MBJ, PT HPU, Babinsa serta Polres.
Mereka menggunakan dua unit water tank, empat mobil pendukung dan tiga unit pompa untuk melakukan pemadaman.
Areal terbakar diperkirakan sekitar 3,5 hektare. Lokasi tersebut merupakan kawasan yang sebelumnya juga pernah terbakar pada 24 Agustus. Vegetasi didominasi semak serta sejumlah pohon berdiameter sekitar 10 hingga 20 sentimeter.
Api berhasil dikendalikan dan dipadamkan.
Namun, ancaman karhutla di Batu Rajang belum selesai. Pada 29 Agustus 2026, hotspot kembali terdeteksi pada koordinat 2.0544 N dan 117.1428 E.
Sebanyak 32 personel gabungan dari PT HSB, PT HAA, PT Berau Coal, PT HPU, PT MBJ, TNI, Polres dan Polsek diterjunkan.
Dalam operasi tersebut, tim membawa dua unit water tank, tiga mobil pendukung, satu ambulans, tiga mesin alkon, dua pompa punggung dan dua mini tangki.
Luas areal yang terbakar pada kejadian tersebut diperkirakan sekitar 4,5 hektare, dengan vegetasi berupa semak dan pohon berdiameter 10 hingga 20 sentimeter. Api kemudian berhasil dipadamkan.
Perusahaan Ikut Menjadi Kekuatan Pemadaman
Manager Pengamanan Hutan PT HSB, Anwar, mengatakan pola penanganan karhutla di lapangan tidak dapat mengandalkan satu institusi.
Ketersediaan personel, sumber air, kendaraan hingga pompa menjadi faktor penting. Karena itu, perusahaan-perusahaan yang berada di sekitar lokasi kebakaran ikut mengerahkan sumber daya mereka ketika dibutuhkan.
Selain di Batu Rajang, tim PT HSB juga terlibat membantu penanganan kebakaran di Labanan Makmur pada 27 Agustus 2026.
Kebakaran tersebut diketahui setelah ground check terhadap hotspot yang terpantau pada 26 Agustus. Sedikitnya sembilan personel dari PT HSB dan Damkar diterjunkan ke lokasi.
Tim menggunakan pompa milik Damkar dan PT HSB, satu unit water tank Damkar serta dua kendaraan Triton PT HSB.
Sekitar satu hektare areal berupa belukar dan bekas tebasan dilaporkan terbakar sebelum api berhasil dipadamkan.
Anwar mengatakan kerja bersama menjadi penting karena kondisi kebakaran dapat berubah dengan cepat, terutama ketika cuaca kering, vegetasi mudah terbakar dan titik api berada jauh dari sumber air.
“Begitu ada informasi hotspot, yang paling penting adalah memastikan kondisi sebenarnya melalui ground check. Setelah ditemukan api, personel dan peralatan yang tersedia segera digerakkan bersama,” ujarnya.
Menurut Anwar, patroli dan pengecekan lapangan tetap diperlukan meskipun api sudah dinyatakan padam. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi munculnya kembali api dari bara yang masih tersisa.
Rangkaian kejadian tersebut memperlihatkan penanganan karhutla di Berau kini melibatkan kekuatan lintas sektor. Perusahaan swasta menyediakan personel dan peralatan, sementara TNI, Polri, pemadam kebakaran serta unsur pemerintah memperkuat operasi di lapangan.
Kolaborasi itu menjadi penting di tengah munculnya titik-titik panas berulang selama musim kering, ketika kebakaran pada satu kawasan dapat kembali muncul bahkan setelah pemadaman sebelumnya dinyatakan selesai.(*afn)
- Penulis: admin
