Wisata Berbasis Kampung Dibangun, Berau Siapkan Paket Jelajah Pesisir
- account_circle admin
- calendar_month Selasa, 25 Nov 2025
- visibility 107
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Tanjung Redeb – Pemerintah Kabupaten Berau terus mendorong pengembangan pariwisata melalui konsep paket wisata terintegrasi yang menghubungkan laut, budaya nelayan, dan destinasi unggulan pesisir. Gagasan ini mulai diuji melalui Pilot Trip Paket Wisata Menuju Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) via Pelabuhan Tanjung Batu, yang dilaksanakan 12 November dan berlanjut dengan Focus Group Discussion (FGD) pada 13 November lalu.
Program ini digagas mahasiswa pascasarjana Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) NHI Bandung sebagai proyek lapangan, sekaligus riset pemetaan potensi wisata Berau. Fokusnya membangun model kolaborasi antara pemerintah, masyarakat lokal, dan pelaku usaha wisata. Ketua tim kegiatan, Supriyani, menilai Tanjung Batu memiliki posisi strategis—gerbang menuju Derawan, Maratua, hingga Kakaban—namun belum optimal karena koordinasi wisata dan infrastruktur masih terbatas.“Sinergi pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha perlu diperkuat agar pengelolaan lebih berkelanjutan,” ujarnya.
Rangkaian Pilot Trip: Sejarah, Batik, Kopi, hingga Mangrove
Perjalanan dimulai dari Museum Batiwakkal, tempat peserta mempelajari sejarah Kesultanan Berau. Rombongan kemudian singgah di Galeri Putri Maluang Batik, meninjau proses produksi batik khas Berau dan mendukung penjualan UMKM lokal.
Dari sana, perjalanan bergeser ke Rest Area Parisau Kopi, Kampung Sembakungan. Selain mencicipi kopi lokal, peserta disuguhkan madu kelulut langsung dari sarangnya—contoh wisata berbasis masyarakat yang dinilai potensial dikembangkan. Setelah makan siang, rombongan menikmati tarian pesisir, melihat pembuatan kue sarang semut, lalu mengunjungi sentra batik Sidayang, peluncuran papan informasi wisata, hingga menelusuri kawasan mangrove Tanjung Batu.
Menjelang senja, peserta bergerak ke Kampung Batu-Batu menyusuri sungai untuk menyaksikan bekantan dan kalong yang beterbangan. Perjalanan ditutup dengan sunset di Pulau Besing dan makan malam udang galah di tepian sungai—simbol kuat bahwa wisata pesisir, budaya kampung, dan alam liar bisa dirajut menjadi satu paket wisata.
FGD: Menyatukan Laut, Budaya Nelayan, dan Ekonomi Kreatif
FGD keesokan hari mempertemukan berbagai pihak untuk merumuskan rancangan paket wisata terintegrasi. Pembahasan berkisar peningkatan kapasitas masyarakat wisata, penguatan atraksi budaya nelayan, penyatuan jalur destinasi, hingga strategi promosi.
Rekomendasi dari diskusi ini akan disusun menjadi panduan pengembangan pariwisata berbasis masyarakat dan dirancang agar dapat dipromosikan secara nasional.
Pemerintah: Paket Wisata Jadi Jawaban
Kabid Bina Jasa Usaha dan Ekraf Disbudpar Berau, Nurjatiah, menyebut inisiasi akademisi ini menjawab kebutuhan wisatawan yang kerap menanyakan paket wisata resmi Berau.
“Saya bangga karena kini ada paket wisata yang bisa kami tawarkan,” ujarnya.
Ia menilai pilot trip ini membuka jalur wisata bukan hanya menuju Derawan, tetapi juga kampung pesisir lainnya. Dengan pengembangan paket wisata laut dan budaya nelayan, Berau berharap bisa menonjolkan identitas pariwisata yang tak hanya bertumpu pada pantai dan pulau, tetapi juga kehidupan masyarakat pesisir sebagai daya tarik utama.
- Penulis: admin


Saat ini belum ada komentar