Ketahanan Pangan Lokal Diuji
- account_circle admin
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 9
- print Cetak

BERAU — Di tengah tekanan inflasi dan kenaikan harga bahan pokok, pemerintah daerah mulai mendorong masyarakat untuk mengadopsi pola konsumsi alternatif. Wakil Ketua II DPRD Berau, Sumadi, mengusulkan agar warga menanam singkong dan beternak lele sebagai langkah menjaga ketahanan pangan rumah tangga.
Usulan tersebut dinilai sebagai langkah sederhana namun strategis, mengingat tingginya ketergantungan Berau terhadap pasokan pangan dari luar daerah. Perubahan pola konsumsi diharapkan dapat menjadi solusi jangka pendek sekaligus langkah adaptif menghadapi gejolak harga.
Kepala Bidang Distribusi dan Cadangan Pangan Dinas Pangan Berau, Basri, menilai saran tersebut relevan dalam konteks pengendalian inflasi melalui substitusi komoditas. “Iya, betul saja itu. Artinya inflasi ini kan terkait beberapa komoditi. Mungkin salah satunya bidang perikanan, lele tadi bisa jadi substitusi kebutuhan ikan,” ujarnya, Senin (27/4/26).
Ia menjelaskan, ketika harga komoditas utama seperti beras mengalami kenaikan, masyarakat dapat beralih ke sumber pangan lain yang lebih terjangkau. “Kalau misalnya inflasi itu terjadi di beras, bisa beralih ke singkong. Jadi menggantikan, istilahnya substitusi,” jelasnya.
Menurut Basri, kenaikan harga juga dipengaruhi meningkatnya biaya produksi, terutama yang bergantung pada bahan bakar minyak. Hal ini berdampak pada berbagai produk olahan, termasuk tahu dan tempe. “Semua proses produksi yang menggunakan BBM pasti naik. Misalnya tahu, kalau menggunakan mesin berbahan bakar, tentu output produknya juga naik,” katanya.
Meski demikian, dampak kenaikan harga tidak selalu terlihat secara langsung di tingkat konsumen. Sebagian pelaku usaha memilih menyesuaikan jumlah produk tanpa menaikkan harga jual. “Nilainya berapa itu tergantung pengusahanya. Ada yang tidak menaikkan harga, tapi kuantitasnya dikurangi,” tambahnya.
Basri juga mengungkapkan tingginya ketergantungan Berau terhadap pasokan luar daerah. “Kalau data yang ada, sekitar 60 persen kebutuhan kita masih dari luar. Produk dalam daerah hanya mencukupi sekitar 40 persen,” ungkapnya.
Ketergantungan tersebut terutama terjadi pada komoditas utama seperti beras dan bahan pangan lainnya. “Terutama beras, karena itu kebutuhan pokok. Hampir rata-rata komoditi masih dari luar,” katanya.
Untuk komoditas tertentu, seperti sayuran, produksi lokal mulai berkembang meski belum mencukupi seluruh kebutuhan. “Kalau sayuran seperti sawi dan beberapa lainnya sudah ada yang ditanam di sini. Tapi untuk komoditas seperti kentang, kol, bahkan tomat, kadang masih dari luar,” jelasnya.
Dengan kondisi tersebut, pemerintah daerah mendorong masyarakat untuk memanfaatkan potensi lokal sebagai bagian dari strategi jangka panjang menghadapi inflasi. Upaya seperti menanam singkong dan beternak lele dinilai dapat membantu memenuhi kebutuhan pangan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah. (tnr)
- Penulis: admin
