Kemarau Dongkrak Beban Listrik Berau, Tembus 49,76 MW pada Juli
- account_circle admin
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 23
- print Cetak

BERAU – Cuaca panas selama musim kemarau mulai tercermin pada konsumsi listrik masyarakat Kabupaten Berau. Beban sistem kelistrikan daerah ini menunjukkan tren meningkat sejak Mei 2026 dan mencapai titik tertinggi sekitar 49,76 megawatt (MW) pada Juli 2026.
Manajer PLN ULP Tanjung Redeb, Clif Salomo, mengatakan peningkatan beban terlihat dari data sistem kelistrikan Berau selama periode kemarau.
Pada Mei 2026, beban puncak masih berada di kisaran 45 MW. Angkanya kemudian naik menjadi sekitar 47 MW pada Juni, sebelum melonjak mendekati 50 MW pada Juli.
“Berdasarkan data sistem yang telah kami verifikasi, beban puncak sistem kelistrikan Berau menunjukkan tren peningkatan selama periode kemarau. Beban puncak tertinggi yang tercatat pada periode tersebut mencapai sekitar 49,76 MW pada Juli 2026,” kata Clif.
Jika dibandingkan dengan beban sekitar 45 MW pada Mei, kenaikan menuju 49,76 MW pada Juli setara sekitar 10,6 persen. Meski demikian, PLN menyebut konsumsi listrik bersifat fluktuatif dan tidak serta-merta menyimpulkan seluruh kenaikan tersebut disebabkan oleh musim kemarau.
Pola yang dipantau PLN menunjukkan kebutuhan listrik masyarakat memang cenderung bertambah selama periode tersebut. Salah satu faktor yang ikut memengaruhi adalah meningkatnya penggunaan perangkat pendingin ketika suhu udara terasa lebih panas.
Menariknya, tekanan terbesar terhadap sistem kelistrikan Berau bukan terjadi pada siang hari ketika matahari sedang terik. Beban tertinggi justru umumnya muncul pada sore hingga malam hari, sekitar pukul 18.00–20.00 WITA.
Puncaknya cukup sering tercatat sekitar pukul 19.00 WITA.
“Pada periode tersebut, aktivitas masyarakat cenderung meningkat secara bersamaan, mulai dari penggunaan penerangan, AC atau kipas angin, televisi, peralatan memasak, hingga berbagai perangkat elektronik lainnya,” ujar Clif.
Artinya, kenaikan beban tidak berasal dari satu perangkat saja. Pada malam hari, berbagai kebutuhan listrik rumah tangga digunakan hampir bersamaan. Lampu dinyalakan, televisi dan perangkat elektronik digunakan, aktivitas memasak berlangsung, sementara AC atau kipas tetap bekerja setelah cuaca panas sepanjang hari.
Kombinasi inilah yang dapat mendorong sistem mencapai beban tertingginya.
AC menjadi salah satu perangkat yang mendapat perhatian ketika konsumsi listrik meningkat pada musim panas. Menurut Clif, penggunaan pendingin ruangan berpotensi bertambah ketika suhu udara meningkat, baik di rumah, kantor, pertokoan maupun tempat usaha.
Namun PLN tidak menyebut angka khusus mengenai seberapa besar kontribusi AC terhadap kenaikan beban listrik Berau.
Selain AC, sejumlah perangkat lain juga berpotensi lebih sering digunakan selama kemarau. Di antaranya kipas angin, kulkas dan freezer, dispenser atau pendingin minuman, hingga pompa air.
“Peningkatan penggunaan berbagai peralatan tersebut, apabila terjadi secara bersamaan pada banyak pelanggan, dapat turut memberikan kontribusi terhadap peningkatan beban sistem, khususnya pada jam-jam beban puncak,” kata Clif.
Data tersebut memperlihatkan perubahan cukup nyata dalam tiga bulan. Dari sekitar 45 MW pada Mei, beban bertambah sekitar 2 MW pada Juni dan kembali meningkat sekitar 2,76 MW pada Juli.
Dengan beban yang telah menyentuh 49,76 MW, pola konsumsi listrik selama kemarau menjadi salah satu hal yang perlu dicermati, terutama apabila cuaca panas berkepanjangan membuat penggunaan perangkat pendingin tetap tinggi.(*/afn)
- Penulis: admin
