Disdik Berau Dorong Pelajar Jadi Penulis Muda: 300 Karya Baru Lahir, Buku Menyusul Terbit
- account_circle admin
- calendar_month Senin, 24 Nov 2025
- visibility 26
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Tanjung Redeb — Gerakan literasi di Bumi Batiwakkal kembali mendapat panggung besar. Dinas Pendidikan Kabupaten Berau menggelar Festival Literasi kedua tahun ini, diikuti sekitar 300 pelajar dengan beragam kompetisi menulis dan berkarya. Ajang ini tak hanya menjadi ruang apresiasi, tetapi juga langkah memperkuat budaya literasi sejak dini.
Kepala Dinas Pendidikan Berau, Mardiatul Idalisah, mengatakan festival lanjutan ini meneruskan semangat tahun sebelumnya yang berhasil melahirkan sekitar 3.000 karya. “Sejak 22 November, festival literasi kembali digelar. Kami ingin semangat itu tumbuh terus, memberi ruang bagi anak-anak untuk berkarya,” ujarnya.
Dalam festival tahun ini, pelajar menghadirkan enam bentuk karya—mulai dari pantun, puisi, cerpen, komik, poster hingga naskah drama. Sejumlah lomba digelar dalam format individu maupun kelompok, memungkinkan siswa menemukan ruang ekspresi yang lebih luas. Karya terbaik jenjang SD dan SMP dipamerkan di lokasi kegiatan, menarik perhatian pengunjung yang datang.
“Ada 50 pantun yang dibuat oleh lima anak. Itu akan terus kami bacakan dalam berbagai pertemuan sebagai bentuk apresiasi,” ucapnya.
Mardiatul menegaskan bahwa literasi harus menjadi identitas pembelajaran, bukan sekadar agenda tahunan. Kebiasaan menulis menurutnya harus melekat pada peserta didik agar tumbuh kreativitas sekaligus daya kritis generasi muda. “Festival ini kami harap mendorong partisipasi aktif siswa dan guru dalam melahirkan karya baru. Literasi adalah pondasi pendidikan di Berau,” tegasnya.
Bupati Apresiasi, Pemerintah Perkuat Budaya Membaca
Bupati Berau, Sri Juniarsih, hadir memberi apresiasi bagi karya-karya pelajar yang ditampilkan. Pemerintah daerah, kata dia, tengah membangun ekosistem masyarakat yang gemar membaca sekaligus memproduksi karya. Literasi, imbuhnya, bukan hanya tugas dinas pendidikan dan perpustakaan daerah—melainkan tanggung jawab kolektif semua pihak.
“Kami ingin sumber daya manusia unggul melalui pelayanan pendidikan berkualitas. Masyarakat yang terbiasa membaca dan menulis akan tumbuh kritis dan mengambil peran lebih besar dalam pembangunan daerah,” katanya.
Berau saat ini mencatat sejumlah prestasi literasi tingkat provinsi. Perpustakaan SDIT Madani meraih Juara I Gebyar Anugerah Literasi Kalimantan Timur, disusul Perpustakaan Surung Barintak SMPN 3 Tanjung Redeb yang meraih Juara II tingkat provinsi pada Oktober lalu. “Prestasi ini bukti dedikasi guru dan pustakawan menghidupkan budaya baca di sekolah,” ujar Bupati.
Ia berharap capaian tersebut menjadi pemicu bagi sekolah lain agar memperluas akses baca—baik melalui penambahan koleksi buku, penyediaan pojok baca publik, hingga pemanfaatan teknologi untuk akses literasi yang lebih mudah.
Tahun ini, Unjuk Karya P5 menjadi salah satu pusat perhatian. Beragam karya pelajar tidak hanya menunjukkan kemampuan akademik, tetapi juga karakter Pelajar Pancasila yang dibangun melalui kreativitas.
Festival Literasi Berau tahun ini menjadi bukti bahwa budaya membaca dan menulis masih tumbuh, dan kini sedang dipersiapkan untuk naik satu tahap: menerbitkan buku karya pelajar Berau sebagai rekam jejak pemikiran generasi muda daerah. (yf/adv)
- Penulis: admin


Saat ini belum ada komentar