Kasus Kekerasan Terhadap Anak Meningkat, DPRD Berau Dorong Peran Keluarga dan Lembaga Pendidikan
- account_circle redaksi Beraunews
- calendar_month Kamis, 12 Mar 2026
- visibility 15
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TANJUNG REDEB- Lonjakan kasus kekerasan seksual terhadap anak di Kabupaten Berau mulai memantik perhatian serius dari kalangan legislatif.
Fenomena ini dinilai sebagai tanda bahaya yang tidak boleh diabaikan, mengingat anak-anak masih menjadi kelompok yang paling rentan menjadi korban di lingkungan tempat mereka tumbuh.
Ketua Komisi I DPRD Berau, Elita Herlina, menilai meningkatnya kasus tersebut tidak terlepas dari kurangnya pemahaman anak mengenai hak dan batasan tubuh mereka sendiri. Ketidaktahuan ini membuat anak sering kali tidak mampu mengenali situasi yang berpotensi membahayakan.
Ia menjelaskan bahwa dalam banyak kasus yang terungkap, pelaku justru berasal dari lingkungan yang dikenal korban. Kedekatan hubungan tersebut sering dimanfaatkan untuk memuluskan tindakan pelaku sekaligus membungkam korban agar tidak berani bercerita.
“Yang sering terjadi, pelakunya justru orang yang berada di sekitar korban, bahkan dikenal dekat. Karena itu kewaspadaan harus datang dari lingkungan terdekat juga,” katanya.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat anak berada dalam posisi sulit. Rasa takut, tekanan, hingga ancaman kerap membuat korban memilih diam sehingga kasus baru terungkap setelah waktu yang cukup lama.
Dampak dari kekerasan seksual terhadap anak pun tidak berhenti pada luka fisik semata. Trauma yang dialami korban berpotensi memengaruhi kondisi psikologis mereka dalam jangka panjang. Rasa percaya diri bisa menurun dan kemampuan anak untuk berinteraksi secara sosial juga terancam terganggu hingga mereka dewasa.
Melihat situasi ini, DPRD Berau mendorong keluarga untuk mengambil peran lebih besar dalam melindungi anak. Elita menegaskan bahwa hubungan komunikasi yang terbuka antara orang tua dan anak sangat penting agar anak merasa aman untuk bercerita ketika menghadapi masalah.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak lagi menganggap pendidikan seksual sebagai sesuatu yang tabu untuk dibahas. Justru, pemahaman dasar mengenai tubuh dan batasan diri menjadi salah satu cara paling efektif untuk membantu anak melindungi diri.
“Anak perlu diberikan pengetahuan sejak dini tentang tubuh mereka dan batasannya. Edukasi seperti ini penting agar mereka tahu kapan harus menolak dan melapor,” ujarnya.
Lembaga pendidikan juga diharapkan dapat turut terlibat dalam upaya pencegahan. Sekolah dinilai memiliki posisi strategis untuk memberikan edukasi sekaligus menciptakan lingkungan yang aman bagi anak.
Namun, upaya tersebut membutuhkan kerja sama erat antara sekolah, pemerintah daerah, serta masyarakat agar perlindungan terhadap anak dapat berjalan lebih optimal.
- Penulis: redaksi Beraunews


Saat ini belum ada komentar