Merah Putih Berkibar di Bawah Laut Maratua
- account_circle admin
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 22
- print Cetak

MARATUA — Sang Merah Putih bergerak perlahan di bawah permukaan laut Maratua. Di antara birunya perairan dan hamparan terumbu karang, sejumlah penyelam berdiri dalam formasi untuk memberi penghormatan kepada bendera Indonesia.
Pemandangan itu menjadi cara Berau Divers memperingati Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Bukan hanya mengibarkan bendera di bawah laut, komunitas penyelam ini juga melakukan transplantasi terumbu karang sebagai bagian dari upaya memulihkan ekosistem laut Maratua.
Mengusung semangat “Cinta Maratua untuk Negeri”, kegiatan yang berlangsung pada 7-9 Agustus 2026 itu diikuti lebih dari 30 peserta, terdiri atas scuba diver dan freediver.
Bagi mereka, perayaan kemerdekaan kali ini tidak hanya berbicara tentang nasionalisme. Ada pesan lain yang ingin dibawa ke permukaan: laut yang indah juga membutuhkan perlindungan.
Rangkaian kegiatan dimulai dengan transplantasi terumbu karang. Media transplantasi ditempatkan di sejumlah titik bawah laut agar fragmen karang dapat kembali tumbuh dan berkembang.
Bupati Berau Sri Juniarsih Mas yang hadir dalam seremoni transplantasi memberikan apresiasi terhadap upaya komunitas penyelam tersebut.
“Maratua adalah salah satu kebanggaan kite. Habitat yang ada di dalam aut membutuhkan karang untuk hidup. Kegiatan ini menjadi bentuk dukungan kita untuk menjaga karang agar tetap terjaga, sehingga habitat di dalamnya dapat hidup dengan baik dan potensi wisata yang kita miliki dapat terus dikembangkan,” ujarnya.
Sri mengatakan kekayaan bawah laut Maratua telah lama menjadi salah satu daya tarik utama pariwisata Berau. Wisatawan dan penyelam dari berbagai daerah hingga mancanegara datang untuk melihat langsung kehidupan bawah laut pulau tersebut.
Salah satu yang menjadi magnet adalah kumpulan barracuda yang telah menjadi ikon penyelaman Maratua.
“Saya mengapresiasi kerja tim Berau Divers dalam menjaga karang, mengembalikan karang yang rusak, kemudian ditambah dengan kegiatan pengibaran bendera di bawah laut. Teruslah melakukan kegiatan positif dan mengampanyekan upaya menjaga serta melestarikan laut dan karang kepada masyarakat nasional maupun internasional,” tambahnya.
Selepas kegiatan konservasi, para penyelam membawa Merah Putih menuju kedalaman laut. Tim freediver membawa bendera menuju titik pelaksanaan upacara bawah laut. Bendera kemudian diserahkan kepada inspektur upacara dan tim pengibar sebelum para peserta mengambil posisi untuk memberikan penghormatan.
Ketua Berau Divers Fitriani mengatakan Maratua dipilih bukan tanpa alasan. Pulau itu menjadi salah satu ikon wisata bahari Kabupaten Berau yang telah dikenal hingga tingkat internasional.
“Transplantasi terumbu karang merupakan salah satu program Berau Divers sebagai upaya memberikan sumbangsih dalam melestarikan karang-karang yang ada di Pulau Maratua. Sedangkan pengibaran bendera di bawah laut merupakan bentuk rasa nasionalisme kami sebagai para penyelam,” kata Fitriani.
Ketua Panitia Berau Divers Agus mengatakan posisi Maratua sebagai salah satu pulau kecil terluar Indonesia turut memberikan makna tersendiri bagi pengibaran Merah Putih.
“Khusus Pulau Maratua, kami memilihnya karena Maratua merupakan salah satu pulau kecil terluar Indonesia. Di wilayah terluar pun kita harus terus menumbuhkembangkan rasa nasionalisme,” ujar Agus.
Bagi komunitas tersebut, membawa Merah Putih ke bawah laut bukan sekadar membuat perayaan kemerdekaan terlihat berbeda. Mereka ingin menyampaikan bahwa rasa memiliki terhadap Indonesia juga berarti menjaga kekayaan alam yang berada di dalamnya.
Pesan itu kemudian dirangkum Berau Divers melalui slogan “One Ocean, One Responsibility.” Laut, menurut mereka, merupakan ruang hidup yang saling terhubung. Kerusakan di satu tempat dapat memberikan dampak terhadap ekosistem yang lebih luas. Karena itu, tanggung jawab menjaganya tidak dapat dibebankan hanya kepada penyelam atau masyarakat pesisir.
Fitriani mengatakan konservasi juga tidak selalu harus dimulai dari kegiatan besar seperti transplantasi karang.
Perilaku wisatawan ketika berada di laut, menurut dia, justru menjadi salah satu bagian paling sederhana sekaligus penting dalam menjaga keberlanjutan ekosistem.
“Menjaga laut bukan hanya dengan melakukan transplantasi terumbu karang. Hal yang paling sederhana adalah memastikan setiap aktivitas kita tidak justru memberikan dampak buruk terhadap ekosistem. Jangan menyentuh atau menginjak terumbu karang. jangan mengganggu atau menyakiti biota laut, dan mari menjalankan aktivitas wisata secara beretika dengan mengikuti imbauan yang telah disampaikan pemerintah maupun komunitas,” ujar Fitriani.
Ia juga mengingatkan perlindungan terhadap satwa laut, terutama spesies yang rentan maupun dilindungi.
“Kami mengecam praktik-paktik yang mengeksploitasi atau menyakiti satwa laut untuk kepentingan apa pun, termasuk terhadap penyu yang keberadaannya perlu terus kita jaga. Keindahan laut seharusnya dinikmati dengan tetap menghormati kehidupan yang ada di dalamnya, bukan dengan mengeksploitasinya,” tegasnya.
Menurut Fitriani, semangat One Ocean, One Responsibility harus menjadi kesadaran bersama.
“Laut yang sama memberikan kehidupan dan manfaat kepada kita semua. Karena itu, tanggung jawab untuk menjaganya juga menjadi tanggung jawab kita bersama. One Ocean, One Responsibility,” katanya.
Agus mengatakan transplantasi dilakukan sebagai bagian dari upaya memulihkan terumbu karang pada titik-titik yang mengalami kerusakan.
“Tujuan kami adalah bagaimana mengembalikan ekosistem laut di kawasan Maratua dan sekitarnya agar menjadi lebih baik sehingga dapat terus dinikmati wisatawan lokal, domestik maupun mancanegara. Tentunya kegiatan seperti ini juga membutuhkan dukungan masyarakat lokal untuk ikut menjaga apa yang sudah kita bangun bersama,” ujarnya.
Menurut dia, kekayaan laut tidak dapat dipertahankan jika upaya pelestarian hanya dilakukan oleh kelompok tertentu.
“Kita punya tanggung jawab yang sama untuk menjaga apa yang sudah ada, apa yang menjadi kekayaan daerah agar dapat terus dilestarlkan,” katanya.
Pengibaran Merah Putih di bawah laut juga diarahkan untuk mengingatkan generasi muda bahwa nasionalisme tidak hanya diwujudkan melalui seremoni.
“Kita ingin kembali menghidupkan rasa nasionalisme pada generasi sekarang. Di wilayah terluar pun kita harus terus menumbuhkembangkan rasa nasionalisme itu,” ujar Agus.
Rangkaian “Cinta Maratua untuk Negeri” terlaksana melalui kolaborasi Berau Divers dengan pemerintah daerah, dunia usaha, komunitas, serta berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap konservasi lingkungan dan pengembangan wisata bahari di Kabupaten Berau.
Bagi Berau Divers, kolaborasi itu penting karena menjaga Maratua tidak mungkin dilakukan oleh satu komunitas saja.
Pemerintah, perusahaan, masyarakat pesisir, pelaku wisata, wisatawan hingga generasi muda mempunyai bagian dalam memastikan ekosistem laut tetap terpelihara.
Pesan itu pula yang dibawa para penyelam ketika mereka turun ke bawah permukaan Maratua menjelang peringatan kemerdekaan.
Di sana, Merah Putih bukan hanya dikibarkan di antara terumbu karang. Bendera itu menjadi pengingat bahwa kekayaan alam yang berada di wilayah Indonesia juga datang bersama kewajiban untuk merawatnya.
Sebab bagi para penyelam Berau Divers, menyelam di Maratua bukan hanya perkara menikmati kejernihan air dan kehidupan di bawahnya. Ada pekerjaan lain setelah kembali ke permukaan: memastikan laut yang sama masih dapat dinikmati oleh generasi berikutnya. (afn)
- Penulis: admin
