Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Nasional » Refleksi HUT RI ke-81, Mikael Sengiang: NKRI Tak Cukup Dijaga dengan Slogan, tapi Keadilan

Refleksi HUT RI ke-81, Mikael Sengiang: NKRI Tak Cukup Dijaga dengan Slogan, tapi Keadilan

  • account_circle admin
  • calendar_month Minggu, 16 Agt 2026
  • visibility 120
  • print Cetak

BERAU — Ketua Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kabupaten Berau, Mikael Sengiang, mengatakan peringatan 81 tahun kemerdekaan Republik Indonesia semestinya tidak berhenti pada seremoni. Menurut dia, kemerdekaan harus diukur dari sejauh mana negara mampu menghadirkan keadilan dan kesejahteraan hingga masyarakat di pedalaman dan perbatasan.

“Pertanyaan penting yang harus kita ajukan bukan sekadar sudah berapa lama Indonesia merdeka, tetapi sejauh mana kemerdekaan itu telah dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia,” kata Mikael dalam refleksinya menyambut HUT ke-81 Republik Indonesia, 17 Agustus 2026.

Mikael mengatakan perjalanan lebih dari delapan dekade Indonesia dibangun melalui perjuangan panjang dan pengorbanan para pendahulu bangsa. Karena itu, menurut dia, kemerdekaan bukan sekadar peristiwa sejarah, melainkan tanggung jawab yang harus terus dijaga oleh setiap generasi.

Ia menyinggung perjalanan politik Indonesia yang melewati masa Orde Lama, Orde Baru, hingga Reformasi. Setiap periode, kata dia, mempunyai capaian sekaligus kekurangan yang dapat menjadi pelajaran.

Menurut Mikael, masyarakat tidak semestinya terjebak dalam romantisme terhadap satu periode pemerintahan dan menganggap periode lainnya sepenuhnya keliru.

“Sistem pemerintahan boleh berubah, pemimpin boleh berganti, partai politik boleh datang dan pergi. Tetapi Indonesia harus tetap menjadi rumah bersama,” ujarnya.

Persatuan Harus Dibangun dengan Keadilan

Mikael juga menyoroti persoalan persatuan dan munculnya suara-suara di sejumlah daerah yang mempertanyakan hubungan mereka dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Menurut dia, persoalan semacam itu tidak cukup dijawab melalui slogan maupun pendekatan represif. Pemerintah justru harus melihat akar persoalan yang membuat sebagian masyarakat merasa belum memperoleh keadilan.

“Kita harus berani bertanya mengapa sebagian masyarakat sampai merasa tidak mendapatkan keadilan dari negaranya sendiri,” katanya.

Ia mengatakan pengalaman sejarah Timor Timur, yang kini menjadi Timor-Leste, patut menjadi pelajaran bagi Indonesia dalam menjaga keutuhan negara.

Menurut Mikael, ketimpangan pembangunan, pengelolaan sumber daya alam yang tidak memberikan manfaat sepadan bagi masyarakat setempat, hingga aspirasi warga yang tidak didengar dapat menimbulkan kekecewaan terhadap negara.

Karena itu, kata dia, mempertahankan NKRI tidak cukup hanya dengan mengucapkan slogan “NKRI harga mati.”

“Kalimat itu harus dibuktikan dengan menghadirkan keadilan, kesejahteraan, dan pemerataan pembangunan,” ujar Mikael.

Menurut dia, persatuan yang tumbuh dari rasa keadilan akan jauh lebih kuat dibandingkan persatuan yang hanya dipertahankan melalui slogan.

Nasionalisme Bukan Membenci Perbedaan

Mikael turut mengingatkan pentingnya menanamkan nasionalisme yang tidak berubah menjadi fanatisme sempit.

Indonesia, kata dia, lahir dari keberagaman ribuan pulau, suku, bahasa, kebudayaan, dan keyakinan. Perbedaan tersebut seharusnya menjadi kekuatan, bukan alasan untuk saling mempertentangkan masyarakat.

Ia meminta masyarakat menjauhi rasisme, politik identitas, serta sentimen kesukuan dan keagamaan yang berpotensi memecah persatuan.

“Nasionalisme Indonesia tidak boleh berubah menjadi chauvinisme. Cinta kepada tanah air tidak boleh berarti membenci orang lain,” katanya.

Menurut Mikael, nasionalisme harus berangkat dari penghormatan terhadap martabat manusia dan kesetaraan setiap warga negara.

Indonesia yang kuat, kata dia, bukanlah Indonesia yang memaksa seluruh masyarakat menjadi seragam, melainkan negara yang mampu menjaga kehidupan bersama di tengah keberagaman.

Kemerdekaan Harus Sampai ke Pedalaman

Dalam refleksinya, Mikael memberi perhatian khusus terhadap ketimpangan pembangunan antara pusat dan daerah.

Menurut dia, setelah 81 tahun merdeka, masih terdapat masyarakat yang membutuhkan akses lebih baik terhadap pendidikan, pelayanan kesehatan, jalan, listrik, internet, serta kesempatan ekonomi.

Kondisi tersebut terutama masih dirasakan masyarakat di wilayah pedalaman dan perbatasan.

“Jangan sampai pembangunan hanya terlihat megah di pusat kota, sementara masyarakat yang tinggal jauh dari pusat pemerintahan masih bertanya kapan mereka benar-benar merasakan kemerdekaan,” ujarnya.

Bagi masyarakat pedalaman, kata Mikael, ukuran kemerdekaan tidak selalu berupa pembangunan gedung besar atau infrastruktur monumental.

Kemerdekaan dapat hadir melalui jalan yang dapat dilewati dengan layak, sekolah berkualitas, fasilitas kesehatan yang mudah dijangkau, harga hasil pertanian yang menguntungkan petani, tersedianya lapangan kerja, hingga listrik yang menyala secara merata.

“Itulah bentuk kemerdekaan yang nyata,” katanya.

Kritik Bukan Berarti Anti-Indonesia

Mikael juga mengatakan kritik terhadap pemerintah tidak seharusnya serta-merta dipandang sebagai sikap anti-Indonesia.

Menurut dia, masyarakat yang mengkritik kebijakan pemerintah ataupun memperjuangkan hak warga tetap merupakan bagian dari kehidupan demokrasi.

“Mengkritik pemerintah bukan berarti anti-Indonesia. Memperjuangkan hak masyarakat bukan berarti ingin memecah bangsa. Mempertanyakan kebijakan negara bukan berarti membenci negara,” ujarnya.

Ia mengatakan kecintaan terhadap Indonesia justru dapat diwujudkan melalui keberanian mengingatkan pemerintah ketika terdapat kebijakan yang dianggap tidak berpihak kepada masyarakat.

Namun Mikael mengingatkan agar perbedaan pandangan politik tidak menghilangkan persaudaraan sebagai sesama warga negara.

Menurut dia, masyarakat boleh berbeda pilihan politik maupun pendapat, tetapi kepentingan bangsa harus tetap ditempatkan di atas pertentangan kelompok.

Ajak Perkuat Solidaritas Rakyat

Memasuki usia kemerdekaan ke-81, Mikael mengajak masyarakat memperkuat solidaritas sosial.

Indonesia, kata dia, membutuhkan semakin banyak orang yang bersedia menjadi penghubung antarkelompok, bukan menciptakan tembok pemisah berdasarkan suku, agama, ras, ataupun pilihan politik.

“Kita membutuhkan konsolidasi rakyat, gerakan untuk saling membantu, saling menguatkan, dan saling menjaga tanpa melihat suku, agama, ras maupun latar belakang politik,” katanya.

Menurut Mikael, kekuatan sebuah negara tidak hanya ditentukan oleh kuatnya pemerintah, tetapi juga oleh masyarakat yang memiliki solidaritas dan memperoleh perlakuan yang adil.

“Indonesia akan menjadi besar apabila rakyatnya kuat, masyarakatnya bersatu, dan keadilannya dirasakan bersama,” ujarnya.

Merdeka untuk Semua

Mikael mengatakan peringatan kemerdekaan semestinya menjadi momentum evaluasi terhadap perjalanan pembangunan Indonesia.

Menurut dia, pemerintah dan masyarakat perlu kembali mempertanyakan apakah kemerdekaan telah benar-benar dirasakan seluruh warga negara, termasuk masyarakat perbatasan dan pedalaman.

Hal serupa, kata dia, berlaku dalam pengelolaan kekayaan alam. Daerah yang mempunyai sumber daya alam melimpah seharusnya turut merasakan manfaat ekonomi yang sepadan.

“Apakah kekayaan alam sudah memberikan kesejahteraan bagi masyarakat di sekitarnya? Dan yang paling penting, apakah negara sudah hadir secara adil bagi seluruh rakyatnya?” kata Mikael.

Jika jawabannya belum, ia mengatakan perjuangan bangsa belum selesai.

Menurut Mikael, kemerdekaan bukan akhir perjuangan, tetapi awal dari tanggung jawab untuk menjaga persatuan, melawan ketidakadilan, menghapus diskriminasi, serta mempercepat pembangunan wilayah tertinggal dan perbatasan.

Ia berharap tidak ada warga Indonesia yang merasa menjadi orang asing di tanah airnya sendiri.

“Mari kita pertahankan NKRI bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan keadilan dan kesejahteraan. Mari kita cintai Indonesia bukan dengan membungkam kritik, tetapi dengan berani memperbaiki kekurangannya,” katanya.

Mikael berharap generasi berikutnya dapat mewarisi Indonesia yang tidak hanya merdeka secara politik, tetapi juga terbebas dari kemiskinan, ketimpangan, diskriminasi, dan ketidakadilan.

“Indonesia adalah rumah kita bersama. Berbeda-beda, tetapi tetap satu. Merdeka untuk semua, adil untuk seluruh rakyat Indonesia. Dirgahayu Republik Indonesia. NKRI harga mati. Merdeka,” ujarnya.(afn)

  • Penulis: admin

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dari Sekolah ke Panggung Provinsi, Surung Barintak Ukir Prestasi Literasi‎

    Dari Sekolah ke Panggung Provinsi, Surung Barintak Ukir Prestasi Literasi‎

    • calendar_month Kamis, 30 Okt 2025
    • account_circle redaksi Beraunews
    • visibility 993
    • 0Komentar

    TANJUNG REDEB – Dunia literasi Kabupaten Berau kembali mencatat prestasi gemilang. Perpustakaan Surung Barintak milik SMP Negeri 3 Tanjung Redeb meraih Juara II Lomba Perpustakaan Sekolah Tingkat Provinsi Kalimantan Timur dalam ajang Gebyar Anugerah Literasi 2025, yang digelar di Gedung Olah Bebaya, Samarinda, Senin (27/10/2025). ‎ ‎Dengan mengusung tema “Membumikan Literasi, Menumbuhkan Generasi Emas”, kegiatan […]

  • Pecinta Supermoto di Berau Deklarasikan Dukungan untuk Pembangunan Pasca Pilkada

    Pecinta Supermoto di Berau Deklarasikan Dukungan untuk Pembangunan Pasca Pilkada

    • calendar_month Selasa, 31 Des 2024
    • account_circle admin
    • visibility 845
    • 0Komentar

    Tanjung Redeb – Komunitas otomotif SMOG Baddit Berau merayakan ulang tahun ketiga mereka dengan penuh semangat dan kebersamaan pada Sabtu malam (28/12/2024) di Rantau Panjang, Kabupaten Berau. Acara ini sukses menarik perhatian banyak penggemar otomotif dan masyarakat sekitar, sekaligus menjadi ajang untuk mempererat tali persaudaraan di kalangan pecinta motor. SMOG Baddit Berau, singkatan dari Supermoto […]

  • Berantas Mafia Pupuk, Ribuan Izin Distributor Dicabut

    Berantas Mafia Pupuk, Ribuan Izin Distributor Dicabut

    • calendar_month Selasa, 26 Mei 2026
    • account_circle admin
    • visibility 206
    • 0Komentar

    Jakarta-Pemerintah terus memperketat pengawasan distribusi pupuk subsidi demi melindungi petani dari praktik mafia pangan yang selama ini dinilai merugikan sektor pertanian nasional. Di bawah kepemimpinan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Kementerian Pertanian Republik Indonesia mulai melakukan pembenahan besar-besaran terhadap tata kelola pupuk subsidi agar lebih tepat sasaran, transparan, dan mudah diakses petani. Sebagai langkah tegas, […]

  • Suhu Berau 36 Derajat, BMKG Minta Kaltim Tak Lengah Hadapi Karhutla

    Suhu Berau 36 Derajat, BMKG Minta Kaltim Tak Lengah Hadapi Karhutla

    • calendar_month Kamis, 13 Agt 2026
    • account_circle admin
    • visibility 108
    • 0Komentar

    SAMARINDA – Kalimantan Timur mulai menunjukkan sejumlah sinyal yang membuat kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan perlu ditingkatkan. Dalam sepuluh hari pertama Agustus 2026, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mencatat sekitar 4.700 titik panas atau hotspot di wilayah tersebut. Di Berau, suhu udara bahkan terpantau mencapai 36 derajat Celsius. Dua kondisi itu menjadi perhatian BMKG […]

  • Pengelolaan Perpustakaan Desa Bisa Lewat ADK, Tergantung Prioritas 

    Pengelolaan Perpustakaan Desa Bisa Lewat ADK, Tergantung Prioritas 

    • calendar_month Jumat, 19 Sep 2025
    • account_circle admin
    • visibility 1.326
    • 0Komentar

    TANJUNG REDEB- Banjir yang melanda Kampung Pegat Bukur di Kabupaten Berau baru-baru ini menyisakan duka, terutama bagi warga setempat yang selama ini menjadikan perpustakaan sebagai pusat kebanggaan. Perpustakaan yang dikenal sebagai salah satu yang terbaik di daerah tersebut terendam air, memicu perhatian banyak pihak. Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Berau, Yudha Budisantosa, mengungkapkan bahwa […]

  • Waspada Rip Current di Pantai Berau

    Waspada Rip Current di Pantai Berau

    • calendar_month Rabu, 5 Feb 2025
    • account_circle redaksi Beraunews
    • visibility 981
    • 0Komentar

    TANJUNG REDEB- Pulau Derawan yang eksotis, Maratua dengan lagunanya yang menawan, hingga pantai-pantai di Biduk-Biduk—semua menjadi surga bagi wisatawan. Namun, di balik keindahan itu, tersimpan ancaman tersembunyi. Rip current atau arus balik. Fenomena alam ini bisa dengan cepat menyeret perenang ke tengah laut tanpa mereka sadari. Nofian Hidayat, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Berau, […]

expand_less