Berau Menuju Sentra Wisata Kaltim
- account_circle admin
- calendar_month Sabtu, 8 Nov 2025
- visibility 11
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Tanjung Redeb – Di tengah geliat pembangunan ekonomi pasca-pandemi, Pemerintah Kabupaten Berau menempatkan sektor pariwisata sebagai salah satu lokomotif penggerak ekonomi daerah. Melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar), upaya penguatan destinasi wisata berjalan beriringan dengan pemberdayaan masyarakat dan pelaku ekonomi kreatif, agar manfaat industri ini tak sebatas angka kunjungan, tetapi juga menetes ke dapur warga.
Kepala Disbudpar Berau, Ilyas Natsir, menyebut peningkatan sarana prasarana wisata menjadi pekerjaan paling mendasar. Akses jalan, keamanan, hingga fasilitas penunjang wisatawan disiapkan bertahap, menyesuaikan kemampuan anggaran. Standar layanan yang layak menjadi target, meski diakui belum seluruh titik wisata mendapat sentuhan yang sama.
“Setiap lokasi yang belum lengkap sarprasnya akan kami lengkapi secara bertahap. Ada yang sudah ditangani, tapi banyak juga yang masih menunggu perhatian,” ujar Ilyas.
Terjun Bertahap: Dari Air Terjun Bidadari hingga Long Sam
Langkah peningkatan infrastruktur terlihat di sejumlah destinasi. Air Terjun Bidadari, misalnya, masih kekurangan fasilitas pendukung yang layak untuk wisatawan. Sementara Air Terjun Nyalimah mulai mendapat penanganan sejak awal. Di Kampung Merasa, terutama kawasan Long Sam, pemerintah ikut turun tangan membenahi fasilitas ekowisata dan memberi bantuan kapal wisata. Meski begitu, alat keselamatan tambahan tetap menjadi pekerjaan rumah.
“Bantuan bisa kami fasilitasi, asal syarat administratif dan teknisnya dipenuhi lebih dulu,” imbuhnya.
Promosi Dioptimalkan, Videotron Menyala di Balikpapan
Keterbatasan anggaran tak membuat promosi wisata berhenti. Disbudpar memaksimalkan kanal digital: media sosial, konten kreatif, hingga penempatan videotron promosi. Salah satunya berdiri di Kota Balikpapan—pintu masuk strategis wisatawan ke Kaltim. Strategi ini dianggap efektif menggaet perhatian publik tanpa biaya kampanye besar.
Ekonomi Kreatif Tidak Ditinggal di Belakang
Pariwisata Berau tak ingin berdiri sendirian. Bidang seni pertunjukan, tari tradisional, film, hingga seni rupa turut dirangkul agar tumbuh bersama ekosistem wisata. Sentuhan inovasi menjadi kata kunci, tanpa mengikis akar budaya yang diwarisi generasi.
“Tari-tarian misalnya, tetap dijaga keasliannya tapi juga diberi sentuhan kreatif agar menarik dan relevan,” kata Ilyas.
Baginya, keberhasilan pariwisata bukan semata soal destinasi, tetapi bagaimana masyarakat lokal terlibat sebagai produsen nilai. Produk budaya yang diolah modern dapat menjadi magnet wisatawan, sementara keuntungan ekonomi kembali ke pelakunya—bukan hanya dipungut sebagai tiket masuk.
Menyiasati Keterbatasan
Ilyas tak menutup mata, persoalan anggaran masih menjadi batas langkah. Beberapa event besar terpaksa disesuaikan skala dan waktunya. Namun, ia memastikan proyek inti peningkatan destinasi tetap berjalan.
“Untuk kegiatan promosi dan pembinaan memang ada penyesuaian. Tapi kami tetap berkomitmen menghadirkan event-event yang efisien dan berdampak,” tegasnya.
Pariwisata sebagai Nadi Ekonomi Daerah
Harapan Ilyas sederhana namun besar: kolaborasi. Pemerintah tak bisa berjalan sendirian. Diperlukan peran masyarakat, komunitas, hingga pelaku usaha wisata untuk menjadikan pariwisata Berau lebih berdaya guna. Jika seluruh pihak bergerak dalam ritme yang sama, ia optimistis sektor ini mampu mengangkat Pendapatan Asli Daerah (PAD) serta menjadi sumber ekonomi baru masyarakat.
“Kalau semua kompak dari pemerintah, masyarakat, hingga pelaku wisata, saya yakin sektor ini bisa menjadi penggerak utama ekonomi daerah,” tutupnya.
Pariwisata bukan lagi hanya soal panorama dan katalog destinasi. Di Berau, ia mulai dipahat sebagai ruang hidup—tempat dimana budaya dipelihara, kreativitas tumbuh, dan ekonomi bergerak bersama denyut masyarakatnya. (yf/adv)
- Penulis: admin


Saat ini belum ada komentar