Potensi 2.000 Hektare Perairan Berau Jadi Andalan Ekonomi Biru
- account_circle admin
- calendar_month Kamis, 4 Des 2025
- visibility 30
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
BERAU — Penguatan ekonomi pesisir dan potensi kampung bahari kembali menjadi fokus Pemerintah Kabupaten Berau. Dinas Perikanan memetakan sekitar 2.000 hektare perairan di Batu Putih dan Talisayan sebagai kawasan strategis untuk pengembangan budidaya laut bernilai tinggi—mulai dari kerapu, lobster, hingga rumput laut—yang sekaligus mendukung rantai ekonomi kreatif masyarakat pesisir.
Kabid Budidaya Dinas Perikanan Berau, Budiono, menyebut kerapu sebagai komoditas unggulan yang paling prospektif, baik dari sisi harga, efisiensi pemeliharaan, maupun peluang pasar regional.
“Kerapu ini harga jualnya tinggi dan masa pemeliharaannya relatif singkat. Potensi perairannya mendukung, pasarnya jelas, dan ini membuka peluang besar bagi masyarakat untuk memperoleh penghasilan yang lebih stabil,” ujarnya.
Selama ini pemasaran kerapu di Berau sudah terhubung dengan jaringan internasional melalui kapal-kapal dari Hong Kong yang langsung melakukan pembelian di perairan Batu Putih dan Maratua. Konektivitas ini bukan hanya memperkuat rantai pasok, tetapi juga membuka ruang investasi baru yang dapat berdampak pada peningkatan transportasi laut, logistik, dan pemasaran digital berbasis komunitas pesisir.
Untuk memastikan pengembangan budidaya berjalan berkelanjutan, Dinas Perikanan berkolaborasi dengan DKP Kalimantan Timur dalam pendampingan teknis—mulai dari pemilihan lokasi budidaya, grading ikan, manajemen pakan, hingga monitoring kualitas air berbasis digital.
Selain itu, kerja sama dengan BBAP Situbondo memastikan pasokan benih unggul tetap tersedia, sehingga masyarakat tidak lagi mengandalkan tangkapan alam yang rentan mengganggu keseimbangan ekosistem bahari.
Menurut analisis teknis, tingkat keberhasilan budidaya kerapu dapat mencapai 80 persen jika dikelola dengan tepat. Dalam satu unit keramba berisi empat lubang pemeliharaan, potensi keuntungan bisa tembus Rp 45 juta dalam satu siklus enam bulan. Peluang ini dinilai mampu menggerakkan ekonomi kampung, termasuk UMKM berbasis olahan laut, transportasi perairan, hingga wisata edukasi budidaya.
“Dukungan juga lengkap. Dari dinas kabupaten ada pendampingan, DKP Kaltim membantu sarana prasarana, dan dari KKP pun ada peluang bantuan unit keramba untuk masyarakat,” tambah Budiono.
Ia menegaskan bahwa keberlanjutan pengembangan budidaya laut membutuhkan kolaborasi erat antara pemerintah, akademisi, investor, hingga masyarakat pesisir yang menjadi penjaga nilai budaya bahari.
“Kolaborasi adalah kunci agar budidaya berkembang, berdaya saing, dan tetap menjaga kearifan lokal pesisir Berau,” pungkasnya. (Adv/Akm)
- Penulis: admin


Saat ini belum ada komentar