Diskominfo Berau Dorong Website Kampung Aktif, Transparansi & Layanan Publik Masuk Era Baru Digital
- account_circle admin
- calendar_month Minggu, 26 Okt 2025
- visibility 34
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TANJUNG REDEB – Di era ketika informasi bergerak lebih cepat dari kendaraan apa pun di jalan raya, kampung-kampung di Berau kini ikut melaju dalam arus digitalisasi.
Tidak lagi hanya dikenal lewat cerita mulut ke mulut, setiap kampung kini memiliki rumah informasi baru: website resmi. Dari Tanjung Redeb hingga kampung-kampung jauh di pedalaman, semua tersambung dalam satu jendela digital yang terbuka untuk siapa saja mengaksesnya.
Langkah besar ini bukan muncul begitu saja.
Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Berau menyebut digitalisasi kampung sebagai bagian penting dari keterbukaan informasi dan pelayanan publik. Kepala Diskominfo Berau, Didi Rahmadi, menegaskan bahwa website kampung hari ini bukan lagi pilihan, tetapi standar wajib pemerintahan modern.
“Website kampung bukan hanya dokumentasi lokal, tetapi media publikasi resmi yang bisa diakses sampai tingkat provinsi dan pusat,” ujarnya.
110 titik informasi desa—semua sudah online
Saat ini, 100 kampung dan 10 kelurahan di Berau telah memiliki website.
Semua web menampilkan profil dasar kampung: data penduduk, luas wilayah, batas administrasi, potensi lokal, hingga capaian bidang pendidikan. Namun seperti rumah yang harus dihuni, website pun harus diisi agar bernyawa.
Didi menyebut penyegaran konten belum merata. Banyak kampung sudah punya profil lengkap, namun kegiatan harian dan dinamika pembangunan jarang terunggah. Padahal di situ lah denyut kehidupan desa terasa—gotong royong, pelatihan, penanaman pohon, hingga musyawarah warga.
“Idealnya tiap kampung rutin update. Harian jika aktif, mingguan cukup baik, bulanan minimal. Yang penting hidup,” katanya.
Infrastruktur sudah ada, kini saatnya SDM naik kelas
Diskominfo mengaku siap terlibat langsung untuk peningkatan kapasitas pengelola website.
Tidak hanya soal mengunggah foto dan data, tetapi bagaimana mengemas informasi menjadi menarik, komunikatif, dan sesuai bahasa digital saat ini.
Pelatihan konten kreator, kata Didi, bukan hal mustahil. Bisa lewat DPMK, kemitraan lembaga lain, atau cukup kirim permintaan langsung ke Diskominfo—mereka siap fasilitasi.
“Infrastruktur sudah siap. Internet dan hosting tersedia. Tantangannya sekarang ada pada SDM yang harus semakin melek digital.”
Dengan konektivitas internet yang telah menjangkau seluruh kampung, tidak ada lagi alasan untuk website hanya menjadi tampilan statis. Website kampung adalah etalase, arsip, sekaligus ruang percakapan antara pemerintah dan warga.
Desa digital bukan wacana—Berau sedang mengerjakannya
Digitalisasi kampung bukan sekadar ikut tren.
Ia adalah strategi transparansi, dokumentasi pembangunan, sekaligus alat menyambungkan Berau ke peta nasional dan global. Kampung yang aktif mengelola website akan lebih mudah dikenal, dilihat potensinya, dijajaki kemitraannya, bahkan berpeluang menjadi desa wisata, desa kreatif, atau desa ekonomi baru.
Website menjadi buku harian desa, tetapi terbuka untuk dunia.
“Lewat platform digital, kampung bisa membangun identitasnya sendiri dan mempercepat pembangunan berbasis komunitas,” tutur Didi.
Dan dari sinilah perjalanan baru dimulai.
Selembar layar, satu koneksi internet, dan satu orang operator bisa membuat satu kampung dilihat, dinilai, bahkan dikunjungi lebih banyak pihak.
Digitalisasi kampung bukan sekadar proyek teknis.
Ia adalah cara Berau memastikan bahwa masa depannya tidak jauh dari tangan masyarakat desa—justru dimulai dari sana. (akm/adv)
- Penulis: admin


Saat ini belum ada komentar