SPBN Tak Cukup, Warga Maratua Hanya Nikmati BBM Dua Hari
MARATUA – Kekurangan bahan bakar minyak (BBM) kini menjadi ancaman nyata bagi kehidupan masyarakat di Pulau Maratua, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Pulau yang dikenal sebagai salah satu destinasi unggulan pariwisata di Bumi Batiwakkal ini kini menghadapi persoalan serius terkait distribusi energi yang tak kunjung stabil.
Terletak sekitar tiga jam perjalanan menggunakan speedboat dari Kota Tanjung Redeb, Maratua dihuni lebih dari seribu kepala keluarga. Sebagian besar dari mereka menggantungkan hidup pada sektor perikanan dan pariwisata. Namun, akses BBM yang terbatas membuat aktivitas ekonomi mereka terhambat.
“Kami memang sudah memiliki Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN), tapi kapasitasnya jauh dari cukup. Bahkan, kebutuhan nelayan saja tidak terpenuhi, apalagi masyarakat umum,” kata Camat Maratua, Ariyanto, saat ditemui pekan lalu.
Ia menyebut, BBM yang didistribusikan ke Maratua saat ini hanya mampu mencukupi kebutuhan selama dua hari. Setelah itu, warga harus menunggu pengiriman berikutnya—yang seringkali tak menentu. Kondisi ini membuat roda ekonomi di pulau tersebut berjalan terseok-seok.
Minimnya pasokan ini tidak hanya mengganggu nelayan yang membutuhkan BBM untuk melaut, tetapi juga berdampak pada pelaku usaha pariwisata yang menggantungkan operasionalnya pada ketersediaan energi.
“Kami sudah mengajukan pembangunan dua unit SPBU tambahan. Satu diusulkan melayani Kampung Payung-Payung dan Kampung Bohe Silian, dan satu lagi di Kampung Teluk Harapan serta Kampung Teluk Alulu,” ujar Ariyanto.
Namun, upaya tersebut masih terganjal oleh aturan teknis yang hanya memperbolehkan satu SPBU dalam satu kecamatan. Hal ini menjadi hambatan tersendiri, mengingat cakupan wilayah Maratua yang cukup luas dan kebutuhan BBM yang tinggi.
Ariyanto berharap ada fleksibilitas kebijakan agar distribusi BBM di wilayah kepulauan seperti Maratua bisa lebih merata. Ia juga menekankan pentingnya penambahan kuota BBM yang dikirim ke wilayahnya agar kebutuhan masyarakat bisa terpenuhi setidaknya untuk 10 hingga 15 hari.
“Kalau begini terus, bukan hanya ekonomi yang terganggu, tetapi juga kepercayaan wisatawan bisa menurun. Ini pulau strategis, tapi pasokan energinya masih sangat terbatas,” ujarnya.
Sebagai salah satu ikon pariwisata Kalimantan Timur, Maratua menyimpan potensi besar. Namun, tanpa dukungan infrastruktur dasar seperti BBM yang memadai, potensi itu terancam tidak berkembang secara optimal. Pemerintah pusat dan daerah diharapkan segera merespons kebutuhan mendesak ini agar denyut nadi kehidupan dan ekonomi masyarakat Maratua tak makin melemah. (Lit)
