Pentingnya Strategi Ketahanan Bahan Makanan Melalui Pertanian Berau
- account_circle admin
- calendar_month Senin, 17 Nov 2025
- visibility 23
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TANJUNG REDEB — Di pasar-pasar tradisional, beras lokal masih dibeli harian, ikan tangkap segar mengisi tambak dan dermaga, dan perkebunan tumbuh sebagai sumber pendapatan warga. Namun di balik aktivitas yang tampak stabil itu, ada satu hal yang terus disuarakan DPRD Berau: ketahanan pangan tidak boleh dianggap beres hanya karena stok hari ini terlihat aman.
Anggota Komisi II DPRD Berau, Sakirman, menegaskan bahwa ketahanan pangan adalah isu masa depan — bukan sekadar masalah logistik. Bagi Berau, yang memiliki potensi besar di sektor pertanian dan perikanan, persoalan ini menjadi semakin penting untuk dipikirkan sejak sekarang sebelum terjadi situasi yang tak diinginkan.
“Ketahanan pangan tak boleh dipandang remeh. Kita punya potensi besar, tapi masih ada tantangan yang harus diselesaikan agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi dengan baik,” ujarnya.
Peta Pangan Tak Cukup Hanya di Atas Kertas
Sakirman menilai strategi daerah harus lebih terstruktur, terutama oleh Dinas Pangan Berau sebagai leading sector. Ketersediaan pangan tidak hanya bergantung pada produksi petani, tetapi juga distribusi, pasca panen, pengelolaan stok, hingga akses untuk masyarakat di wilayah terpencil.
Perubahan iklim, cuaca ekstrem, hingga fluktuasi pasar global dapat sewaktu-waktu mengguncang stabilitas pangan. Karena itu, diversifikasi hasil pangan penting agar Berau tidak hanya bergantung pada satu sumber produksi.
“Diversifikasi sumber pangan harus diperhatikan. Kita tidak boleh hanya bergantung pada satu komoditas yang rentan cuaca,” tegasnya.
Pertanian, Perikanan, dan Keterlibatan Publik
Sektor perikanan menjadi salah satu peluang besar, begitu pula dengan tanaman pangan lokal yang mulai dikembangkan di berbagai kampung. Namun Sakirman menekankan, ketahanan pangan hanya dapat terwujud jika pemerintah, swasta, dan masyarakat bekerja dalam satu kesadaran kolektif.
Tidak semua persoalan pangan selesai dengan anggaran — sebagian besar selesai dengan disiplin, kolaborasi dan kemandirian.
“Ketahanan pangan bukan hanya urusan pemerintah. Ini tanggung jawab bersama,” tutupnya. (adv/yf)
- Penulis: admin

Saat ini belum ada komentar