TANJUNG REDEB – Upaya hilirisasi Sumber Daya Alam (SDA) kembali diperkuat Pemerintah Kabupaten Berau. Di Kampung Giring-Giring, Kecamatan Biduk-Biduk, komoditas unggulan kelapa dalam kini tidak lagi sekadar dijual sebagai bahan mentah, tetapi mulai diolah menjadi produk sabun lokal berlabel La Bello.

Melalui Badan Usaha Milik Kampung (BUMK), masyarakat Giring-Giring mulai membangun industri kecil berbasis komoditas kampung, sekaligus membuka peluang baru bagi sektor UMKM dan ekonomi kreatif pesisir. Diskoperindag Berau yang meninjau langsung gedung produksi mengaku melihat perkembangan positif dari inisiatif ini.

Kepala Diskoperindag Berau, Eva Yunita, menegaskan bahwa pihaknya siap memberikan pendampingan penuh agar rumah produksi sabun dapat segera beroperasi begitu izin dari BPOM diterbitkan.

“Saat ini mereka sedang menunggu keluarnya izin dari BPOM. Kami siap membantu dalam proses pendampingan, baik produksi, kemasan, maupun pemasarannya,” jelasnya.

Eva berharap produksi sabun La Bello dapat memenuhi kebutuhan lokal terlebih dahulu, terutama untuk penginapan dan resort di wilayah Biduk-Biduk, sebelum nantinya dipasarkan lebih luas.

“Ini adalah hilirisasi dari salah satu produk unggulan Berau, yaitu kelapa dalam. Kita ingin nilainya naik dan manfaatnya kembali ke masyarakat kampung,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Kampung Giring-Giring, Sarlina, menyampaikan bahwa gedung BUMK telah direhabilitasi menjadi ruang produksi sabun sesuai standar. Namun masih ada beberapa kelengkapan yang harus dipenuhi, seperti pemasangan wastafel dan alat produksi tambahan.

Ia mengakui bahwa proses memperoleh izin BPOM cukup panjang dan membutuhkan detail teknis yang ketat.

“Harapannya tahun ini semua selesai, sehingga 2026 sudah bisa produksi. Masih ada beberapa detail yang harus dipenuhi sesuai standar BPOM,” ungkapnya.

Saat ini, pemerintah kampung tengah menyusun SOP produksi, sekaligus menginventarisasi kebutuhan peralatan. Banyak alat yang digunakan masih merupakan milik pribadi anggota kelompok, sehingga diperlukan dukungan alat khusus.

“Kami butuh blender khusus dan peralatan lainnya. Dinas terkait siap membantu kebutuhan teknis kami,” ujar Sarlina.

Ia juga menekankan bahwa pelatihan SDM sangat diperlukan agar kelompok produksi kembali siap dan memiliki kompetensi memadai.

“Karena sudah lama tidak berproduksi, kami berharap ada pelatihan lagi untuk meningkatkan keahlian pengelola sabun,” tutupnya.

Diskoperindag Berau memastikan komitmen untuk mendampingi proses hilirisasi kelapa dalam ini hingga berjalan mandiri. Kelompok usaha telah terbentuk, tinggal melengkapi administrasi seperti akta notaris BUMK, sebelum produksi bisa berjalan penuh.

Dengan dorongan ini, Pemkab Berau berharap industri sabun lokal dari Kampung Giring-Giring dapat berkembang sebagai ikon baru ekonomi kreatif pesisir, sekaligus menjadi bukti keberhasilan hilirisasi komoditas daerah. (Adv/yf)