Beras 100 Ton, Jagung 1.000 Ton: Strategi Berau Redam Gejolak Harga Pangan
- account_circle admin
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 12
- print Cetak

BERAU – Pemerintah Kabupaten Berau mengklaim laju inflasi di wilayahnya hingga Mei 2026 masih dalam batas aman, terutama pada kelompok pangan. Di balik angka yang relatif terkendali itu, pemerintah daerah tetap memasang kuda-kuda: stok bahan pokok diamankan, produksi pertanian digenjot.
Bupati Berau, Sri Juniarsih menuturkan, posisi inflasi di daerahnya tidak termasuk yang mengkhawatirkan jika dibandingkan dengan sejumlah kabupaten dan kota lain. Namun ia menegaskan, kondisi tersebut bukan alasan untuk lengah menghadapi potensi gejolak harga bahan makanan.
“Jadi Berau itu selalu berada di tengah-tengah. Ya, tapi kita tetap harus waspada untuk mengurangi inflasi,” ujarnya pada Kamis (14/05/2026).
Salah satu penyangga utama stabilitas harga menurut Sri adalah ketersediaan beras di gudang Bulog. Pemerintah daerah memantau stok beras yang masih mencukupi kebutuhan masyarakat dan mencatat cadangan yang ada tahun ini mencapai sekitar 100 ton.
“Ini beras yang tersedia di Bulog itu ada sekitar 100 ton untuk tahun ini,” katanya.
Di luar pengamanan stok, Pemkab Berau juga mengandalkan penguatan produksi di tingkat petani. Program tanam disiapkan di sejumlah wilayah untuk menjaga pasokan pangan. Untuk periode Mei hingga Juli 2026, rencana tanam yang sudah dipetakan kurang lebih seluas 2.000 hektare.
“Untuk bulan Mei dan bulan Juli 2026 itu sekitar 2.000 hektare,” jelasnya.
Tidak hanya beras, pemerintah daerah turut mengamankan komoditas lain yang rentan memicu inflasi. Jagung disebut berada dalam posisi aman dengan ketersediaan sekitar 1.000 ton. Sementara untuk cabai, Berau mendapat dukungan dari pemerintah pusat melalui program Kementerian Pertanian.
“Kemudian untuk jagung sendiri, kita sudah standby di sini 1.000 ton. Kemudian untuk bantuan dari Kementerian Pertanian kepada Berau itu ada sekitar 5 hektare cabai,” ungkap Sri Juniarsih.
Ia menambahkan, pengembangan tanaman cabai juga berlangsung di wilayah Talisayan. Di sisi lain, pemerintah daerah mendorong partisipasi warga dengan memanfaatkan lahan pekarangan untuk menanam cabai secara mandiri. Langkah ini diharapkan bisa membantu mencukupi kebutuhan dapur rumah tangga sekaligus meredam tekanan inflasi dari sisi konsumsi.
“Tentu juga, kami juga menyarankan mungkin bisa lewat kecamatan dan kepala kampung, dinas yang terkait untuk mandiri menanam cabai di rumah. Karena paling tidak itu untuk kebutuhan rumah tangga,” tutupnya. (/tnr)
- Penulis: admin

