Mundur dari NasDem, Mikael Sengiang Isyaratkan Akan Emban Amanah Strategis
- account_circle admin
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 23
- print Cetak

BERAU – Dinamika politik di Kabupaten Berau kembali menjadi perhatian publik setelah Mikael Sengiang mengonfirmasi pengunduran dirinya dari Partai NasDem. Surat pengunduran diri itu disebut telah disampaikan secara resmi sejak 6 Maret 2026.
Meski belum membuka secara terang arah politik berikutnya, Mikael memberi sinyal bahwa dirinya telah menerima amanah baru di partai lain. Namun, untuk saat ini ia memilih belum mengungkap nama partai yang akan menjadi tempat perjuangan politik selanjutnya.
“Memang sudah ada amanah dan kepercayaan baru yang diberikan kepada saya. Tetapi untuk saat ini belum bisa saya sampaikan,” ujarnya kepada wartawan.
Keputusan meninggalkan NasDem, menurut Mikael, bukan dilandasi konflik ataupun kekecewaan. Ia justru mengaku memiliki banyak kenangan dan pengalaman berharga selama berada di partai besutan Surya Paloh tersebut.
“Partai NasDem itu partai yang luar biasa, karena mampu menang dua kali dalam pemilu di Kabupaten Berau. Saya pribadi juga banyak belajar politik di sana,” katanya.
Ia mengaku NasDem menjadi partai pertama yang memberinya ruang untuk tumbuh dalam dunia politik. Sebagai putra daerah asal Kecamatan Kelay, Mikael merasa perjalanan politiknya tidak bisa dilepaskan dari pengalaman yang ia dapatkan selama bersama NasDem.
“Sebagai anak kampung dari Kelay, saya diberi ruang untuk belajar dan berkembang dalam politik,” ucapnya.
Meski demikian, Mikael menilai setiap politisi memiliki jalan perjuangan masing-masing. Baginya, politik bukan hanya tentang partai, melainkan bagaimana menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Pertimbangan utama saya adalah bagaimana bisa memberikan pemikiran dan perjuangan yang maksimal bagi rakyat,” tegasnya.
Ia menilai politik memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan masyarakat sehari-hari. Mulai dari harga pupuk, harga beras, bibit pertanian, hingga berbagai kebijakan pembangunan daerah, semuanya lahir dari proses politik.
Karena itu, menurutnya, seorang politisi harus memiliki keberanian untuk berdiri bersama kepentingan rakyat kecil.
“Kalau politik mampu memberikan manfaat bagi rakyat, maka itu yang harus diperjuangkan,” katanya.
Sebagai sarjana hukum dan advokat, Mikael juga mengaku ingin terus berkontribusi terhadap persoalan-persoalan masyarakat Berau, khususnya terkait isu kawasan hutan yang belakangan menjadi perhatian luas.
Ia menyebut sejak 2018 dirinya aktif berdiskusi dengan tokoh masyarakat, tokoh agama, pemuda, dan unsur pemerintah mengenai persoalan kawasan budidaya kehutanan (KBK). Menurutnya, masih banyak masyarakat yang berkebun atau berladang di kawasan hutan tanpa memahami persoalan hukumnya.
“Ketika ada sengketa kawasan hutan, baik warga dengan perusahaan maupun warga dengan negara, harus diutamakan dialog sosial dan musyawarah,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya penerapan asas ultimum remedium dalam penegakan hukum, yakni menjadikan pidana sebagai langkah terakhir setelah upaya persuasif dan dialog dilakukan.
Di tengah spekulasi politik yang berkembang, Mikael memastikan dirinya tetap akan berada di jalur perjuangan yang menurutnya berpihak kepada masyarakat. Sementara soal partai baru yang akan ia emban, publik diminta menunggu pengumuman resmi dalam waktu mendatang.(*/)
- Penulis: admin
