Jadikan Adat sebagai Pilar Wisata, Tradisi Jadi Magnet Baru Pengunjung Wisatawan
- account_circle admin
- calendar_month Selasa, 25 Nov 2025
- visibility 82
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA – Pemerintah Kabupaten Berau menempatkan adat dan budaya sebagai fondasi utama pengembangan pariwisata daerah. Melalui kolaborasi pemerintah dan masyarakat, beragam tradisi leluhur terus dirawat, dipentaskan, dan diangkat kembali sebagai identitas daerah sekaligus daya tarik wisata budaya.
Wakil Bupati Berau, Gamalis, menyebut pelestarian budaya bukan hanya kebanggaan, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap sejarah sosial yang membentuk kehidupan masyarakat hari ini. Ia mengapresiasi seluruh unsur yang terlibat—dinas teknis, kecamatan, lurah, kepala kampung, hingga pegiat adat—yang konsisten menjaga tradisi agar tidak lenyap di tengah derasnya modernisasi.
“Bagi kampung yang belum mengangkat kembali adatnya, mari kita gali dan lestarikan bersama,” ujar Gamalis beberapa waktu lalu.
Di sejumlah kampung, nyala tradisi masih terjaga. Kampung Merasa, misalnya, rutin menggelar pesta adat Meja Panjang sebagai simbol persaudaraan dan kebersamaan warga. Di Kelurahan Sambaliung, denting budaya ditampilkan melalui Festival Abutta Banua, lengkap dengan aneka permainan dan ritual tradisional khas Suku Berau. Sementara di Talisayan, prosesi adat Tulak Bala kembali diselenggarakan pada Agustus lalu sebagai ritual tolak bala yang diyakini membawa keselamatan bagi warga pesisir.
Lebih dari sekadar seremoni, Gamalis menilai kegiatan adat memiliki nilai ekonomi yang besar jika dikemas sebagai agenda wisata. Tradisi seperti Tulak Bala, kata dia, adalah cermin warisan nenek moyang sekaligus peluang promosi destinasi pesisir Berau.
Pelestarian budaya, menurutnya, adalah upaya panjang menjaga identitas daerah agar tetap hidup dan diwariskan lintas generasi. Pemerintah berharap kerja bersama antara komunitas adat, kampung, dan pelaku wisata dapat memperkuat sektor budaya sebagai penopang ekonomi masyarakat.
“Jika adat terjaga, pariwisata tumbuh. Dan ketika pariwisata berkembang, kesejahteraan masyarakat ikut bergerak naik,” ucapnya menutup. (yf/adv)
- Penulis: admin


Saat ini belum ada komentar