Mobilitas Laut Diawasi, Bulungan Tegaskan Kesiapsiagaan di Tengah Isu Hantavirus
- account_circle admin
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 11
- print Cetak

TANJUNG SELOR – Kabar seorang warga Kanada yang terdeteksi positif Hantavirus di kapal pesiar MV Hondius sempat memicu kecemasan publik. Isu itu ikut merambat hingga ke Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, yang menjadi salah satu daerah dengan mobilitas laut cukup tinggi.
Di tengah kekhawatiran tersebut, Dinas Kesehatan Bulungan memastikan belum ada satu pun kasus Hantavirus ditemukan di wilayah mereka. Kepala Dinas Kesehatan Bulungan, Imam Sunjono, menegaskan situasi masih terkendali, meski kewaspadaan tetap dinaikkan.
“Kalau di Bulungan ini kasusnya tidak ada. Kasus pertama itu terjadi di kapal pesiar, dan kami sudah melakukan deteksi dini serta meneruskan edaran dari Kementerian Kesehatan ke seluruh puskesmas,” jelas Imam, Senin (18/5).
Imam menjelaskan, sejak informasi kasus di kapal pesiar mencuat, Dinas Kesehatan langsung mengaktifkan mekanisme penanganan penyakit menular. Puskesmas dan dinas kesehatan di tingkat kabupaten digerakkan untuk memantau kemungkinan adanya gejala yang mengarah ke Hantavirus.
“Setiap penyakit menular itu sudah ada SOP-nya. Kami punya tim surveilans di puskesmas dan di dinas kesehatan untuk memantau dan merespons dengan cepat,” tambahnya.
Meski belum ditemukan kasus, Imam menyoroti wilayah dengan pergerakan orang yang tinggi, terutama jalur transportasi laut, sebagai titik yang harus terus diawasi. Mobilitas dari dan ke luar daerah dinilai berpotensi menjadi pintu masuk penyakit.
“Kami tetap waspada di daerah dengan mobilitas tinggi, terutama transportasi laut. Tapi masyarakat tidak perlu panik, yang penting tetap waspada,” tegas Imam.
Ia menerangkan, Hantavirus pada umumnya ditularkan melalui tikus, namun tidak semua tikus membawa virus tersebut. Penularan biasanya terjadi ketika manusia terpapar urine, kotoran, atau air liur tikus, baik yang terhirup maupun tersentuh.
“Tidak semua tikus berpotensi menularkan. Biasanya berasal dari lingkungan tertentu. Dan sejauh ini belum ada indikasi penyebaran ke permukiman,” ujarnya.
Imam mengingatkan, selain Hantavirus, tikus juga dikenal sebagai sumber berbagai penyakit lain yang sudah lebih sering ditemukan di Indonesia. Salah satunya leptospirosis, yang juga menular melalui urine tikus dan dapat berakibat fatal jika tidak segera ditangani.
“Tikus memang bisa membawa berbagai penyakit, seperti leptospirosis yang penularannya lewat kencing tikus. Ini justru sudah pernah terjadi di beberapa daerah di Indonesia dan harus terus diwaspadai,” katanya.
Bulungan sendiri, kata Imam, pernah berhadapan dengan kasus leptospirosis. Karena itu, pengawasan terhadap penyakit yang ditularkan hewan pengerat bukan hal baru bagi Dinas Kesehatan setempat dan sudah lama menjadi fokus kewaspadaan.
Secara umum, masyarakat diminta menjaga kebersihan lingkungan, menghindari kontak dengan tikus, serta segera mencari pertolongan medis jika mengalami gejala demam, nyeri otot, mual, hingga sesak napas.
Hantavirus diketahui dapat menyebabkan dua jenis penyakit utama, yakni gangguan paru-paru atau Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) dan gangguan ginjal atau Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS).
“Ya meski penularan antar manusia sangat jarang, infeksinya dapat berakibat serius.
Dengan kondisi yang masih nihil kasus, Dinkes Bulungan Tegas jika kesiapsiagaan tetap dilakukan tanpa menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat,” pungkas Imam. (tnr)
- Penulis: admin
