Mendorong Anak Menulis dari Hati, Bukan Sekadar Tugas Sekolah
- account_circle admin
- calendar_month Minggu, 27 Jul 2025
- visibility 243
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TANJUNG REDEB — Bupati Berau, Sri Juniarsih, memberikan apresiasi terhadap pelatihan dan lomba menulis cerita fiksi yang digelar Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Berau pada 24–25 Juli 2025. Ia menyebut kegiatan ini sebagai langkah nyata dalam membangun generasi literat yang kreatif dan percaya diri.
“Saya sangat bangga dengan semangat anak-anak kita. Ini langkah nyata dalam membangun generasi literat yang kreatif dan percaya diri. Saya harap program seperti ini bisa terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak sekolah di Berau,” ujarnya.
Kegiatan yang digelar dalam rangka Bulan Kunjungan Perpustakaan itu menghadirkan semangat berbeda di aula Dispusip. Selama dua hari, sebanyak 56 siswa dari 29 Sekolah Dasar di empat kecamatan mengikuti pelatihan sekaligus lomba menulis cerita fiksi.
Kepala Dispusip Berau, Yudha Budisantosa, mengatakan bahwa program ini dirancang bukan semata sebagai kompetisi, tetapi sebagai ruang belajar yang menyenangkan bagi anak-anak yang berminat dalam dunia literasi, khususnya menulis.
“Setiap sekolah mengirim dua hingga tiga siswa yang tertarik menulis. Kami ingin membangun keberanian mereka dalam berekspresi melalui tulisan,” ujarnya.
Hari pertama kegiatan diisi dengan pelatihan dasar teknik menulis cerita fiksi. Anak-anak diajak mengenal struktur narasi, membangun karakter, serta menyusun alur cerita yang menarik. Di hari kedua, mereka diberi waktu menulis cerita berdasarkan apa yang telah mereka pelajari.
Menurut Yudha, literasi tidak hanya soal membaca, tetapi juga menulis sebagai bentuk ekspresi diri. “Menulis adalah cara anak-anak menuangkan dunia dari sudut pandang mereka sendiri,” katanya.
Yang menarik, karya-karya terbaik dari kegiatan ini tidak berhenti di meja juri. Dispusip akan membukukan dan menerbitkan cerita pilihan, sebagai bentuk apresiasi sekaligus upaya menumbuhkan rasa percaya diri anak terhadap karyanya. Melihat namanya tercetak di buku, menurut Yudha, adalah pengalaman penting yang bisa memotivasi mereka lebih jauh.
Di balik kegiatan ini tersimpan harapan besar agar literasi menjadi bagian dari keseharian yang tumbuh secara alami, bukan karena tuntutan.
“Kami ingin mengubah cara pandang bahwa membaca dan menulis bisa lahir dari minat dan kesenangan, bukan karena paksaan,” pungkasnya.(adv/yf)
- Penulis: admin


Saat ini belum ada komentar