Sape Menggema dari Berau: Pemerintah & Industri Lokal Dorong Seniman Muda Menembus Panggung Nasional
- account_circle admin
- calendar_month Selasa, 4 Nov 2025
- visibility 84
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Tanjung Redeb — DI BALIK alunan sape yang lembut dan bernapas dari akar kebudayaan Kalimantan, tersimpan perjalanan seorang anak muda Berau bernama Muhammad Budhi Setiyawan, atau yang lebih dikenal sebagai Whansetiyawan. Lulusan Pengkajian Musik Nusantara Pascasarjana ISI Yogyakarta ini memilih sape bukan karena tren, melainkan karena cinta yang tidak bisa dijelaskan.
“Aku cinta aja, tanpa alasan. Cinta yang tulus itu tanpa alasan, kan?” katanya pelan, seolah tiap petikan sape adalah bahasa hati.
Perjalanannya tidak selalu mudah. Di masa awal, ia berhadapan dengan keterbatasan alat, produksi musik yang terbatas, hingga akses panggung yang belum luas. Namun kecintaannya pada musik tradisi membuatnya tidak berhenti. Baginya, sape bukan hanya instrumen — melainkan identitas budaya yang harus terus hidup.
Di titik inilah dukungan mulai datang. PT Berau Coal menjadi salah satu pihak yang memberi ruang bagi langkahnya, menghadirkannya dalam berbagai panggung kesenian dan budaya. Melalui program rutin perusahaan, namanya semakin dikenal, bak suara sape yang mengalun semakin jauh.
“Acara-acara PT Berau Coal seperti HSECM sangat membantu kami. Dari situlah kami bisa terus tampil dan berkembang,” tuturnya.
Puncak pembuktiannya hadir pada 25 April 2025, ketika Whansetiyawan terpilih tampil di acara peluncuran karya Swara Apurva bersama musisi besar Indra Lesmana di Bali. Sape yang ia mainkan menyatu dengan komposisi modern, menunjukkan bahwa musik tradisi tak pernah kalah oleh zaman — ia justru menemukan panggung baru.
“Terima kasih kepada Om Indra dan Tante Hon Lesmana serta PT Berau Coal yang selalu mendukung saya sejak kecil. Mulai dari bantuan Yayasan Dharma Bhakti, beasiswa Sungkai saat kuliah, hingga dukungan moral dan material selama berkesenian. Itu berarti sangat besar bagi saya,” ucapnya.
Di matanya, seni adalah barometer kemajuan. Bukan sekadar estetika, tetapi cermin kualitas peradaban.
“Semakin baik karya seni yang lahir, semakin baik pula masyarakatnya. Saya berharap perusahaan dan pihak-pihak daerah terus mendukung seniman muda, karena dari tangan-tangan mereka masa depan budaya itu tumbuh,” pesannya.
Komitmen tersebut kini terus dihidupkan. PT Berau Coal berperan aktif menjaga ruang bagi seniman lokal, agar tradisi tidak lekang dan kreativitas terus menemukan jalannya.
Sape Whansetiyawan bukan hanya bunyi — ia adalah tanda bahwa seni Berau tidak tinggal diam. Ia bergerak, tumbuh, dan siap berdiri sejajar dengan panggung-panggung besar Indonesia.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Berau, Ilyas Natsir, menilai perjalanan Whansetiyawan adalah gambaran tentang bagaimana kekuatan tradisi mampu tumbuh di tangan generasi baru. Baginya, kehadiran seniman muda yang konsisten menjaga warisan daerah adalah aset yang tidak ternilai bagi Berau.
“Whansetiyawan menunjukkan bahwa budaya bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk dihidupkan kembali dan diperkenalkan kepada dunia dengan cara yang sesuai zaman,” ujar Ilyas.
Ia juga mengapresiasi dukungan dunia industri, khususnya PT Berau Coal, yang terus memberi ruang bagi talenta lokal. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, pelaku budaya, dan sektor swasta harus terus diperkuat agar seni tradisi Berau tak berhenti sebagai warisan, melainkan menjadi energi kreatif yang mampu mengangkat nama daerah di kancah nasional hingga mancanegara.
“Kami percaya bahwa Sape dan musisi-musisi muda Berau memiliki potensi besar. Pemerintah akan terus berupaya memberikan ruang, fasilitas, dan dorongan, agar karya seperti milik Whansetiyawan tidak hanya bergema di acara lokal, tetapi juga menjadi representasi budaya Berau di panggung yang lebih luas,” tegasnya. (akm/yf)
- Penulis: admin

Saat ini belum ada komentar