Inovasi Disbudpar Berau Berbuah Manis: Musik dan Pariwisata Tumbuhkan Magnet Wisatawan
- account_circle admin
- calendar_month Kamis, 6 Nov 2025
- visibility 33
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Tanjung Redeb – Di tengah gemuruh ombak dan langit tropis yang jernih, Maratua semakin menegaskan dirinya sebagai panggung terbuka bagi kreativitas dan industri wisata. Perpaduan musik dan pariwisata bukan lagi sekadar wacana—di Berau, ia telah menjadi strategi promosi yang hidup, bergerak, dan mampu memikat wisatawan hingga ke pulau-pulau terjauh.
Kesuksesan Maratua Jazz dan Maratua Musik Festival (M2F) 2025, yang berlangsung lima hari dan menutup gelaran dengan ribuan pengunjung di Kampung Teluk Harapan, menjadi contoh nyata bagaimana pemerintah daerah melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau mengubah wisata bahari menjadi atraksi kelas festival.
Semilir angin laut, panggung terbuka, dan iringan musik dari Tri Suaka, Nabila Maharani, hingga DJ Redz One menjadikan Maratua tak hanya indah dilihat—tetapi juga didengar. Sorotan lampu konser berpadu dengan ombak yang memantul di permukaan air, menciptakan lanskap pariwisata yang tidak hanya dinikmati mata, tetapi juga dirasakan oleh panca indera.
Ketua Komisi II DPRD Berau, Rudi P. Mangunsong, memandang keberhasilan ini sebagai momentum penting bagi peningkatan daya tarik wisata daerah. Menurutnya, ribuan wisatawan yang tumplek ruah di Maratua adalah bukti kuat bahwa strategi festival musik sangat efektif untuk memperluas pasar kunjungan.
“Festival musik menjadi magnet luar biasa. Kami melihat ini sebagai energi baru untuk pariwisata Berau,” ujarnya.
Rudi bahkan mendorong agar konsep serupa diperluas ke destinasi lain seperti Biduk-Biduk atau Pulau Derawan, dengan genre musik berbeda agar setiap wilayah memiliki identitas event masing-masing. Jazz di Maratua, mungkin folk di Biduk-Biduk, atau electronic beach party di Derawan—semua punya peluang, tinggal bagaimana dikemas.
Lebih dari sekadar konser, M2F juga membawa nilai ekonomi. Bazar UMKM dari 13 kecamatan, fashion show, hingga nunu daing—pesta bakar ikan khas Berau—membuat wisata tak berhenti pada panggung musik, tetapi mengalir ke pasar tradisi dan ekonomi kreatif masyarakat.
Inovasi ini menunjukkan bagaimana pemerintah mendorong pariwisata bergerak lebih maju. Konsep festival kini menjadi strategi promosi digital, kulturnya berkelanjutan, dan agenda yang ditunggu wisatawan setiap tahun.
Berau bukan sekadar menampilkan laut, tetapi merayakan laut bersama musik, budaya, dan pelaku UMKM di dalamnya. Pemerintah hadir bukan hanya sebagai penyelenggara, tetapi sebagai motor penggerak yang menuntun Maratua ke panggung yang lebih besar—bahkan internasional. (/adv/yf)
- Penulis: admin


Saat ini belum ada komentar