Festival Kuliner Jadul, Jalan Baru Merawat Warisan Rasa dan Menggerakkan UMKM Berau
- account_circle admin
- calendar_month Kamis, 27 Nov 2025
- visibility 84
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TANJUNG REDEB — Di antara ramainya tren kuliner kekinian, Berau masih memiliki sesuatu yang lebih dalam dan lebih hangat untuk ditawarkan: jajanan tempo dulu. Kue yang pernah memenuhi meja kayu nenek, manisnya yang sederhana, hingga aroma masa kecil yang tiba-tiba kembali. Dan bagi Elita Herlina, Anggota Komisi II DPRD Berau, warisan rasa itu tak boleh hilang begitu saja.
Menurut Elita, salah satu cara menjaga napas jajanan tradisional adalah dengan membuat festival kuliner tematik—bukan sekadar pasar makanan, melainkan ruang temu antara generasi yang pernah mencicipi kenangan dan generasi yang baru mengenalnya lewat gigitan pertama.
“Festival kuliner jangan hanya sekali-kali. Buat konsep yang unik, khusus jajanan jadul, agar pelaku UMKM punya panggung dan warisan ini tidak hilang,” ucapnya.
Festival seperti itu, menurutnya, tak hanya memperpanjang umur kuliner jadul. Ia juga bisa menjadi gerbang promosi wisata, ruang belajar cita rasa, sekaligus arena UMKM memamerkan kreativitas. Kue cucur, onde-onde hitam, putu ayu lawas—atau penganan yang bahkan namanya mulai dilupakan—bisa kembali hidup, kembali dicari.
Elita menyadari masih banyak jajanan warisan nenek moyang yang diproduksi, tapi perlahan meredup karena tersisih makanan modern. Di sinilah peran pemerhati budaya, komunitas, hingga pemerintah diperlukan—mengawal, memfasilitasi, dan memberi ruang bagi para pembuat rasa tradisi.
“Aneka jajanan jadul harus dilestarikan. Jangan sampai punah karena perkembangan zaman,” katanya.
Lebih dari sekadar urusan rasa, kuliner jadul menyimpan cerita—tentang keluarga, kampung halaman, masa kecil yang sederhana. Festival kuliner, bagi Elita, bukan hanya ajang jual beli, melainkan perjalanan nostalgia.
Mereka yang sudah sepuh mungkin akan tersenyum saat mencium wangi kue yang pernah temani masa mudanya. Anak muda pun bisa belajar bahwa kenangan juga bisa disajikan di atas piring.
Dan lewat piring itu pula, UMKM Berau dapat bergerak maju, menjadi tombak ekonomi kampung dan daerah. Karena kadang kemajuan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang baru—tetapi dari sesuatu yang berhasil dipertahankan. (yf/adv)
- Penulis: admin


Saat ini belum ada komentar