daerah. Padi Gogo Jadi Komoditas Strategis Berau, Optimalisasi Lahan Perkebunan Dorong Ketahanan Pangan dan Ekonomi Kampung
- account_circle admin
- calendar_month Jumat, 5 Des 2025
- visibility 76
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
BERAU — Pemerintah Kabupaten Berau resmi mengangkat padi gogo sebagai komoditas strategis untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi kampung-kampung yang berada di kawasan perkebunan. Melalui Dinas Perkebunan (Disbun), pemkab menyiapkan pemanfaatan 300 hektare lahan pada area kelapa sawit dan kakao untuk ditanami padi gogo sebagai sistem tumpangsari.
Langkah ini selaras dengan kebijakan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur yang mendorong peningkatan produksi pangan berbasis lahan non-irigasi, terutama di wilayah pedalaman yang memiliki potensi lahan luas dan kelompok tani aktif.
Kepala Disbun Berau, Lita Handini, menjelaskan bahwa padi gogo dipilih karena kemampuannya beradaptasi di lahan perkebunan tanpa perlu mengubah struktur lahan secara signifikan.
“Padi gogo memiliki karakter yang memungkinkan tumbuh di sela tanaman perkebunan. Ini menjadi peluang bagi petani untuk menambah hasil panen dari lahan yang sama,” ujarnya.
Untuk mendukung pengembangan padi gogo, pemerintah mempersiapkan bantuan budidaya mulai dari benih unggul, pupuk bersubsidi, pendampingan teknis, hingga sarana lapangan. Pemerintah pusat juga menyalurkan dukungan berupa benih tambahan, herbisida, dan pestisida yang langsung didistribusikan ke kelompok tani.
Dengan ketersediaan sarana produksi yang lengkap, petani diharapkan bisa fokus pada proses budidaya sambil meningkatkan kapasitas melalui pendampingan lapangan.
Program ini diarahkan pada empat kecamatan yang dinilai paling siap, yakni Gunung Tabur, Tabalar, Teluk Bayur, dan Kelay—wilayah yang memiliki kombinasi lahan produktif, kelompok tani aktif, dan kedekatan dengan pusat kegiatan perekonomian kampung.
“Kami memilih wilayah yang lahannya produktif dan kelompok taninya telah terbiasa mengelola komoditas perkebunan,” kata Lita.
Ia menegaskan bahwa padi gogo berpotensi menjadi tulang punggung ketahanan pangan di daerah tanpa jaringan irigasi teknis. Selain itu, pola tumpangsari dengan perkebunan membuka peluang pendapatan tambahan, memperkuat ketahanan ekonomi keluarga petani, hingga mendorong berkembangnya UMKM berbasis hasil tani di kampung.
“Ketika petani bisa memperoleh hasil lebih banyak dari lahan yang sama, manfaat ekonominya langsung dirasakan. Itu yang ingin kita dorong,” tegasnya.
Dengan strategi ini, Berau berharap padi gogo tidak hanya menjadi komoditas pangan alternatif, tetapi juga pendorong investasi hijau, penguatan ekonomi kampung, serta bagian dari transformasi sektor perkebunan menuju sistem yang lebih produktif dan berkelanjutan.
(Adv/Akm)
- Penulis: admin


Saat ini belum ada komentar