Mau Tahu Kamu Masuk Kelompok Kaya atau Tidak? Cek Desil DTSEN Pakai NIK di Sini
- account_circle admin
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 3
- print Cetak

BERAU — Seberapa “kaya” keluarga Anda jika dibandingkan dengan masyarakat Indonesia lainnya? Jawabannya ternyata tidak harus diterka hanya dari gaji, kendaraan yang dipakai, rumah yang ditempati, atau saldo rekening.
Pemerintah memiliki pemeringkatan kondisi sosial ekonomi masyarakat yang dikenal sebagai desil dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional atau DTSEN.
Masyarakat kini ramai mengecek posisi desil mereka melalui laman berdomain Badan Pusat Statistik (BPS):
Cek Desil DTSEN:
https://dtsen-form.bps.go.id/
Ada pula layanan resmi Kementerian Sosial untuk mengecek data penerima manfaat:
Cek Bansos Kemensos:
https://cekbansos.kemensos.go.id/
Lantas, jika hasilnya menunjukkan Desil 1, Desil 5 atau bahkan Desil 10, sebenarnya apa artinya?
Jawabannya sedikit lebih rumit daripada sekadar miskin atau kaya.
Apa Itu Desil?
Bayangkan seluruh penduduk diurutkan berdasarkan kondisi kesejahteraannya. Setelah itu, populasi tersebut dibagi menjadi 10 kelompok yang sama besar.
Kelompok itulah yang disebut desil.
BPS menjelaskan desil merupakan cara membagi penduduk menjadi 10 kelompok berdasarkan tingkat pengeluaran, mulai dari yang paling rendah hingga yang paling tinggi. Jadi desil bukan angka nominal kekayaan, melainkan menunjukkan posisi relatif seseorang atau rumah tangga dalam distribusi masyarakat.
Secara sederhana:
Desil 1
Kelompok 10 persen dengan tingkat kesejahteraan paling rendah.
Desil 2
Kelompok 10–20 persen.
Desil 3
Kelompok 20–30 persen.
Desil 4
Kelompok 30–40 persen.
Desil 5
Kelompok 40–50 persen.
Desil 6
Kelompok 50–60 persen.
Desil 7
Kelompok 60–70 persen.
Desil 8
Kelompok 70–80 persen.
Desil 9
Kelompok 80–90 persen.
Desil 10
Kelompok 10 persen dengan posisi kesejahteraan relatif paling tinggi.
Makin besar angka desil, secara umum makin tinggi posisi kesejahteraan relatif rumah tangga dalam pemeringkatan tersebut. BPS juga menegaskan posisi desil dapat berubah karena kondisi sosial ekonomi masyarakat bersifat dinamis dan data terus diperbarui.
Jadi Desil 10 Berarti Orang Kaya?
Belum tentu dalam pengertian yang biasa dipahami masyarakat.
Seseorang yang berada di Desil 10 tidak otomatis seorang miliarder, pengusaha besar, atau “crazy rich”.
Desil menunjukkan posisi relatif.
Misalnya ada 100 keluarga yang diurutkan berdasarkan indikator kesejahteraannya. Sepuluh keluarga pada bagian teratas akan masuk kelompok paling tinggi.
Tetapi berada di kelompok teratas itu tidak otomatis memberi tahu berapa rupiah kekayaan mereka.
BPS secara khusus mengingatkan bahwa desil tidak sama dengan pengeluaran per kapita. Pengeluaran per kapita merupakan rata-rata pengeluaran setiap orang dalam suatu rumah tangga, sedangkan desil memperlihatkan posisi relatif dalam distribusi masyarakat.
Jadi jangan membaca:
Desil 5 = orang dengan penghasilan Rp5 juta.
Atau:
Desil 10 = penghasilan puluhan juta rupiah.
Tidak sesederhana itu.
Kenapa Tetangga Punya Mobil Bisa Desilnya Lebih Rendah?
Ini juga menjadi pertanyaan menarik.
Penilaian kesejahteraan tidak hanya melihat satu benda yang tampak dari luar.
BPS Kabupaten Grobogan menjelaskan penentuan kelompok kesejahteraan menggunakan data integrasi nasional dengan indikator seperti pendapatan, kondisi tempat tinggal, kepemilikan aset, pekerjaan, dan beban tanggungan keluarga.
Artinya, dua keluarga dengan pendapatan sama bisa memiliki posisi berbeda.
Contohnya:
Keluarga A berpenghasilan Rp7 juta sebulan, terdiri dari suami dan istri, rumah milik sendiri dan tidak memiliki banyak tanggungan.
Sementara Keluarga B juga memperoleh Rp7 juta sebulan, tetapi harus membiayai lima anak, menyewa rumah dan menanggung anggota keluarga lainnya.
Pendapatan mereka sama.
Tetapi kemampuan ekonominya belum tentu sama.
Karena itu melihat mobil, motor atau bentuk rumah seseorang saja tidak cukup untuk menebak desilnya.
Dari Mana Pemerintah Mendapat Data Kita?
DTSEN bukan dibangun dari satu database saja.
BPS menyebut pembangunan DTSEN dilakukan dengan mengintegrasikan tiga sumber utama, yakni:
1. DTKS
Data Terpadu Kesejahteraan Sosial.
2. Regsosek
Registrasi Sosial Ekonomi.
3. P3KE
Pensasaran Percepatan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem.
Data tersebut kemudian dipadankan dan diperbarui menggunakan data kependudukan Dukcapil serta sumber administrasi lainnya.
DTSEN kemudian menjadi basis data tunggal yang menggambarkan kondisi sosial ekonomi individu maupun keluarga di Indonesia.
BPS menyatakan pembaruan perlu terus dilakukan karena kondisi sosial ekonomi masyarakat berubah dari waktu ke waktu.
Itu pula sebabnya desil seseorang bisa berubah.
Hari ini Desil 4 tidak berarti selamanya akan berada di Desil 4.
Cara Cek Desil DTSEN Lewat HP
Bagi masyarakat yang ingin melihat data desil, salah satu alamat yang saat ini digunakan untuk pemeriksaan adalah:
Alamat tersebut menggunakan domain bps.go.id.
Sejumlah publikasi pada Agustus 2026 juga menunjukkan laman tersebut digunakan untuk pemeriksaan desil, termasuk untuk kepentingan pemadanan calon penerima PIP 2026/2027.
Cara pengecekannya:
1. Buka browser di HP atau komputer.
Masuk ke:
2. Pilih layanan pemeriksaan yang tersedia.
Ikuti kategori atau keperluan pengecekan yang ditampilkan pada halaman.
3. Masukkan NIK.
Gunakan Nomor Induk Kependudukan sesuai dokumen resmi.
Jangan menggunakan NIK orang lain tanpa hak.
4. Masukkan kode keamanan atau captcha apabila diminta.
5. Tekan tombol pemeriksaan.
Sistem akan melakukan pencocokan dengan data yang tersedia.
6. Perhatikan informasi desil yang ditampilkan.
Jika sistem menemukan data, pengguna dapat mengetahui kelompok desil yang tercatat.
Karena layanan pemerintah dapat mengalami pemeliharaan atau kepadatan akses, halaman bisa saja sulit dibuka pada waktu tertentu.
Ada Cara Lain: Cek Lewat Kemensos
Untuk kepentingan bantuan sosial, masyarakat juga sebaiknya memeriksa layanan resmi Kementerian Sosial.
Alamatnya:
https://cekbansos.kemensos.go.id/
Pada laman tersebut masyarakat dapat melakukan pencarian data penerima manfaat bansos.
Kementerian Sosial juga memberikan penjelasan mengenai hubungan desil dengan program bantuan sosial.
Menurut informasi pada Cek Bansos Kemensos, Desil 1–4 atau kelompok 40 persen terbawah dapat diusulkan sebagai penerima PKH dan bantuan sembako, sementara Desil 5 dapat diusulkan sebagai peserta PBI-JK.
Kata pentingnya adalah “dapat diusulkan”.
Masuk Desil 1, misalnya, tidak otomatis berarti uang bantuan langsung masuk rekening.
Setiap program tetap memiliki syarat, verifikasi dan mekanisme penetapan penerima.
Bagaimana Kalau Desil Saya Tidak Masuk Akal?
Nah, ini bagian yang mungkin membuat banyak orang mengernyitkan dahi. Bayangkan seseorang kehilangan pekerjaan berbulan-bulan tetapi ketika dicek masih tercatat pada kelompok kesejahteraan cukup tinggi.
Atau sebaliknya, kondisi ekonominya sudah jauh membaik tetapi masih berada di kelompok desil bawah.
Hal itu bisa terjadi karena kondisi rumah tangga berubah, sedangkan pembaruan data membutuhkan proses.
Kementerian Sosial menyatakan desil bersifat dinamis. Apabila data tidak sesuai, pembaruan dapat dilakukan melalui desa/kelurahan, dinas sosial, atau aplikasi Cek Bansos, dengan menyampaikan kondisi yang sebenarnya. Setelah itu, pemeringkatan dapat dihitung ulang oleh BPS secara periodik.
BPS juga menjelaskan posisi desil dapat berubah mengikuti pemutakhiran DTSEN dan dinamika kondisi ekonomi rumah tangga.
Jadi jika hasil pemeriksaan terasa janggal, yang sebaiknya dilakukan bukan mencari cara “menurunkan desil” secara manipulatif.
Yang dilakukan adalah memperbaiki data agar sesuai dengan kondisi sebenarnya.
Mengapa Desil Sekarang Penting?
Karena urusannya tidak lagi sebatas statistik.
Data ini menjadi salah satu dasar pemerintah dalam menyusun dan menargetkan berbagai program.
Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2025 menempatkan DTSEN sebagai bagian penting dalam pengelolaan data sosial ekonomi nasional. BPS mendapat tugas dalam pengelolaan DTSEN, termasuk pemeliharaan, pembaruan dan pengamanan data.
BPS menyebut DTSEN dibangun agar program pemerintah bisa disusun dengan sasaran yang lebih akurat.
Artinya kesalahan data bukan perkara kecil.
Seseorang yang seharusnya masuk kelompok rentan tetapi tercatat jauh lebih sejahtera berpotensi menghadapi persoalan dalam proses penargetan suatu program.
Sebaliknya, data yang tidak lagi menggambarkan kondisi sebenarnya juga dapat membuat program pemerintah salah sasaran.
Coba Cek, Kamu Masuk Desil Berapa?
Pada akhirnya, mengecek desil bisa menjadi eksperimen kecil yang menarik.
Bukan untuk berlomba menentukan siapa paling miskin atau siapa paling kaya.
Melainkan untuk mengetahui:
Menurut database sosial ekonomi pemerintah, keluarga kita berada di posisi mana?
Siapkan NIK dan cek melalui:
CEK DESIL DTSEN BPS
https://dtsen-form.bps.go.id/
Untuk informasi penerima bansos:
CEK BANSOS KEMENTERIAN SOSIAL
https://cekbansos.kemensos.go.id/
Informasi utama mengenai DTSEN dari BPS:
BPS – Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional
https://www.bps.go.id/id/news/2025/01/15/671/data-tunggal-sosial-dan-ekonomi-nasional–dtsen-.html
Dan satu hal perlu diingat setelah melihat hasilnya.
Desil 10 belum tentu crazy rich. Desil 1 pun tidak boleh menjadi cap sosial seseorang.
Desil pada dasarnya adalah alat statistik untuk menggambarkan posisi relatif kondisi sosial ekonomi rumah tangga dan membantu pemerintah mengarahkan kebijakan secara lebih tepat.
Jadi, kalau penasaran “seberapa kaya” Anda menurut pemetaan pemerintah, silakan cek. Hasilnya mungkin tidak seperti yang dibayangkan. (afn)
- Penulis: admin
