TANJUNG REDEB – Pulau Maratua di Kabupaten Berau selama ini dikenal sebagai destinasi wisata kelas dunia. Namun di balik pesonanya, sektor pertanian lokal menghadapi tantangan berat: akses terhadap pupuk kimia yang mahal dan sulit dijangkau. Kondisi tersebut membuat banyak petani kesulitan meningkatkan produktivitas, ditambah persoalan hama serta tanah yang kurang subur.

Namun situasi perlahan berubah. Setelah mendapat pelatihan dari Tim Dosen Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun lalu, masyarakat kini mulai beralih ke teknik budidaya yang lebih mandiri dan ramah lingkungan. Mereka memproduksi pupuk cair organik, media tanam, dan pestisida hayati menggunakan bahan-bahan lokal yang melimpah—mulai dari daun pepaya, air kelapa, hingga limbah ikan.

Pendekatan ini bukan hanya menjawab keterbatasan pupuk kimia, tetapi membuka peluang investasi baru dalam sektor pertanian berkelanjutan. Transformasi ini memperlihatkan bagaimana ilmu dan teknologi dapat mengubah tantangan menjadi potensi ekonomi lokal.

Pelatihan tersebut juga disertai pendampingan untuk pengembangan demplot dan instalasi hidroponik baru. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya belajar membuat pupuk organik, tetapi juga memahami pola tanam modern yang dapat diterapkan dalam skala usaha.

Sekretaris Desa Maratua, Mirna, menilai perubahan ini menjadi titik awal kebangkitan sektor pertanian di wilayahnya. “Kami berharap pelatihan ini memotivasi masyarakat agar lebih semangat bertani dan memandang pertanian sebagai sarana pemenuhan gizi keluarga,” ujarnya.

Antusiasme masyarakat, khususnya ibu-ibu PKK Kampung Payung-Payung, memperlihatkan bahwa program ini tidak sekadar meningkatkan keterampilan, tetapi juga memperluas peluang usaha baru. Dengan kemampuan mengolah pupuk dan pestisida hayati secara mandiri, biaya produksi menurun dan potensi usaha mikro mulai terbuka.

Bagi investor, perkembangan ini memperlihatkan adanya peluang investasi hijau (green investment) di Maratua—mulai dari pengembangan pertanian organik, produksi pupuk hayati skala UMKM, hingga pengelolaan hasil pertanian hidroponik untuk pasar wisata maupun ekspor.

Dengan fondasi pengetahuan dan kemandirian yang dibangun, Maratua bergerak menuju model pertanian mandiri yang mendukung ketahanan pangan sekaligus menciptakan ruang investasi berkelanjutan di masa depan. (adv/yf)