TANJUNG REDEB – Upaya panjang menginventarisasi keragaman geologi di Kabupaten Berau akhirnya berbuah hasil. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) resmi menetapkan wilayah ini sebagai salah satu situs warisan geologi Indonesia—langkah penting menuju status taman bumi atau geopark yang selama ini diusulkan bersama Karst Sangkulirang–Mangkalihat.

Proses pengusulan yang dimulai sejak 2019 ini melibatkan Pemprov Kaltim, Pemkab Berau dan Kutai Timur, serta dukungan ilmiah dari Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN). Setiap tahun dilakukan inventarisasi geologi, kajian pendukung, hingga penyusunan berkas teknis yang akhirnya melahirkan keputusan Menteri ESDM pada 2024.

Sebelumnya, kawasan karst yang memiliki nilai arkeologi dan geodiversitas tinggi ini pernah diajukan sebagai calon UNESCO Global Geopark (UGGp) pada 2016. Saat ini, baru 12 kawasan di Indonesia yang menyandang status tersebut, dan yang terdekat dengan Kalimantan Timur adalah Taman Bumi Meratus di Kalimantan Selatan.

Penetapan sebagai taman bumi membawa implikasi luas. Mulai dari pengakuan budaya dan perlindungan kawasan karst, hingga peningkatan daya tarik wisata berbasis pendidikan dan riset ilmiah. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) bahkan menilai keberadaan taman bumi mampu menjawab sedikitnya 11 hingga 14 dari 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

Kepala Dinas Pariwisata Kaltim, Ririn Sari Dewi, menyampaikan bahwa pembangunan ekowisata telah menjadi salah satu strategi utama dalam mendukung usulan Geopark Karst Sangkulirang–Mangkalihat. Kampung Merabu—yang berada di salah satu titik paling spektakuler bentang karst—ditetapkan sebagai kawasan prioritas pengembangan wisata ramah lingkungan.

“Pengembangan wisata Merabu sudah kami masukkan ke dalam RPJMD. Rencana pembangunan track menuju Goa Beloyot juga telah selesai,” ujar Ririn.

Pembangunan jalur menuju Goa Beloyot menjadi perhatian utama karena kondisi medan yang dipenuhi jalur berair. Dari total lima kilometer perjalanan dari Kampung Merabu, terdapat beberapa titik yang memerlukan track atau jembatan kayu agar akses lebih aman dan layak bagi wisatawan.

Jika pembangunan jalur ini rampung tahun depan, angka kunjungan wisatawan diperkirakan melonjak signifikan. Goa Beloyot telah lama dikenal di dunia arkeologi internasional sejak ditemukannya jejak peradaban manusia purba pada 1990-an. Akses yang lebih baik diyakini menjadi katalis bagi perkembangan wisata edukasi dan riset di Berau.

Dengan status taman bumi yang semakin dekat, Karst Sangkulirang–Mangkalihat berpotensi menjadi ikon geopark Indonesia berikutnya—mengangkat Berau tidak hanya sebagai destinasi wisata alam, tetapi juga sebagai pusat konservasi dan pengetahuan geologi dunia.(adv/akm)