Kendala Bertumpuk di Damkar Berau, dari Gangguan Layanan Darurat hingga Minim Pelatihan Personel
- account_circle admin
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 11
- print Cetak

BERAU – Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Berau menghadapi tantangan yang semakin kompleks seiring bertambahnya tugas pelayanan kepada masyarakat. Selain menangani kebakaran, petugas kini juga kerap menjalankan operasi penyelamatan non-kebakaran, mulai dari evakuasi ular hingga penanganan buaya yang masuk ke kawasan permukiman.
Di tengah meningkatnya tuntutan tersebut, Disdamkarmat Berau masih dihadapkan pada sejumlah kendala yang dinilai memengaruhi efektivitas penanganan di lapangan. Persoalan itu meliputi keterlambatan laporan masyarakat, gangguan layanan pengaduan, keterbatasan pelatihan personel, hingga minimnya alat pelindung diri (APD).
Kepala Disdamkarmat Berau, Rakhmadi Pasarakan, mengatakan salah satu hambatan yang paling sering ditemui petugas adalah lambatnya informasi yang diterima saat terjadi kebakaran. Kondisi itu menyebabkan petugas baru tiba ketika api telah membesar dan sulit dikendalikan.
Menurut dia, kecepatan pelaporan sangat menentukan keberhasilan penanganan kebakaran. Semakin cepat informasi diterima, semakin besar peluang petugas mencegah api menjalar ke bangunan lain.
“Kadang-kadang saat informasi masuk, apinya sudah besar. Kalau yang dekat seperti di Sambaliung, ada warga yang langsung datang ke kantor menyampaikan laporan,” ungkapnya pada Senin, 1 Juni 2026.
Rakhmadi menjelaskan layanan pengaduan yang digunakan saat ini juga belum berjalan optimal. Nomor telepon darurat 0554-211113 yang menjadi saluran utama pelaporan masih kerap mengalami gangguan jaringan.
Selain itu, sistem panggilan yang masih bergantung pada pulsa sering menjadi kendala tersendiri. Dalam sejumlah kasus, sambungan telepon terputus sebelum pelapor menyampaikan informasi secara lengkap mengenai lokasi maupun kondisi kebakaran yang terjadi.
“Kadang masyarakat menelepon, tetapi belum selesai menjelaskan, teleponnya sudah terputus karena pulsanya habis atau ada kendala jaringan,” ujarnya.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Disdamkarmat Berau berencana mengalihkan layanan pelaporan menggunakan nomor telepon seluler. Upaya itu diharapkan dapat mempermudah masyarakat dalam menyampaikan laporan saat kondisi darurat.
Di sisi lain, permintaan bantuan penyelamatan non-kebakaran terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Petugas tidak hanya menangani kebakaran, tetapi juga berbagai situasi darurat lain yang memerlukan respons cepat dan kemampuan khusus.
Meski demikian, kemampuan personel dalam menjalankan berbagai jenis operasi penyelamatan masih menghadapi keterbatasan. Rakhmadi mengakui belum seluruh anggota mendapatkan pelatihan yang memadai, baik terkait penanggulangan kebakaran maupun penyelamatan khusus.
Ia mengatakan sebagian besar kemampuan personel selama ini diperoleh melalui pengalaman di lapangan dan pembelajaran mandiri. Untuk meningkatkan kapasitas anggota, personel yang pernah mengikuti pelatihan diminta membagikan pengetahuan dan keterampilannya kepada rekan kerja lainnya.
“Masih ada anggota yang belum mengikuti pelatihan. Akhirnya kami melakukan pelatihan mandiri dengan memanfaatkan pengalaman teman-teman yang sudah pernah mendapat pelatihan,” jelasnya.
Persoalan lain yang menjadi perhatian adalah keterbatasan alat pelindung diri. Ketersediaan APD dinilai masih belum mencukupi untuk mendukung seluruh personel yang bertugas dalam operasi berisiko tinggi.
Kondisi tersebut, kata dia, terlihat saat petugas menangani satwa liar seperti ular dan buaya. Tidak semua anggota memiliki perlengkapan keselamatan yang memadai ketika harus berhadapan langsung dengan hewan berbahaya.
Meski menghadapi berbagai keterbatasan, personel Damkar Berau tetap menjalankan tugas pelayanan kepada masyarakat. Namun, menurut Rakhmadi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia serta penambahan sarana dan prasarana pendukung masih menjadi kebutuhan yang perlu dipenuhi agar pelayanan dapat berjalan lebih optimal. (tnr)
- Penulis: admin
