Empat Mahasiswa Doktor UAD Bahas Pendidikan Digital di Berau
- account_circle beraunews
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 15
- print Cetak

Peserta kegiatan diseminasi inovasi pendidikan dan pembelajaran di SMAS Muhammadiyah Tanjung Redeb, Berau.
BERAU–Empat mahasiswa Program Pendidikan Doktor Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta memaparkan hasil penelitian tentang transformasi pendidikan digital dalam kegiatan diseminasi di SMAS Muhammadiyah Tanjung Redeb, Kabupaten Berau, pada 14 Oktober 2026.
Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 15.30 WITA itu mengangkat tema “Transformasi Pendidikan di Era Digital: Sinergi Teknologi, Kepemimpinan, Literasi, dan Pembelajaran Berpusat pada Siswa”. Forum tersebut diikuti guru dari sejumlah sekolah di Kabupaten Berau.
Julita Lindriany membahas kepemimpinan transformasional kepala sekolah dalam penerapan pembelajaran berbasis teknologi. Menurut penelitian itu, digitalisasi sekolah tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan perangkat, tetapi juga kepemimpinan, kesiapan guru, budaya kolaborasi, dan pendampingan berkelanjutan.
“Transformasi digital sekolah bukan hanya soal perangkat, tetapi juga bagaimana kepemimpinan mampu menggerakkan guru untuk beradaptasi dan berinovasi dalam pembelajaran,” ujarnya.
Penelitian Julita mencakup empat dimensi kepemimpinan transformasional, yakni pengaruh ideal, motivasi inspirasional, stimulasi intelektual, dan pertimbangan individual.
Mahasiswa lainnya, Iim, memaparkan penelitian tentang penerimaan dan penggunaan teknologi oleh guru dalam pembelajaran berpusat pada siswa atau Student-Centered Learning (SCL) di SMK Kabupaten Berau.
“Teknologi menjadi bermakna ketika diterima guru, mendapat dukungan dari sekolah, dan diterapkan dalam pedagogi yang berpusat pada siswa,” ujarnya.
Penelitian tersebut menyebut penggunaan Canva, video, LCD, serta model Project Based Learning (PjBL), Problem Based Learning (PBL), dan blended learning dapat mendukung motivasi, kemandirian, kreativitas, kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, literasi digital, dan kesiapan kerja siswa.
Datu Muhammad Nasaruddin mengangkat budaya literasi digital berkelanjutan melalui pendekatan pendidikan transformatif di SMA Kabupaten Berau. Ia menekankan bahwa penggunaan teknologi tidak otomatis membentuk literasi digital yang bermakna.
“Literasi digital tidak cukup hanya dengan bisa menggunakan teknologi. Yang lebih penting adalah bagaimana teknologi dimanfaatkan secara kritis, etis, dan produktif,” ujarnya.
Menurut penelitian itu, literasi digital perlu diintegrasikan ke dalam kurikulum dan budaya sekolah secara berkelanjutan. Penggunaan teknologi dinilai lebih bermakna ketika memperkuat proses berpikir dan keterlibatan siswa.
Sementara itu, Dinar Pratama membahas transformasi pembelajaran puisi Bahasa Indonesia melalui integrasi teknologi dan kearifan lokal untuk memperkuat literasi digital di SMA Negeri Kabupaten Berau.
“Teknologi bukan hanya menjadi alat bantu pembelajaran, tetapi juga dapat menjadi ruang belajar, produksi, ekspresi, kolaborasi, komunikasi, dan publikasi karya,” ujarnya.
Ia menjelaskan kearifan lokal Berau dapat digunakan sebagai sumber inspirasi pembelajaran puisi agar materi lebih dekat dengan pengalaman dan lingkungan siswa. Integrasi teknologi digital dan budaya lokal juga dinilai dapat memperkuat apresiasi terhadap karya sastra dan identitas daerah.
Diseminasi tersebut diikuti 10 guru dari SMAS Muhammadiyah Tanjung Redeb, masing-masing satu guru dari SMAN 1 Berau dan SMAN 4 Berau, dua guru dari SMAN 7 Berau, dua guru dari SMAS Integral Hidayatullah, serta dua guru dari SMK Muhammadiyah.
Keempat pemaparan itu menempatkan kepemimpinan sekolah, kompetensi guru, literasi, kreativitas, teknologi, dan keterlibatan siswa sebagai unsur yang saling berkaitan dalam transformasi pendidikan digital.
- Penulis: beraunews
