Kursi Pelatihan Dikurangi, Minat Warga Berau Belajar Kelola Perpustakaan Justru Naik
- account_circle admin
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 12
- print Cetak

BERAU – Pemangkasan anggaran tahun ini ikut menyeret sejumlah program Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kabupaten Berau. Beberapa kegiatan harus disesuaikan, sebagian lain dikurangi. Namun satu agenda tetap dipertahankan: pelatihan pengelolaan dasar perpustakaan, meski digelar dengan fasilitas serba terbatas.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Berau, Rabiatul Islamiah, menjelaskan bahwa penyesuaian dilakukan terutama pada pos hadiah dan kelengkapan kegiatan.
“Yang jelas pasti ada pengurangan karena kita menyesuaikan dengan anggaran yang ada. Tetapi kegiatan tahunan seperti pelatihan tetap kita laksanakan,” ujarnya pada saat dilansir dari It-news.id Rabu (20/05/2026).
Jika pada tahun-tahun sebelumnya pelatihan bisa menampung sekitar 100 peserta, tahun ini jumlah itu terpaksa dipangkas. Ironisnya, ketika kursi dikurangi, minat masyarakat justru melonjak.
“Pelatihan pengelolaan dasar perpustakaan yang baru kami laksanakan ternyata peminatnya sangat banyak. Bahkan dari jumlah yang kami tentukan, masih banyak yang ingin ikut,” katanya.
Rabiatul mengakui, keterbatasan anggaran membuat Dispusip harus kreatif mengatur fasilitas, terutama bagi peserta tambahan yang tidak masuk dalam perencanaan awal. Konsekuensinya, tidak semua peserta mendapat hak yang sama seperti yang sudah teranggarkan.
“Kami sampaikan konsekuensinya mungkin tidak sama dengan peserta yang memang sudah teranggarkan, misalnya terkait konsumsi. Tetapi mereka tetap ingin ikut dan itu menjadi kebanggaan bagi kami,” tuturnya.
Menurut Rabiatul, lonjakan minat mengikuti pelatihan perpustakaan tak lepas dari kebutuhan peningkatan kompetensi aparatur maupun pengelola perpustakaan. Sertifikat pelatihan kini menjadi salah satu dokumen yang dibutuhkan dalam sistem MyASN dan berpengaruh terhadap tunjangan kinerja.
Meski begitu, ia menekankan bahwa orientasi utama kegiatan bukan sekadar berburu sertifikat. Dispusip Berau, kata dia, ingin menjadikan pelatihan sebagai pintu masuk untuk menguatkan peran perpustakaan dan menumbuhkan budaya baca.
“Dengan hati tulus dan ikhlas, bukan hanya karena mengejar piagam, tetapi karena ingin memberdayakan dan membumikan perpustakaan agar minat baca masyarakat meningkat,” ungkapnya.
Rabiatul tidak menutup mata bahwa perhatian terhadap perpustakaan, terutama di tingkat kampung dan sekolah, masih jauh dari ideal. Namun melalui pelatihan dan pendampingan yang rutin dilakukan, ia mulai melihat ada perubahan: masyarakat lebih tertarik mengelola perpustakaan secara serius.
Ia menambahkan, membaca buku memberikan dampak berbeda dibanding sekadar menyimak informasi singkat di layar gawai. Menurut dia, penyerapan pengetahuan dari buku cenderung lebih kuat dan bertahan lama.
“Kalau membaca buku itu biasanya lebih melekat di pemikiran kita. Berbeda kalau hanya membaca sekilas melalui handphone,” pungkasnya. (tnr)
- Penulis: admin
