Berau Siapkan Skema Perlindungan Budidaya Rumput Laut, Dorong Kebangkitan Ekonomi Biru dan Potensi Kampung Pesisir
- account_circle admin
- calendar_month Jumat, 5 Des 2025
- visibility 42
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TANJUNG REDEB – Pemerintah Kabupaten Berau semakin serius menggarap potensi ekonomi biru sebagai motor penggerak kesejahteraan kampung-kampung pesisir. Meski kualitas perairan Berau masuk kategori unggulan, pengembangan rumput laut belum mencapai level optimal akibat kendala teknis dan minimnya perlindungan bagi pembudidaya.
Sekretaris Dinas Perikanan (Diskan) Berau, Yunda Zuliarsih, menyampaikan bahwa pemerintah kini tidak hanya memperkuat aspek teknis budidaya, tetapi juga menyiapkan skema perlindungan komoditas, termasuk program mitigasi terhadap serangan hama laut yang kerap merugikan masyarakat.
“Banyak kawasan kita sangat potensial, tetapi pembudidaya sering rugi karena serangan hewan laut. Ini membuat mereka berhenti. Tahun depan kami siapkan skema perlindungan yang lebih terarah agar usaha kembali hidup,” ujarnya.
Menurut Yunda, sejumlah titik pesisir Berau memiliki parameter perairan ideal—kejernihan tinggi, arus stabil, dan bentang wilayah yang luas—yang semestinya bisa menjadi basis pertumbuhan ekonomi pesisir, UMKM bahari, hingga industri kreatif berbasis kelautan. Namun tanpa perlindungan yang memadai, potensi tersebut belum memberi kontribusi maksimal untuk masyarakat.
Salah satu contoh keberhasilan adalah Kampung Karangan di Kecamatan Biatan, yang tetap konsisten melakukan budidaya rumput laut meski menghadapi berbagai tantangan. Kampung ini bahkan mendapat dukungan pemerintah provinsi berupa bibit dan pendampingan teknis, sehingga menjadi model pengembangan ekonomi kampung berbasis komoditas pesisir.
“Karangan ini menjadi model yang kami soroti. Mereka mendapat perhatian pemerintah provinsi, dan ini yang ingin kami kembangkan di wilayah lain,” jelasnya.
Sementara itu, beberapa wilayah yang semula dirancang sebagai sentra baru—seperti Tanjung Batu—belum dapat berjalan optimal karena gangguan hama laut, termasuk penyu dan hewan perusak lainnya.
Menjawab tantangan ini, Diskan Berau menyiapkan pendekatan terpadu melalui kolaborasi antara pemerintah kampung, kelompok masyarakat, pelaku usaha, hingga pemangku kepentingan konservasi laut. Mitigasi hama akan dipadukan dengan pembinaan ekonomi agar rumput laut kembali dilihat sebagai komoditas unggulan dan bukan sekadar pilihan sampingan.
“Kami ingin masyarakat kembali melihat bahwa rumput laut adalah peluang nyata untuk pendapatan pesisir. Jika perlindungan dan pendampingannya kuat, minat masyarakat akan tumbuh lagi,” tegas Yunda.
Pemerintah menargetkan strategi baru ini mampu menjadikan rumput laut sebagai ikon ekonomi biru Berau, memperkuat investasi pesisir, sekaligus mengangkat kesejahteraan masyarakat melalui usaha budidaya, UMKM olahan, dan peluang ekspor.
(Adv/Akm)
- Penulis: admin


Saat ini belum ada komentar