Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kesehatan » Fenomena Bunuh Diri di Bulungan Jadi Sorotan, Psikolog Ungkap Faktor Ekonomi hingga Isolasi Sosial

Fenomena Bunuh Diri di Bulungan Jadi Sorotan, Psikolog Ungkap Faktor Ekonomi hingga Isolasi Sosial

  • account_circle admin
  • calendar_month Jumat, 1 Mei 2026
  • visibility 444
  • print Cetak

TANJUNG SELOR— Maraknya kasus bunuh diri yang terjadi belakangan ini mengejutkan masyarakat, khususnya di Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara. Salah satu peristiwa terbaru terjadi di Kecamatan Tanjung Palas Timur, di mana seorang pria berinisial H ditemukan meninggal dunia dalam kondisi tergantung di kamar rumahnya.

Kejadian tersebut tidak hanya menggegerkan warga setempat, tetapi juga memicu perbincangan luas di media sosial. Banyak masyarakat mempertanyakan alasan di balik tindakan ekstrem tersebut dan mengapa jalan pintas seperti mengakhiri hidup dipilih sebagai solusi.

Psikolog Bulungan, Amalia Laili Barokah, mengungkapkan bahwa fenomena ini memiliki banyak faktor penyebab dan tidak bisa disederhanakan hanya sebagai akibat depresi semata. Ia mengaku telah mengetahui beberapa kasus serupa, terutama di wilayah Tarakan, sementara kasus di Bulungan baru belakangan ia ketahui.

“Penyebab bunuh diri tidak mesti depresi. Ada banyak faktor, tetapi umumnya berkaitan dengan ketidaksanggupan menghadapi tekanan, rasa putus asa, kesedihan berkepanjangan, hingga kondisi hidup yang berada di titik paling sulit,” jelas Amalia saat ditemui pada Selasa (28/4).

Menurutnya, tindakan bunuh diri sering kali bukan karena keinginan untuk mati, melainkan dianggap sebagai jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi. Ia menyoroti bahwa saat ini banyak kasus dipicu oleh persoalan sosial, terutama masalah ekonomi seperti utang, pinjaman online, hingga judi daring.

“Banyak yang merasa tidak punya jalan keluar lagi, terutama karena tekanan ekonomi. Ini yang membuat mereka melihat bunuh diri sebagai solusi,” ujarnya.

Amalia juga mengingatkan adanya fenomena peniruan atau copycat suicide, di mana seseorang terdorong melakukan hal serupa setelah terpapar informasi atau pemberitaan tentang kasus bunuh diri. Ia menilai penyajian informasi yang tidak bijak dapat memicu emosi pembaca.

“Ketika sebuah artikel terlalu detail menceritakan sebab dan cara, apalagi ditambah narasi yang menyentuh, pembaca bisa ikut terbawa perasaan dan berpotensi meniru,” tambahnya.

Terkait tanda-tanda seseorang yang berpotensi melakukan bunuh diri, Amalia mengatakan hal tersebut tidak selalu mudah dikenali. Ada individu yang tampak biasa saja, bahkan terlihat ceria, sebelum akhirnya melakukan tindakan tersebut. Namun, beberapa gejala umum tetap perlu diwaspadai, seperti menarik diri dari lingkungan atau menunjukkan perubahan perilaku drastis.

Ia menekankan pentingnya peran lingkungan sekitar dalam pencegahan. “Perhatikan orang-orang di sekitar kita, terutama yang mulai jarang berinteraksi. Didekati, diajak bicara. Kepedulian sederhana bisa sangat berarti,” katanya.

Masalah ekonomi juga dinilai sebagai tantangan terbesar dalam upaya pencegahan. Amalia berharap adanya peran aktif dari pemerintah dan masyarakat, termasuk dukungan dari tingkat lingkungan seperti RT, untuk membantu warga yang mengalami kesulitan.

“Pemerintah perlu hadir, baik dari sisi pencegahan maupun penanganan. Misalnya dengan kebijakan yang tidak memberatkan masyarakat, serta penertiban pinjaman online ilegal dan judi daring,” jelasnya.

Ia juga menyoroti fakta bahwa sebagian besar korban bunuh diri adalah laki-laki. Hal ini, menurutnya, berkaitan dengan budaya maskulinitas yang membuat laki-laki cenderung menutup diri dan enggan menunjukkan kelemahan.

“Ada tekanan untuk selalu terlihat kuat. Akibatnya, masalah dipendam sendiri. Padahal jika mereka mau terbuka, kemungkinan besar akan mendapat bantuan,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Amalia juga mengimbau media agar lebih berhati-hati dalam memberitakan kasus bunuh diri. Ia menegaskan pentingnya mengedepankan nilai kemanusiaan dan tidak menyebarkan detail sensitif seperti surat terakhir korban atau metode yang digunakan.

Sebagai langkah pencegahan, ia menyarankan masyarakat untuk menjaga kesehatan mental dengan menerima ketidaksempurnaan hidup dan tidak memaksakan diri mengontrol segala hal.
“Tidak semua hal bisa kita kendalikan. Hari yang buruk bukan berarti hidup kita buruk. Jika merasa tertekan, jangan ragu untuk mencari bantuan, baik ke teman, keluarga, maupun profesional,” pesannya.

Selain itu, ia juga menekankan pentingnya kegiatan spiritual sebagai salah satu cara menenangkan diri, meskipun bukan satu-satunya solusi.

“Ibadah bisa membantu menenangkan, tapi bukan berarti semua masalah selesai. Depresi bukan soal kurang iman, melainkan kondisi mental yang perlu dipahami dan ditangani dengan tepat,” tutup Amalia. (Lia)

  • Penulis: admin

Rekomendasi Untuk Anda

  • Peserta pertemuan pembahasan batas wilayah Berau dan Kutai Timur menunjukkan dokumen berita acara

    Sri Juniarsih Minta Kemendagri Kaji Ulang Batas Berau-Kutim

    • calendar_month Kamis, 8 Okt 2026
    • account_circle beraunews
    • visibility 65
    • 0Komentar

    Bupati Berau Sri Juniarsih meminta Kemendagri mengkaji batas Berau-Kutai Timur sesuai aturan dan melindungi hak masyarakat di kawasan tersebut.

  • Rp38 Miliar Digelontorkan ke Derawan-Maratua

    Rp38 Miliar Digelontorkan ke Derawan-Maratua

    • calendar_month Sabtu, 25 Apr 2026
    • account_circle admin
    • visibility 392
    • 0Komentar

    TANJUNG REDEB — Pemerintah Kabupaten Berau mengalokasikan anggaran lebih dari Rp38 miliar pada 2026 untuk merekonstruksi jalan di dua destinasi wisata unggulan, Pulau Derawan dan Pulau Maratua. Kebijakan ini tidak sekadar menyasar penguatan sektor pariwisata, tetapi juga memicu harapan masyarakat terhadap dampak langsung bagi aktivitas harian. Rekonstruksi jalan dilakukan secara menyeluruh, tidak lagi bersifat tambal […]

  • Usul Catin Wajib Ikut Pembinaan Pra-Nikah, Tekan Perceraian di Berau

    Usul Catin Wajib Ikut Pembinaan Pra-Nikah, Tekan Perceraian di Berau

    • calendar_month Rabu, 10 Des 2025
    • account_circle admin
    • visibility 1.006
    • 0Komentar

    BERAU — Fenomena perceraian di Bumi Batiwakkal kembali menjadi perhatian legislatif. Ketua Komisi I DPRD Berau, Elita Herlina, menilai tingginya angka perceraian—yang kerap dibarengi persoalan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT)—patut menjadi alarm bersama. Elita menilai salah satu langkah preventif yang bisa ditempuh adalah mewajibkan calon pengantin mengikuti pembinaan pranikah sebelum melangsungkan pernikahan. Menurutnya, kesiapan mental […]

  • Polisi Perketat Pengamanan Jelang Aksi 21 April, Aliansi Klaim Ribuan Massa Siap Turun

    Polisi Perketat Pengamanan Jelang Aksi 21 April, Aliansi Klaim Ribuan Massa Siap Turun

    • calendar_month Rabu, 15 Apr 2026
    • account_circle admin
    • visibility 298
    • 0Komentar

    SAMARINDA — Rencana aksi demonstrasi besar pada 21 April 2026 di Kalimantan Timur kian menguat. Aliansi Perjuangan Masyarakat Kaltim menyatakan telah mematangkan persiapan untuk menggelar unjuk rasa dengan melibatkan ribuan massa dari berbagai daerah. Aksi tersebut akan dipusatkan di dua titik utama, yakni Kantor DPRD Provinsi Kalimantan Timur dan Kantor Gubernur Kaltim. Massa disebut akan […]

  • ‎Mulai Tahun Depan, Bahasa Banua Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah Berau? 

    ‎Mulai Tahun Depan, Bahasa Banua Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah Berau? 

    • calendar_month Selasa, 28 Okt 2025
    • account_circle redaksi Beraunews
    • visibility 1.277
    • 0Komentar

    TANJUNG REDEB – Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Berau, Mardiatul Idalisah, menegaskan pelajaran muatan lokal (mulok) di sekolah-sekolah akan mulai menerapkan bahasa Banua/Berau pada ajaran baru mendatang. ‎Penerapan bahasa ini merupakan kurikulum untuk melestarikan budaya lokal sekaligus menindaklanjuti Peraturan daerah yang telah mengatur penggunaan bahasa Banua di sekolah. ‎“Insya Allah tahun ajaran baru nanti, pelajaran muatan […]

  • Asap Karhutla Menyelimuti Berau, Pemadam Sebut 90 Persen Titik Api Dipicu Ulah Manusia

    Asap Karhutla Menyelimuti Berau, Pemadam Sebut 90 Persen Titik Api Dipicu Ulah Manusia

    • calendar_month Rabu, 19 Agt 2026
    • account_circle admin
    • visibility 109
    • 0Komentar

    BERAU — Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla kembali menjadi persoalan di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Asap dari sejumlah titik kebakaran mulai menyelimuti langit wilayah tersebut. Petugas pemadam kebakaran menduga sebagian besar kebakaran bukan disebabkan faktor alam. Aktivitas pembukaan lahan dengan cara membakar masih ditemukan di sejumlah lokasi dan berpotensi memicu munculnya titik api baru. […]

expand_less