Ketika Modernisasi Mengetuk Talisayan, Tradisi Bahari Tetap Bertahan
- account_circle admin
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 14
- print Cetak

TALISAYAN – Di tengah perubahan zaman dan derasnya arus informasi, masyarakat Talisayan masih mempertahankan satu tradisi yang mengikat kehidupan mereka dengan laut: Tulak Bala Buang Naas.
Tradisi yang diwariskan lintas generasi itu kembali dilaksanakan di Pendopo Kecamatan Talisayan, Selasa (12/8/2026). Bukan sekadar agenda tahunan, ritual tersebut menjadi ruang bagi masyarakat untuk berdoa, menjaga silaturahmi, sekaligus mempertahankan identitas masyarakat pesisir.
Bagi warga Talisayan, laut bukan hanya bentang alam. Sebagian kehidupan masyarakat bergantung pada kawasan pesisir. Karena itu, keselamatan menjadi salah satu pesan utama yang terus dibawa dalam tradisi tersebut.
Kepala Kampung Talisayan, Ali Wardana, mengatakan tradisi Tulak Bala telah berlangsung sejak dahulu dan terus dipertahankan hingga sekarang. Selain menjadi doa bersama, tradisi tersebut merupakan ikhtiar masyarakat memohon perlindungan dan keselamatan kepada Allah SWT.
“Karena masyarakat Talisayan sangat dekat dengan laut, kami berharap seluruh aktivitas masyarakat di pesisir selalu diberikan perlindungan dan keselamatan. Tradisi ini juga menjadi sarana silaturahmi sekaligus identitas daerah,” ujarnya.
Salah satu bagian penting dalam tradisi tersebut adalah prosesi Buang Naas. Air linjuang yang sebelumnya telah disiapkan dan dibacakan doa disiramkan kepada perwakilan anak masyarakat kampung. Tetua adat mengawali prosesi tersebut sebelum kemudian dilanjutkan Wakil Bupati Berau Gamalis bersama pejabat dan unsur masyarakat yang hadir.
Di balik prosesi itu tersimpan harapan sederhana: keselamatan bagi masyarakat dan dijauhkannya kampung dari marabahaya.
Tradisi tersebut sekaligus membuka rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun Kampung Talisayan dan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Tahun ini, masyarakat mengangkat tema “Merawat Silaturahmi, Melestarikan Adat Bahari untuk Talisayan Berkah dan Harmoni”.
Namun, tantangan menjaga tradisi kini tak hanya soal bagaimana ritual terus dilaksanakan setiap tahun. Perubahan pola hidup, perkembangan teknologi, hingga kuatnya pengaruh media sosial membuat proses pewarisan budaya kepada generasi berikutnya menjadi semakin penting.
Wakil Bupati Berau, Gamalis, menilai adat bahari Talisayan harus tetap memiliki tempat di tengah perkembangan masyarakat.
“Ini bagian dari kebudayaan masyarakat Talisayan yang harus kita jaga. Kita ingin masyarakat terus maju, tetapi tidak kehilangan jati dirinya,” katanya.
Menurut Gamalis, generasi muda perlu diperkenalkan dan dilibatkan dalam kegiatan adat. Tanpa regenerasi, tradisi yang selama ini bertahan berisiko semakin jauh dari kehidupan generasi berikutnya.
Pelestarian adat juga dinilai dapat berjalan bersama pengembangan pariwisata pesisir selatan Berau. Tradisi lokal memiliki sesuatu yang tidak dapat digantikan hanya dengan pembangunan destinasi: cerita, karakter, dan identitas masyarakat yang hidup di dalamnya.
Gamalis melihat nilai tersebut sebagai potensi yang dapat memperkaya pengalaman wisatawan sekaligus menjadi pembeda Talisayan dengan daerah pesisir lainnya.
Bagi masyarakat Talisayan, Tulak Bala Buang Naas pada akhirnya bukan sekadar ritual untuk mempertahankan sesuatu dari masa lalu.
Tradisi itu menjadi cara masyarakat menjaga hubungan dengan laut, mengikat kembali kebersamaan, serta memastikan bahwa kemajuan tidak membuat Talisayan kehilangan cerita tentang siapa mereka. (afn)
- Penulis: admin
